Bintang Zaman

A.R. Fachruddin (4): Tak Kuat Dekat-Dekat Penguasa

Pada muktamar Muhammadiyah ke42, 1990, di Yogyakarta, A.R. Fachruddin mengakhiri jabatannya sebagai ketua PP Muhammadiyah, setelah  memimpin organisasi ini sejak tahun 1968. Waktu itu banyak warga Muhammadiyah yang ingin mempertahankannya. Namun ia tetap tak ingin dipilih kembali. “Dia orang yang ikhlas dan berjiwa besar, menyerahkan kedudukannya kepada generasi penerus,” kata Buya Ismail Hasan Metareum, waktu itu ketua umum DPP Partai Persatuan Pembangunan, yang juga berteman dekat dengan Pak AR. Toh sejarah mencatat, A.R. Fachruddin adalah orang nomor satu Muhammadiyah paling lama: 22 tahun. Rekor yang tak mungkin terpecahkan, karena ketua umum PP Muhammadiyah sekarang dibatasi hanya dua periode, alias 10 tahun.

Prof. KH Achmad Azhar Basyir, dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, kemudian yang meneruskan kepemimpinan Pak AR. Namun, dua tahun kemudian, pada 1992, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu meninggal dunia. Warga Muhammadiyah kembali meminta Pak AR untuk memimpin persyarikatan. Tapi apa kata dia, “Biar generasi yang lebih muda yang memimpin.” Maka tampillah Dr. M. Amien Rais sebagai penerus Kiai Achmad Basyir.

Bagi Pak AR mundur dari jabatan struktural, yang menjanjikan banyak fasilitas, bukan sesuatu yang baru. Pada pertengahan 1940-an di Desa Banaran, Galur, Kulon Progo, ia dicalonkan menjadi kepala desa. Ternyata dalam pemilihan ia meraih suara terbanyak dari dua calon lainnya. Bupati waktu itu kemudian meneliti dan menanyakan soal kesediaan mereka seandainya ditunjuk menjabat kepala desa. Peraih suara terbanyak ketiga ditanya terlebih dulu, dan dia menjawab bersedia. Begitu pula dengan peraih suara banyak kedua, yang notabene adalah kakak iparnya. Mengetahui hal itu, A.R. Fachruddin mengambil keputusan menarik diri dan tidak bersedia menjadi kepala desa. “Menurut dia lebih baik kalau ia tidak menjadi kepala desa. Biar kakak iparnya saja yang memang menginginkan jabatan itu,” kata M. Sukriyanto, putranya.

Di pentas politik praktis, ketika partai semarak bertebaran pada pemilu pertama tahun 1955, yang waktu itu aktif di Partai Masyumi, terpilih menjadi anggota DPRD Yogyakarta. Dan bahkan kemudian menjabat ketua Fraksi Masyumi di dewan perwakilan rakyat daerah itu. Tapi di tengah kemudian ia rela mengundurkan diri karena ada imbauan dari pimpinan partai agar memberikan kesempatan kepada yang lain. Padahal anggota yang lain yang semula bersedia mundur, kemudian mengurungkan niatnya.

Suatu ketika, pada 1965, KH Achmad Badawi, ketua PP Muhammadiyah yang dekat dengan Bung Karno, mendatanginya dan menawari Pak AR untuk menjadi imam masjid Istana Presiden di Jakarta. Waktu itu ia tinggal di Semarang dan menjabat kepala Jawatan Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Waktu itu Presiden Soekarno baru selesai membangun Masjid Baiturrahim yang berada di lingkungan Istana, dan tengah mencari siapa yang layak dan bersedia menjadi imam masjid.

Namun, ternyata Pak AR menolak tawaran itu.Menurut Sukriyanto, itu karena Pak AR tak mau dekat-dekat dengan kekuasaan. “Saya ini lemah. Kalau dekat-dekat penguasa tidak baik,” katanya, seperti ditirukan Sukri.    

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  16 September 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda