Tafsir

Tafsir Tematik: Takwa yang Bagaimana (4)

Written by Panji Masyarakat

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai muslim (Q. 3:102)

Pemahaman Syi’ah

Adapun “tingkat-tingkat takwa” itu datang dari Thabathaba’i sendiri. Mufasir ini bermaksud memasukkan kepercayaan bahwa “sebenar-benar takwa” dalam arti “menaati Allah dan tidak membangkang, mensyukuri-Nya dan tidak kufur, dan selalu ingat, tidak pernah lupa”, yang dikatakan Rasyid Ridha sebagai “pembebanan sesuatu di luar kemampuan”, dan itu tidak ada dalam Islam, bisa diwujudkan, tapi hanya oleh “orang-orang top”.

Menurut Thabathaba’i, pengertian “sebenar-benar takwa” sepert itu memang tidak bisa ditarik dari ayat “Bertakwalah kepada Allah sepanjang kalian mampu”. Sebab kemampuan manusia bertingkat-tingkat. Sering, satu tahap dari sekian tahapan takwa orang-orang spesial itu tidak cocok dengan pemahaman umum, yang lalu menganggap tahapan itu mustahil – sementara orang-orang puncak itu justru acap meninggalkan ukuran umum untuk “menghadapi, dengan minat besar mereka, hal-hal yang lebih berat dan lebih sukar”. (Lih. Thabataba’i, III: 405).

Kata-kata seperti itu sudah sering kita dengar dari kalangan dekat tasawuf. Hanya saja di dalam Syi’ah, berbeda dengan dalam tasawuf, penanaman keyakinan seperti itu (gerak sebaliknya dari yang ditempuh oleh kaum tajdid alias “pembaruan”, yang mendakwahkan egalitarianisme keagamaan) diperlukan untuk mendukung sistem keimanan dengan figur-figur puncak yang tidak mungkin berbuat dosa, keliru, maupun lupa, yang dijadikan salah satu dari lima rukun iman mereka.

Thabataba’i menukilkan riwayat dari seorang bernama Abdu Khair, yang dikatakan bertanya kepada Ali ibn Abi Thalib r.a. mengenai ayat “sebenar-benar takwa” itu. Jawab Saidina Ali, “Demi Allah tidak ada yang mengamalkannya kecuali bait Rasulullah. Kami mengingat-Nya, tidak melupakan-Nya…” dan seterusnya. (Thabataba’i, III: 416).

Bait dalam kutipan di atas adalah ahlul bait (keluarga) Nabi s.a.w., yang oleh kaum Syi’ah diberi pengertian hanya sebagai Ali, Fathimah, putra mereka, Hasan dan Husein, r.a., dan keturunan Husain. Dugaan bahwa ucapan Saidina Ali ini dibuat belakangan didasarkan pada pemakaian ungkapan “ingat dan tidak lupa” dan seterusnya itu, yang sudah lebih dulu populer. Andaikata Ali sendiri pernah mengucapkannya, tidak boleh tidak semua tafsir di luar Syi’ah akan mencatatnya dengan girang.

Juga ucapan “tidak ada yang mengamalkannya kecuali bait Rasulullah” tergolong asing. Selain pernyataan itu tentu saja tidak mengandung kebenaran, tidak pernah sebuah kitab hadis atau tafsir di kalangan Islam percaya bahwa dari Ali r.a. bisa keluar sebuah kalimat yang meninggikan diri atau kaum sendiri, yang justru menunjukkan bahwa yang mengucapkannya bukan orang takwa.[]      

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Panji Masyarakat, 17 Juni 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda