Pengalaman Religius

Shahnaz Haque (1): Allah Itu Maunya Apa, Sih?

Dulu, saya suka protes kepada Tuhan. Ini terjadi pada 1991. Allah seperti hendak mencabut kebahagiaan saya.

Maklum. Saya melalui masa kecil dengan bahagia. Nayaman sekali. Apalagi saya anak terkecil dari tiga bersaudara, yang usia dengan dua kakakku jauh (dua kakaknya adalah Marissa Haque dan Soraya Haque, red). Jadi, layaknya saya raja, eh ratu, kecil di rumah.

Tapi pada tahun 1991 ibu saya divonis mengidap kanker ovarium stadium tinggi. Ibu hanya bertahan tiga bulan. Akhirnya beliau meninggal dunia. Tidak ada tanda-tanda aneh. Jiwa saya langsung goyang. Luar biasa. Ini saya rasakan sebagai cobaan hidup  pertama saya. Betapa tidak. Ibu adalah sahabat saya, teman debat saya, teman bertanya untuk urusan pacar. Juga teman berantem saya. Pokoknya lengkaplah.

Waktu itu kuliah saya (Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, red) baru masuk semester empat. Saya merasakehilangan sebagian jiwa saya, karena ibu pegangan hidup saya. Ya, sebetulnya sampai sekarang juga masih. Dan itu tidak bisa terobati. Tetapi saya berusaha untuk tetap bertahan.

Kemudian pada tahun 1998 saya terindentifikasi penyakit yang sama dengan almarhumah Ibu. Tetapi, alhamdulillah, masih dalam stadium dini. Jadi, masih bisa tertolonglah. Sejak itu saya terus memohon: “Allah jangan ya, saya jangan diapa-apain.” Diapa-apain, maksudnya jangan dioperasi. Eh, diapa-apain juga. Dioperasi, diangkat ovarium yang satu karena ovarium tidak bia ditolong. Sudah tertutup tumor yang ganas itu. Kalau nyawanya mau diselamatkan, ya, angkat semua. Demikian kata dokter. Proses operasi itu dilakukan pada tahun 1999.

Pada Maret 2000 giliran Ayah yang dipanggil Allah. Padahal saya lagi mesta-mesranya dengan beliau. Maklum, karena dulu waktu dekat dengan Ibu, saya merasa tidak membutuhkan Ayah. Nah, belakangan saya baru mengerti kalau Ayah bisa menggantikan posisi Ibu. Kami seperti pacaran. Nonton ke bioskop berdua. Makan bareng berdua. Ketawa-ketawa. Eh, kok ya, meninggal lagi.

Ayah sudah menderita sakit sejak lama. Kondisinya semakin turun saat saya juga sedang sakit. Sejak saya diidentifikasi kena kanker, Ayah rajin salat tahajud. Setiap malam dia berdoa. “Allah, saya tidak kuat kalau anak saya Engkau ambil. Kalau mau, ambil saya saja.” Kira-kira begitu Ayah berdoa.

Ternyata benar. Allah mengabulkan doanya. Betapapun, kepergian Ayah merupakan hantaman besar bagi saya. Tiga peristiwa besar yang berpengaruh bagi jiwa saya itu. Kematian Ibu, ketika saya divonis kanker dan harus operasi, dan meninggalnya Ayah. Bagi saya sungguh luar biasa.

Padahal saya merasa sudah sembahyang.  Masih juga diberi cobaan. Sudah puasa, sudah ini, sudah itu. Allah itu maunya apa, sih?  Jadi, kalau misalnya Allah punya meja kerja, mungkin sudah penuh dengan surat protes saya. Katanya malaikat saja mempertanyakan waktu Allah hendak menciptakan Adam, masak saya nggak boleh bertanya. Tapi di situ saya juga berpikir. Sekarang Allah lagi kasih hadiah tapi seabrek.

Bulan Desember di tahun yang sama, Gilang (Gilang Ramadhan, musikus, putra sastrawan Ramadhan KH) masuk dalam kehidupan saya. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah. Saya tidak punya orangtua lagi. Saya tidak tahu ini laki-laki baik atau tidak. Kalau memang laki-laki ini ditakdirkan baik untuk kehdupan saya kelak, maka dipermuhahlah. Tapi kalau tidak, persulitlah.

Bersambung

Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 13-25 Desmber 2002   

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda