Mutiara

Raja Muda Yang Menceraikan Dunia

Written by A.Suryana Sudrajat

Mengabadikan proritas dalam berbuat baik termasuk kejahatan. Ghazali akhirnya meninggalkan rumah ibadahnya

Seorang raja muda, berpengetahuan luas, bijak, dan adil. Sahibul hikayat tidak menyebut kapan dan di mana dia memerintah. Hanya tiba-tiba dia meninggalkan kerajaan, bergabung dengan para sufi. Kerjanya cuma beribadah, dan sangat benci dunia. Kabar ini sampai juga ke sahabatnya yang memerintah negeri jiran. Dia rupanya tidak senang, dan segera berkirim surat. Katanya: “Kamu  meninggalkan kerajaan dan memilih hidup di kalangan para zahid. Aku jadi penasaran mengapa kamu memilih jalan ini. Sebab kalau itu memang yang terbaik, tentu aku akan mengikuti jejakmu. Jangan hanya kamu dong, yang beroleh bahagia. Tolong segera balas. Beri aku jawaban yang memuaskan.”

Waba’du, tulis sang mantan raja dalam balasannya. “Ketahuilah sobatku. Kita semua ini makhluk Allah, dikirim ke dunia ibarat tentara yang yang diberangkatkan ke medan perang. Maksudnya tentu supaya kita menang. Nah, ketika kita berhadapan dengan musuh, kita akan terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok pengecut. Mereka meyakini musuh lebih kuat, dan sudah merasa bakal kalah. Lebih baik mereka menghindar mencari jalan selamat.

Kedua, golongan nekat. Terlalu amat berani, padahal mereka tidak tahu muslihat perang, sehingga belum lama bertempur, mereka sudah jatuh dalam perangkap.

Terakhir, orang-orang berani dan arif. Mereka mengenal muslihat, dan dapat menghadapi musuh dengan sabar. Berperang, luka, dan sembuh, terus berperang lagi sampai menang. Orang inilah yang paling bahagia. Kemenangannya berarti. Adapun saya, setelah saya berpikir-pikir, termasuk golongan pertama. Saya lemah: sebelum kalah, sudah menninggalkan gelanggang. Saya tidak ingin mengajak kamu meninggalkan medan, dan akan berbahagia jika kamu masuk golongan ketiga. Sebab itulah semulia-mulai orang pandangan Allah.”

Syahdan, suatu hari Abu Bakr ibnu Arabi berjumpa dengan Imam Ghazali . Tampang Imam sungguh tidak keruan: berjalan pakai tongkat, beju penuh tambalan, dan di bahunya menggantung tempat minum. “Sebelumnya aku pernah melihatnya di Bagdad, dalam sebuah majelis. Di sana ada 400 tokoh dan orang terhormat mengikuti pengajarannya. ‘Imam, bukankah mengajar dii Bagdad lebih baik daripada kondisi di sini?’ tanyaku. Imam melotot, marah. Toh menjawabnya juga:

Ketika pertama kebahagiaan muncul di langit cita-cita

Aku tinggalkan cinta kepada Laila

 dan kebahagiaan di tempat yang sepi

Aku kembali membenahi rumahku pertama

Tiba-tiba kerinduan memanggil-manggilku

Kemari!

Inilah rumah-rumah orang bercinta, singgahlah!

Benar, Al-Ghazali waktu itu sedang beruzlah. Ia menjauh dari negeri yang penuh kepalsuan, berpaling dari harta dan pangkat, dan lari dari kesibukan serta segala macam keterikatan. Padahal waktu itu dia sedang di puncak ketenaran, banyak mendapat pujian, dan selalu menang dalam perdebatan. Tapi, apa katanya kemudian? “Saya sudah tenggelam dalam berbagai ikatan duniawi. Bahkan amal saya yang terbaik, yaitu mengajar, ternyata lebih didorong oleh keinginan mencari kehormatan dan kemasyhuran. Saya betul-betul berada di tebing kehancuran.”

Alhasil, dia ingin memutuskan kontraknya dengan dunia. Dan itu dilakukannya selama 10 tahun. Sebab, setelah melewati berbagai kebimbangan, Ghazali akhirnya meninggalkan rumah ibadahnya yang sunyi. Kembali mengajar, dan memberi manfaat kepada manusia.

Tetapi Imam sendiri mengaku tidak kembali. “Saya tidak kembali. Kembali ‘kan berarti ke tempat semula. Dulu, saya mengajar untuk mengejar kedudukan. Sekarang saya justru menyeru kepada ilmu yang dapat menjatuhkan diri dari kedudukan dan mengetahui jatuhnya martabat kedudukan. Inilah niat dan harapan saya. Saya berharap dapat memperbaiki diri sendiri dan orang lain,” ungkap hujjatul Islam itu.

Salah satu yang menjadi sasaran kecaman Al-Ghazali adalah orang-orang beragama dari kelompok hartawan. Pertama, mereka yang bersemangat membangun tempat ibadah dan sarana publik lainnya agar mendapat sanjungan dan namanya diabadikan. Mereka menyangka, kelak, setelah mati, akan mendapat ampunan. Lainnya kelompok hartawan  kikir. Mereka melakukan segala ibadah yang tidak membutuhkan ongkos: puasa sunnah, qiamul lail, mengkhatamkan Quran… Padahal, yang terpenting, memberi makan orang lapar dan menyedekahi orang miskin. Terakhir, mereka yang suka mengeluarkan harta untuk ibadah haji. Berhaji berkali-kali, padahal tetangganya dalam kelaparan. Ghazali mengutip Ibn Mas’ud r.a.: “Di akhir zaman nanti banyak orang pergi haji tanpa sebab. Mudah pergi , lapang rezeki. Mereka pulang, dan tidak mendapat pahala. Untanya ada yang terbenam di padang pasir. Padahal tetangga miskin di sebelah rumah tak pernah diberi santunan.”

Mengabaikan prioritas dalam perbuatan baik, kata Ghazali, termasuk kejahatan.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda