Adab Rasul

Sombong Ibarat Mengambil Selendang Kebesaran Allah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Sombong, kata Kanjeng Nabi Muhammad Saw. adalah bagaikan mengambil selendang kebesaran Allah. Sedangkan sebutir zarah kesombongan akan membuat kita celaka dan tidak bisa masuk surga. Oleh sebab itu janganlah merasa paling tahu dan meremehkan pendapat orang lain. Di atas langit ada langit. Kendalikan diri agar selalu rendah hati tanpa harus merendahkan diri.

Jagad warganet sering dihebohkan dengan berita tentang sosok selebriti yang dianggap sombong. Bukan hanya seorang, ada sejumlah selebriti Indonesia yang dicap sombong oleh publik karena beberapa hal. Salah satunya lantaran masalah sepele, misalkan tak mau diajak foto bareng fans.

Meski sebagai publik figur seorang selebriti harus tampil memukau, ada kalanya mereka juga merasa bosan dan capek dengan segala aktivitasnya, termasuk diajak foto bersama, apalagi jika penggemarnya sok merasa dekat, sehingga tanpa risih langsung memegang bahkan memeluk. Secara spontan sang artis kaget dan menolak. Namun apa daya, video adegan tersebut  tersiar luas dan sang artis kemudian dicap sombong.

Tapi kali ini kita tak hendak membahas kesombongan yang semacam itu. Di dalam pergaulan, tak jarang kita jumpai orang yang “menyebalkan”, berjalan dengan membusungkan dada lagi angkuh,  mukanya menatap lurus ke depan tak peduli dengan orang di sekelilingnya yang mencoba menyapa. Sungguh ia bagaikan mampu berjalan menyundul langit menembus bumi.

Ada pula orang yang jumawa sekali, menganggap diri lebih pandai, lebih cerdas, lebih hebat, lebih baik, lebih istimewa, lebih kaya, lebih tampan, lebih cantik atas orang lain, serta memandang orang lain lebih rendah dan lebih hina. Kalau bicara suaranya keras, merasa serba tahu seperti Tuhan, sehingga tak menghargai bahkan tak mau menerima pandangan orang lain, apalagi yang berbeda.

Dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 18 dan 19, Gusti Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Dari dua ayat di atas, dan masih banyak lagi ayat serta hadis yang memperkuat, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sikap dan sifat sombong, angkuh dan suka membanggakan diri sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Sebaliknya Allah sangat menyukai sifat rendah hati dan sederhana.

Salah satu contoh kerendahan hati ditunjukkan Baginda Rasul dengan selalu mengulurkan tangan lebih dulu untuk berjabat tangan dengan sahabat-sahabatnya, serta mengucapkan salam mendahului orang lain.

Dalam buku Mutiara Kehidupan Untuk Anak, PT.Bina Rena Pariwara 2004, dengan judul Jauhi Akar Semua Dosa, penulis mengutip nasihat ulama Banten yang mukim di Mekah dan kesohor, Imam Nawawi Al-Bantaniy (Nashoihul ‘Ibad,  Nasihat Penghuni Dunia ) , Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa dalam kitab Taurat: “Sesungguhnya induk segala kesalahan ada tiga yaitu sombong, dengki atau hasud dan rakus. Dari tiga itu lahir enam sikap jelek, maka semuanya ada sembilan. Yang enam itu adalah gemar kenyang,  gemar tidur, gemar santai, cinta harta, cinta pujian dan cinta kekuasaan.”

Menurut Al-Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, tiap-tiap kecelakaan dan penyesalan, kehinaan, dosa serta penyakit yang tiba-tiba datang kepada manusia, semuanya datang dari nafsu. Ada tiga pangkal nafsu yakni sombong, serakah dan iri-dengki. Supaya lebih popular lagi mudah dicerna, penulis menyebut ketiga hal itu sebagai akar dari semua dosa. Akar yang pertama yaitu nafsu sombong yang dilakukan iblis. Karena kesombongannya untuk tidak mau melaksanakan perintah Allah bersujud kepada Adam, lantaran merasa lebih hebat, maka Allah melaknatnya, dan jatuhlah iblis ke dalam jurang kesesatan. Naudzubillah, tentu kita tidak mau dimasukkan ke dalam golongan iblis nan sombong ini.

Akar kedua marilah sedikit kita bahas sekalian, yakni nafsu rakus, serakah seperti yang dilakukan Adam di surga. Gara-gara inilah maka Adam dan Hawa yang sudah memperoleh kebebasan dari Allah untuk melakukan apa saja kecuali satu hal, memakan buah terlarang, terpaksa diusir dari surga. Karena serakah, Adam dan Hawa bisa ditipu iblis sehingga memakan buah terlarang.

Akar yang ketiga yaitu nafsu iri-dengki dari Kabil putera Adam. Lantaran iri-dengki terhadap keberuntungan saudara kandungnya, Habil, maka Kabil membunuh Habil. Inilah pembunuhan anak manusia yang pertama kali.

Karena itu agar tidak terkutuk dan jatuh ke jurang kesesatan seperti iblis maka janganah sombong. Ulama sufi Malik bin Dinar menasihati bagaimana mencegah ketiga keburukan tersebut dengan tiga cara: (1) cegahlah sikap sombong dengan rendah hati; (2) cegahlah sifat rakus dengan qanaah, merasa cukup dan puas dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah; (3) cegahlah sikap dengki dengan kesadaran diri.

Sombong, kata Kanjeng Nabi Muhammad menurut riwayat Muslim, adalah bagaikan mengambil selendang kebesaran Allah. Sedangkan sebutir zarah kesombongan akan membuat kita celaka dan tidak bisa masuk surga.

Bagaimana mengetahui serta mengendalikan sifat sombong?  Kuncinya mawas diri. Pada umumnya kita tidak suka melihat atau menjumpai orang sombong. Demikian pula sebaliknya orang lain yang melihat atau berhadapan dengan kesombongan kita.

Oleh sebab itu tatkala kita merasa paling tahu dan meremehkan pendapat orang lain, apalagi bila ada orang yang menganggap kita sombong, segeralah istighfar dan mawas diri. Pun kalau ada orang yang memberikan saran dan nasihat kepada kita, kendalikan diri agar selalu rendah hati tanpa harus merendahkan diri. Dan jika terpaksa haus menolak saran tersebut, lakukan secara santun disertai pancaran kasih sayang dan ungkapan terima kasih nan tulus.  Jangan sekali-kali marah. Jangan tersinggung.

Demikian pula janganlah kita rakus dan serakah, karena itu akan membuat kita terusir dari keberkahan. Juga jangan iri-dengki, sebab  itu akan membuat kita menjadi terpidana, terpenjara oleh nafsu iri-dengki kita sendiri.

Selanjutnya hindari enam pohon sikap jelek yang tumbuh dari tiga akar dosa tadi, yakni gemar kenyang, gemar tidur, gemar santai, cinta harta, cinta pujian dan cinta kekuasaan. Semoga kita dianugerahi kemampuan untuk mengikuti nasihat-nasihat tersebut, sehingga selamat di dunia maupun di akhirat. Amin.Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda