Jejak Islam

Menelusuri Lorong Keislaman Keraton Yogyakarta (4)

Hamid Ahmad
Written by Hamid Ahmad

Peralihan yang Manis

Khusus Babad Demak, naskah ini menyiratkan bagaimana hubungan Islam dengan kerajaan hindu yang mendahuluinya. dalam naskah itu banyak dituliskan tentang kondisi agama Islam dan kaitannya dengan masa akhir kerajaan Hindu di Jawa. Yakni Majapahit, dengan memakai uraian yang penuh simbol. Penyederhanaan cerita yang mengandung aspek sejarah penggantian kekuasaan dari kerajaan Hindu Majapahit ke kerajaan Islam Demak, sangat mungkin mengandung maksud agar peristiwa politik, yang di sini mau tak mau bersangkut erat pula dengan masalah agama (dari Hindu ke Islam) tidak perlu didramatisasi menjadi peristiwa yang tragis, melainkan peristiwa yang seolah-olah :alami” dan penuh kedamaian. Demikian juga penggambaran peralihan dari masyarakat hindu ke masyarakat Islam digambarkan sedemikian rupa sehingga proses peralihan itu seperti tidak terasa.

Peristiwa seperti digambarkan sebagai sebuah proses pernikahan. Tersebutlah seorang wali bernama Pandhita Mustakin, yang leluhurnya menjadi raja di campa. Anaknya, Raden rahmat, berkelana ke Jawa untuk mencari bibinya, Kanjeng Ratu Dwarawati, yang menjadi istri Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Ringkas cerita, sang bibi akhirnya masuk Islam, bersama banyak orang jawa lainnya, dan Prabu Brawijaya tidak berkeberatan. Akan halnya Raden Rahmat, oleh sang bibi diberi tempat tinggal di Ampeldenta. Ia mengajar dan berdakwah di sana hingga dijuluki Sunan Ampel. Cerita ini ada di bab pertama.

Pada bab berikunya diceritakan, Prabu Brawijaya mengutus patihnya mengirim istrinya yang sedang hamil, Putri Cina ke Palembang, untuk diperistri Adipati Arya Damar. Di sana ia melahirkan anak yang diberi nama Raden Patah. Dari hubungannya dengan Arya Damar ia dikaruniai seorang putra bernama raden Timbal. Raden Patah lalu berlayar ke Jawa, dan ketika ia sampai di daerah Majapahit ia menemui Sunan Ampel, tidak ke keraton. Ia diterima baik, bahkan dikawinkan dengan seorang putrinya. Atas perintah Sunan Ampel, ia bertolak membuka hutan Bintara bersama sejumlah murid mertuanya itu. Ini sebagai persiapan membangun keraton Islam pertama, berikut masjidnya, yang bakal didukung para ulama dan wali. Dalam waktu singkat daerah Bintara, yang kelak menjadi Negeri Demak, berubah ramai yang dikunjungi para ulama. Kabar ini sampai ke telinga Prabu Brawijaya. Tentu saja ia marah karena Raden Patah tidak pernah melapor, padahal Bintara berada di wilayah Majapahit. Untuk menaklukkan Bintara, ua mengirim Raden Timbal. Tapi, begitu tahu yang hendak digempur kakak seibunya sendiri, Timbal urung menyerang. Kakak beradik ini lalu menghadap Sang Prabu. Setelah tahu Raden Patah putranya sendiri, ia merestui pendirian Negeri Bintara, bahkan mengangkatnya sebagai pemimpin di sana dengan gelar Adipati Muguh.

Jadi, tak hanya peralihan yang manis dari era Hindu ke era Islam, tapi juga penggambaran jalinan antara Demak dan Majapahit. Tak ada konflik antara Majapahit dan Demak yang Islam. Bahkan mereka masih terkait hubungan darah. Juga ada jalinan legitimasi yang dibangun bahwa pendirian Kerajaan Demak mendapat restu dari Majapahit, salah satu kerajaan besar yang pernah ada di negeri ini. Dan yang lebih penting lagi, Babad Demak, menggambarkan bagaimana penyebaran Islam di Jawa tidak sampai menimbulkan keterkejutan budaya, cultural shock, di kalangan masyarakat dan kerajaan. Bahkan raja Majapahit punya pertalian darah dengan Sunan Ampel, lewat istrinya yang kemudian masuk Islam, dan diizinkannya.              

Bersambung.

Ditulis berdasarkan laporan Abdul Rahman Ma’mun  (Yogyakarta); Sumber  Majalah Panji Masyarakat, 29 Juli 1998.

About the author

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda