Muzakarah

Menyoal Pengacara Koruptor

Written by Panji Masyarakat

Tampaknya saat ini pekerjaan pengacara yang sedang laris. Yang membuat saya risau, pengacara spesialis klien tersangka pelaku tindak pidana korupsi. Sampai-sampai ada sejumlah nama yang identik sebagai pembelanya para koruptor kelas kakap. Begitu gigihnya mereka membela, seakan kliennya itu bersih, alias tidak berbuat sebagaimana yang disangkakan. Tujuannya adalah untuk membebaskan sang klien. Mesti seperti itukah  fungsi seorang pengacara? Bagaimana hukum Islam memandang masalah ini? Sebetulnya seperti apa sih peran pengacara dalam timbangan Islam?

Ani Suhartini, Serang, Banten

Jawaban:

Prof. Dr. Fathurrahman Djamil, M.A.  Waktu itu Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Jakarta, kini Guru Besar Hukum Islam UIN Jakarta.   

Tugas pokok pengacara atau pembela pada dasarnya menjadi mediator hakim dengan klien. Apabila ada aturan yang tdak pas, dia harus meluruskannya. Salah kaprah kalau disebut ia membela yang salah menjadi benar. Ia sebatas meluruskan hal-hal yang berhubungan dengan  hukum acara, yang mungkin tidak dilaksanakan oleh hakim atau jaksa.

Kaitannya dengan hukum Islam, pembela adalah hal yang baru. Substansinya, itu boleh saja dilakukan asal dengan maksud untuk membela yang haq. Kalau ia membela kebatilan, bertentangan dengan firman Allah, “Walaa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan,  janganlah kamu tolong-menolong untuk urusan dosa dan permusuhan.” Jika sangat populer tersangka berbuat dosa, keliru jika diupayakan untuk dibebaskan dari jerat hukum.

Hanya perlu dicatat, pertimbangan praduga tak bersalah harus dipegang.  Jangan karena opini publik bahwa si A bersalah lalu dinyatakan bersalah. Dalam Islam, asas praduga tak bersalah ini juga ada. Yakni Al-ashlu fil insaani bara’atudz dzimmah, pada dasarnya manusia bebas dari beban.” Ini prinsip penegkan hukum dalam Islam. Kalau tak dapat dibuktikan seseorang bersalah, maka dia tidak bersalah. Namun, jangan sampai kalau sudah tahu bersalah, lantas ada yang membela kesalahan. Ini yang tidak dibenarkan.

Di zaman khalifah Umar ibn Khaththab r.a., seseorang diberi kesempatan menjadikan orang lain sebagai perantara untuk menyelesaikan masalah, tetapi tidak persis seperti pengacara zaman sekarang. Posisinya sebatas menghubungkan dia dengan hakim.

Islam memandang profesi pengacara ini, kalau lahirnya mencari mana yang benar, ya tidak ada masalah. Lain halnya kalau seorang pengacara membela habis-habisan seseorang yang jelas-jelas bersalah. Kalau sudah tahu kliennya ‘alal itsmi, dia juga berdosa, berarti si pengacara yang membelanya mati-matian ikut serta dalam perbuatan itu. Menurut hemat saya, perlu dipertimbangkan untuk tidak mengambil kesempatan demi mengejar materi semata dalam “pembelaan’ itu. Kalau dia menjadi pengacara yang objektif, malah akan berpahala karena ia berusaha keras meluruskan sesuatu demi keadilan.***

Sumber: Panji Masyarakat, 24 November 1999.           

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566