Hamka

Mengenang Pengalaman Hidup Buya Hamka

Arfendi Arif
Written by Arfendi Arif

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang populer dipanggil Buya Hamka adalah figur yang dikenal luas dalam masyarakat. Ia   seorang ulama yang luas pengetahuan agamanya dan mampu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat. Selain sebagai ulama, Buya Hamka juga dikenal sebagai wartawan, penulis dan pengarang yang produktif. Karena menulis beberapa roman Buya juga dikenal sebagai seorang sastrawan.

Buya juga seorang yang dekat dengan masyarakat. Dengan berpangkalan di Mesjid Agung Al – Azhar,Kebayoran Baru, Jakarta  Selatan, ia membimbing dan membina umat untuk menjadi muslim yang baik dan taat. Selain dekat dengan umat, Buya juga dihormati kalangan atas, baik lingkungan terpelajar, pejabat dan pemuka masyarakat. Buya juga pernah jadi Ketua MUI Pusat meski belakangan mengundurkan diri. Buya Hamka juga mendapat gelar doktor honoris causa sebagai tanda orang respek pada penguasaan keilmuaanya. Dua gelar doktor tersebut berasal dari luar negeri, Mesir dan Malaysia  Dan, menjadi guru besar  dengan gelar profesor, padahal ia tidak bersekolah secara formal, hanya otodidak.

Di kalangan sejarawan ia juga diperhitungkan. Buya seorang peminat sejarah yang serius. Buya menulis buku Sejarah Umat Islam sebanyak 5 jilid. Ia interest dan melakukan riset sejarah untuk mengemukan pendapat dan argumentasinya, salah satu pendapatnya yang mengundang perhatian adalah bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari tanah Arab, dilakukan oleh sahabat Nabi yaitu di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan

Salah satu buku Buya yang menjadi bahan referensi baik penulis asing maupun penulis Indonesia dan menjadi bahan penelitian desertasi adalah  Ayahku, terutama untuk desertasi tentang gerakan pembaharuan keagamaan di negara kita.

Yang juga menarik adalah Buya Hamka namanya memiliki citra positif di dalam masyarakat, tidak ada yang menilainya negatif dan sumbang. Ia dikenal santun dan pemaaf, bahkan terhadap orang yang pernah menyakitinya dan memenjarakannya dimaafkannya, dan ia malah mengabulkan permintaan mereka ,misalnya, menshalatkannya ketika wafat atau mengislamkan anaknya dan mengajarinya tentang Islam.

Sebagai pengarang dan penulis Buya Hamka menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk sukses. Beberapa intelektual dan kalangan terdidik mengungkapkan bahwa ia bisa mencapai puncak karir sebagai intelektual atau menjadi orang terpelajar karena termotivasi oleh pengalaman hidup dan kekaguman pada Buya Hamka.

Anak Nakal dan Mencintai Ayah
        
Analisa , pemikiran dan karya Buya Hamka telah banyak dibicarakan dan ditulis. Baik yang terkait dengan pemikiran politik, budaya, sastra, adat, agama dan lainnya. Tulisan berikut di bawah ini hanya mengungkapkan sisi keseharian Buya yang saya olah dan diceritakan oleh Buya dalam beberapa bukunya. Menurut Buya ketika kecil ia anak yang nakal. ” Aku diwaktu kecil terhitung anak yang nakal, bengal, kurang patuh kepada ayahku, sehingga aku dikatakan orang anak yang sukar dibentuk,” ujarnya.   “Aku juga digelari si Malik Periuk karena suka mencuri masakan ikan yang disiapkan buat ayahku”.

Namun, Buya bersyukur Tuhan memberikan keinsafan yang cepat kepadanya. Menurut cerita Buya, perjalanan haji yang pertama dilakukannya adalah kekerasan hatinya untuk menunjukkan kepada ayahnya bahwa dirinya tidaklah seburuk yang ditudingkan.
 Perjalanan haji itu sukses dilakukan Buya. Ia pulang dari Tanah Suci tahun 1928. Hamka berkisah, setelah menunaikan rukun Islam kelima ayahnya mencarikan jodoh untuk Buya. Hamka dibujuk oleh bapak kecilnya Haji Yusuf Amrullah (adik dari ayah Hamka, meninggal dalam usia 85 tahun, pada 11 Ramadhan 1393 H). Katanya, ” terimalah jika engkau dipertunangankan oleh ayahmu, untuk mengobati hati beliau. Sebab perginya engkau ke Makkah dengan kehendakmu sendiri, tidak dengan biaya darinya sangat melukai hati beliau,”.

Buya akhirnya menyetujui pertunangan itu. Pada 15 April 1929 dalam usia 21 tahun Buya dinikahkan dengan wanita pilihan ayahnya. Dua tahun kemudian istri Buya melahirkan seorang anak yang diberi nama Hisyam. Dilahirkan di kampung sendiri Sungaibatang, Maninjau, Sumatera Barat. ” Keadaan diri saya waktu itu masih miskin dan banyak bantuan dari orang tua”, ungkap Hamka. Pada akhir tahun 1931, dua tahun  setelah menikah dan punya anak satu orang, Hamka berangkat ke Makasar atas nama Muhammadiyah sebagai mubaligh. Hamka, bertutur sejak itu Allah menumbuhkan dalam hatinya rasa khidmat kepada orang tua  ” Mulailah aku memberikan hadiah ala kadarnya kepada ibuku. Setelah ibuku mulai merasakan kasih sayang anaknya ini, maka pada tahun 1934 beliaupun berpulang kerahmatullah,” kenang Hamka.

Menurut Hamka, pada tahun l936 dalam usia 28 tahun ia baru mulai menunjukkan rasa hormat dan cinta pada ayahnya yaitu Dr. H. Abdul Karim Amrullah. ” Dari manapun aku kembali dari perjalanan selalu teringat membawakan beliau hadiah ala kadarnya.Kadang-kadang sarung, kadang songkok ,kadang tongkat. Semuanya beliau sambut dengan gembira. Dan dalam hatinya mulai tumbuh rasa bangga, bahkan titik air matanya lantaran terharu melihat perkembanganku dalam masyarakat”, kenang Hamka.

Hamka menceritakan, pada Januari 1941 ayahnya ditangkap Belanda dan diasingkan ke Sukabumi. Hamka baru sempat menjenguk ayahnya setelah datang ke Jakarta zaman Jepang tahun l943. Kala itu Hamka berusia 34 tahun. Pada Juni 1945, dua bulan sebelum Indonesia merdeka ayah Buya Hamka meninggal dunia dan dimakamkan di Karet ,Tanah Abang , Jakarta
 Buya Hamka mengungkapkan bahwa ayahnya seorang yang teguh dan kuat berpegang pada Tauhid, yaitu hanya Allah satu-satu yang berhak disembah.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, masyarakat dipaksa ruku menyembah  istana Kaisar  (saikerei) di Tokyo. Orang takut kalau tidak menyembah dan ruku  jika ada pertemuan resmi. Takut akan disiksa dengan kejam oleh Kempetai Jepang, yaitu Polisi Peperangannya yang bengis. Tetapi ayah Buya Hamka tidak mau ruku, bahkan berdiri pun ia tidak mau.

“Ketika saya  menemui beliau dan bertanya, apakah ayah tidak merasa takut disiksa oleh Jepang dengan Kempetainya. Ayah nenjawab, yang aku takuti bukanlah disiksa dan dibunuh Jepang. Yang aku takuti ialah yang sesudah diriku mati terbunuh. Yang aku takuti pertanyaan malaikat Munkar dan Nankir, mengapa engkau menyembah selain  Allah, apa jawab ayah. Aku hanya takut kepada Allah”, itu jawaban ayahku, jelas Hamka.
 Hamka sangat mencintai ayahnya. Ia menganggap bukan hanya sebagai orang tua, tetapi juga guru yang sangat dihormatinya. Dalam karyanya Tafsir Al -Azhar yang ditulis dalam tahanan Orde Lama ia menyebut tiga orang yang sangat dicintai dan besar peranannya dalam membentuk kepribadiannya. Pertama, ayah dan gurunya DR. Syaikh Abdul Karim Amrullah, kedua kakak iparnya Ahmad Rasyid St Manshur, dan ketiga isterinya Siti Raham binti Endah Sutan.

Dituduh Pengkhianat
Pada masa Orde Lama Buya Hamka pernah di penjara selama 2 tahun dengan kesalahan yang tidak jelas, yang sebenarnya merupakan fitnah untuk menghentikan kegiatan dakwahnya. Pemerintahan pada waktu itu bersifat otoriter dan peran kekuatan partai komunis ikut mempengaruhi pemerintahan. Hamka bercerita pengalaman yang cukup dramatis dialaminya selama di tahanan.

Yang paling menyakitkan bagi Buya adalah dituduh sebagai pengkhianat bangsa. Dan dituduh menjual negara kepada Malaysia. ” Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia ! kata penyidik
 Menurut Hamka, kata-kata itu sangat menyakitkan baginya. Sebagai anak orang Alim Besar, selalu dihormati dan dimanjakan masyarakat, dan dalam usia 16 tahun sudah diangkat jadi Datuk, sebuah kedudukan adat yang sangat terhormat, kemudian berkecimpung dalam.masyarakat, sebagai pengarang, aktif di pergerakan  Muhammadiyah, mendapat gelar doktor honoris causa dari luar negeri dan lainnya. ” Sekarang saya disebut pengkhianat, menjual.negara kepada Malaysia. Gelap.penglihatan saya, gemetar tubuh saya menahan marah, sehingga kecil polisi yang memeriksa itu saya lihat”, ujar Hamka. Untunglah Buya cepat sadar, berhasil menahan marah. Belakangan ia paham ternyata cara kasar itu sengaja dilakukan  untuk memancing kemarahannya dan agar bertindak nekad untuk menyerang polisi.

Dalam keadaan tegang tersebut Buya juga hampir putus asa. Kata-kata pengkhianat yang dibunjamkan petugas polisi itu sangat memukul jiwanya dan membuatnya guncang. ” Di saat seperti itu, setelah saya tinggal seorang diri, datanglah tamu yang tidak diundang, dan memang selalu datang kepada manusia di saat seperti demikian. Yang datang itu adalah Setan! Dia nembisikkan ke dalam hati saya , supaya ingat bahwa di dalam simpanan saya masih ada pisau silet. Kalau pisau kecil itu dipotongkan saja kepada urat nadi, sebentar kita sudah mati  Biar orang tahu bahwa kita mati  karena tidak tahan menderita”.

“Hampir satu jam lamanya terjadi perang hebat dalam batin saya, di antara perdayaan Iblis dengan Iman yang telah dipupuk berpuluh tahun. Sampai-sampai saya telah membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak-anak di rumah. Tetapi, Alhandulillah Iman saya menang”.”Kalau engkau mati membunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan bathin ini, mereka yang menganiaya itu niscaya akan menyusun pula berita indah mengenai kematianmu. Engkau kedapatan membunuh diri dalam kamar oleh karena merasa malu setelah polisi mengeluarkan beberapa bukti atas pengkhianatan. Maka hancurlah nama yang telah engkau modali dengan segala penderitaan, keringat dan air mata sejak berpuluh tahun”.

Memang di dalam penjara Buya Hamka memiliki pengalaman yang menegangkan. Mirip dengan cerita sinetron. Sebuah kisah mendebarkan lainnya diungkapkan oleh Buya Hamka.” Pada suatu malam, polisi yang memeriksa masuk ke dalam ruang tahanan saya membawa sebuah bungkusan. Melihat bungkusan itu saya menyangka mungkin itu sebuah tape recorder buat merekam pengakuan saya. Bungkusan itu telah diletakkan ke bawah meja. Dan saya terus ditanya dan ditanyai lagi, kadang dengan lemah lembut dan kadang-kadang dengan kasar dan dengan paksa. Tetapi karena tidak ada suatu kejadian yang akan diakui, saya menjawab seperti biasa. Setelah bosan menanya, polisi itupun keluar. Dan bungkusan itu dibawa kembali”.

“Besok paginya salah seorang anggota polisi yang masih muda yang sejak semalam bergiliran menjaga dan mengawal saya, masuk ke dalam kamar tahanan saya. Air matanya berlinang! Dia rupanya simpati terhadap saya. Dia ternyata bahwa bungkusan semalam itu adalah alat guna menyetroom saya. Katanya pula, bahwa Bapak Ghazali Syahlan yang sama ditahan dengan saya, telah pernah disetroom. Dia heran juga, mengapa niat menyetroom saya itu tidak dilakukan. Dalam hati saya bersyukur kepada Allah. Dan saya jawab, mungkin bapak Inspektur Polisi itu timbul kasihan setelah dilihatnya bahwa usia saya sudah lanjut”.

“Tetapi beberapa hari kemudian, setelah tempat tahanan saya akan dipindahkan dari Asrama Polisi di Sukabumi, Inspektur Polisi yang datang ke kamar saya membawa bungkusan itu masuk ke dalam kamar saya, lalu minta saya mengajarkan kepadanya doa-doa yang saya baca. Dia berkata,” pasti ada doa-doa atau ilmu-ilmu sakti yang Pak Hamka simpan . Saya minta dengan jujur agar Pak Hamka sudi mengajarkannya kepada saya”.

“Disinilah kelemahan saya. Saya mengakui saja terus terang, dan saya tidak sampai hati menyembunyikan bahwa saya memang banyak membaca doa-doa yang diajarkan Nabi, di saat-saat penting, terutama seketika akan tidur. Sedangkan di waktu aman di rumah doa ajaran Nabi itu saya baca, apalagi  di saat percobaan begini hebat. “Baik!” kata saya. Lalu saya ajarkan dan tuliskan. Karena orang yang hendak menganiaya saya itu tidak fasih membaca tulisan Arab , lalu saya tuliskan pula huruf latinnya dan artinya”.

“Saya melihat wajah teman itu, dia rupanya betul-betul mempelajarinya, rupanya hendak dijadikannya bekal hidup. Dan wajahnya bertukar dari wajah seorang pemeriksa yang ganas kepada wajah seorang murid yang ingin diberi bekal.hidup. Setelah doa itu dipelajarinya dia hendak keluar dari kamar tahanan  dengan langkah perlahan-lahan. Tetapi seketika dia hendak berdiri, saya pegang lututnya dan saya katakan. “Tunggu sebentar! Saya peringatkan kepada saudara, bahwa bagi saya sendiri doa-doa semacam itu hanyalah merupakan tambahan belaka. Yang pokok adalah sebagaimana yang saudara saksikan sendiri selama saya saudara tahan. Saya tidak pernah meninggalkan sembahyang lima waktu  Saya patuhi segala perintah Allah menurut kesanggupan yang ada , baru kemudian saya memohonkan perlindunganNya.

“Sesudah itu beberapa orang polisi pemeriksa lain berbisik-bisik ke muka kamar saya minta diajarkan doa-doa”.

“Rupanya mereka salah paham. Mereka tidak jadi menganiaya saya karena mereka sendiri yang mundur, menjadi teka teki bagi mereka sendiri. Lalu menyangka bahwa saya ada mempunyai”penaruhan” ( “simpanan”-pen).

Demikian kita kutipkan secara langsung pengalaman Buya Hamka ketika dalam tahanan. Dan dalam tahanan pula Buya menyelesaikan Tafsir Al-Azhar yang monumental itu. Menurut Hamka, ia cepat mengatur waktu dalam tahanan, ia tidak memikirkan kapan keluar dari penjara. Buya bercerita. ” Kalau saya bawa bermenung  saja, maulah rasanya diri ini gila. Tetapi akal terus berjalan, maka Ilham Allah pun datang. Cepat-cepat saya baca Al-Quran, sehingga 5 hari yang pertama saja ditahan, saya sudah 3 kali khatam al-Quran. Lalu saya atur jam-jam buat membaca dan dan jam-jam buat mengarang tafsir al-Quran yang saya baca itu.

Begitulah, hari berjalan terus tanpa Buya memikirkan kapan keluar dari tahanan. ” Akhirnya setelah terjadi kekacauan politik gara-gara Komunis pada 30 September 1965 ,dan di bulan Mei 1966 saya dibebaskan, saya telah selesai membaca al-Quran sampai khatam lebih dari 150 kali dalam.masa dua tahun, dan saya telah selesai pula menulis Tafsir al- Quran 28 juz. Karena 2 yaitu Juzu 18 dan 19 telah saya tafsirkan sebelum ditangkap dalam masa dua tahun,”kisah Hamka.

Hamka mengungkapkan, banyak hikmah  yang didapat setelah menjalani kehidupan penjara ini. Selain berhasil menulis Tafsir Al-Azhar, tidak lama setelah itu Buya melaksanakan ibadah haji. “Pada tahun 1968 atau 1387 Hijriah saya dan almarhumah isteri dapat  naik haji. Kami bawa pula anak kami yang kelima, Irfan. Lebih dari separuh belanja perjalanan kami bertiga beranak ialah dari hasil honorarium (royalty) Tafsir Al-Azhar Juzu 1”, terang Hamka.

Mengenai al-Quran ini Buya punya beberapa cerita. Seorang Ammati (saudara perempuan ayahnya Hamka), yang bernama Uaik Tuo Aisyiah neninggal dalam usia 86 tahun. Sebelum neninggal beliau telah pekak dan tuli, sehingga tidak mendengar lagi apa yang dibicarakan dekat beliau. Tetapi sejak masih gadisnya beliau menuruti ajaran ayahnya yaitu Tuanku Syaikh Amrullah mewiridkan membaca al-Quran sampai khatam. Dan, surat-surat Yaasiin, al-Waqiah,al-Kahfi,al-Mulk dan beberapa surat yang lain beliau hafal di luar kepala. Dan surat-surat itulah yang selalu beliau baca. Maka meskipun sudah tua dan telinga sudah pekak, namun beliau tidak sampai pikun. Kerja beliau sehari-hari hanya membaca al-Quran sehingga pekaknya tidak jadi rintangan baginya. Setelah dia sakit akan meninggal, mulutnya masih komat-kamit membaca al-Quran. Dan beberapa jam lagi akan menutup mata masih sempat dengan senyum dia berkata bahwa dia mendengarkan suara-suara yang indah merdu membaca al-Quran. Lalu beliau suruh anak-anak cucu yang mengelilinginya turut berdiam mendengarkan bacaan itu. Padahal bacaan itu tidak didengar oleh yang lain. Dan beliau pun meninggal dalam senyum, barangkali dalam suasana mendengar suara merdu membaca al-Quran.

Demikianlah sebagian  pengalaman hidup Buya Hamka, ulama yang dikenal santun, ramah, penulis dan pengarang yang karyanya tersebar luas, namanya dikenal  di seluruh Indonesia, baik di kota besar maupun sampai kota kecil dan kampung-kampung, bahkan kondang sampai ke mancanegara. Kisah pengalaman hidupnya yang lain akan kita lanjutkan lain kesempatan

About the author

Arfendi Arif

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda