Bintang Zaman

A.R. Fachruddin (3): Mengutamakan Harmoni

Written by Abdul Rahman Mamun

Bukan Seorang Radikal

Dua hal itulah, amar makruf dan TBC (tahayul, bid’ah dan churafat), yang kemudian dikenal sebagai tonggak kontribusi Pak AR di Muhammadiyah. Penjelasannya, kepemimpinannya telah mengembalikan Muhammadiyah pada jati dirinya (semacam kembali ke khittah-nya NU) sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi munkar. Sebab, sebelum itu pimpinan Muhammadiyah terlalu disibukkan urusan politik, baik untuk menghadapi tekanan Soekarno (atas hasutan PKI pada 1960-an) maupun untuk menggapai ambisi masing-masing (pada tahun 1050-an sehingga mereka terpecah-pecah). Dan dengan kembali kejati dirinya, maka gerakan pemurnian dan amal usaha seperti mengembangkan pendidikan dan pelayanan kesehatan serta santunan dapat dilakukan lebih intensif lagi.

Namun, jangan dikira Pak AR seorang radikal. Justru gerakan pemurnian itu dia lakukan secara persuasif. Inilah salah satu faktor yang membuat pengajian Pak AR banyak digemari, terutama kalangan awam dalam agama di perkotaan, yang biasanya datag dari masyarakat bawah seperti pedagang pasar, pedagang kaki lima, dan tukang becak.

Sebagai mubalig, Pak AR juga dikenal cermat dan bijak. Simak jawabannya untuk pertanyaan tentang “meminta pertolongan kepada kiai”. Kata Pak AR, “Jika kedatangan seseorang itu hanya didasari kepercayaan kepada kiai secara wajar, tidaklah hal itu terlarang. Ini seperti halnya kebiasaan meminta doa restu kepada orang tua atau orang dihormati agar berhasil mencapai cita-cita atau tujuan baik yang lain,   dengan tetap didasari keyakinan seseorang bahwa Allah-lah yang dapat mewujudkan keinginan seseorang.

Sudah tentu gerakan pemurnian bakal berbenturan dengan masalah khilafiah (perbedaan pandangan mengenai persoalan fikih yang bukan pokok). Misalnya soal bilangan  rakaat tarawih, doa qunut salat subuh, talqin orang mati, sampai tahlil. Menghadapi ini tampaknya Pak AR tidak hendak menonjolkan perbedaan itu.  Misalnya, ada yag bertanya begini: “Saya pernah mendengar ada ulama yang melarang jamaah salat Jumat mengucapkan ‘amin’ ketika khatib membaca doa. Benarkah?” 

Pak AR menjawab, “Sepengetahuan saya, memang dalam hadis-hadis yang menerangkan khutbah Jumat tidak terdapat perintah kepada jamaah untuk mengucapkan amin bersama-sama dengan suara keras, bahkan ada yang sering mengucapkannya dibuat-buat, seperti main-main, sehingga mengganggu kekhusyukan beribadah. Meskipun demikian, terserah Saudara. Menurut saya masalah kecil begitu tak perlu dibesar-besarkan. Jangan sampai hanya karena masalah seperti ini menyebabkan retaknya persaudaraan sampai tak bertegur sapa.”    

Membina Silaturahim

Harmoni. Inilah barangkali  yang diutamakan Pak AR. Karena itu, dalam hubungan sosial, ia membina hubungan silaturahiim dengan siapa pun.”Kalau berkunjung ke suatu desa, Pak AR selalu minta bertemu dengan lurahnya. Kalau di sebuah kabupaten, beliau juga berusaha bertemu dengan bupatinya. Begitu pula kalau berada di suatu daerah, ia akan minta dipertemukan dengan gubernur,” seorang putranya, M. Sukriyanto A.R., bertutur

Bahkan, dengan tokoh agama lain.  Ketika Y.B. Mangunwijaya alias Romo Mangun  terbaring sakit di RS Panti Rapih, Yogyakarta,  Pak AR menyempatkan diri membesuk. Juga, apalagi, dengan tokoh-tokoh NU, ormas Islam yang sering disebut-sebut saingan Muhammadiyah. “Seingat saya beberapa kali saya menyertai Pak AR bersilaturrahim dengan KH Ahmad Shiddiq (Rais ‘Aam PBNU),” kata Sukri, yang dosen IAIN (kini UIN, red) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Maka, tak mengherankan kalau cucu Pak AR, Arief Hidayat, sulung Sukriyanto, pernah dimasukkan ke Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, yang diasuh KH Ali Ma’shum, Rais ‘Aam PBU sebelum Kiai Ahmad Shiddiq. Arief yang waktu itu duduk di kelas 6 SD dipondokkan di Krapyak untuk mengaji Alquran. “Bagi Pak AR itu baik saja. Wong mantunya Kiai Ali Ma’shum, Pak Chasbullah (KH Chasbullah almarhum, red) saja sering datang ke rumah,” kata Sukri. Meski sang cucu ini hanya beberapa bulan mondok di Krapyak.

Menurut Syukri, memang ada pertalian saudara antara KH A.R. Fachruddin dengan keluarga KH Munawwir, mertua KH Ali Ma’shum. “Nyai Salim, salah seorang kerabat Kiai Munawwir, kalau tidak salah sepupunya Pak AR,” tutur Sukriyanto. [M. Sukriyanto AR, yang juga dikenal mubalig dan penulis, kini memimpin Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah, ed]          

 Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  16 September 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka