Tafsir

Tafsir Tematik: Takwa yang Bagaimana (3)

Written by Panji Masyarakat

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai muslim (Q. 3:102)

Bagaimana Menghapus Ayat

Ini memang sebuah ide yang khas: teori hapus-menghapus. Kenyataan yang bagi orang luar bisa terasa aneh ini sebenarnya menunjuk ciri-ciri Alquran sebagai himpunan wahyu-wahyu yang (meskipun tidak seluruhnya, dan tidak yang menyangkut akdah atau simpul keimanan) diturunkan mengikti dinamika perkembangan sosial, khususnya perkembangan umat di masa Nabi s.a.w. Q. 2: 106 menyatakan, “Ayat mana pun yang Kami hapuskan atau Kami buat terlupakan, Kami datangkan yang lebih baikdaripadanya atau yang seumpamanya.”

Itu lalu menimbukan teori tentang ayat-ayat yang kelihatan bertentangan (baik setelah maupun tanpa penyadaran akan dinamika tersebut), yang lalu diselesaikan dengan merunut kronologi masa turun masing-masing, kemudian dtentukan: mana yang menghapuskan (naasikh) dan mana yang dihapuskan (mansuukh).

Yang khas ialah ini: ilmu itu mulai tumbuh sepeninggal Nabi s.a.w. Di samping menunjukkan adanya perkembangan ilmu-ilmu dari bibit peninggalan beliau, itu juga merupakan titik lemahnya masalah nasikh-mansukh itu tidak sempat dicekan kepada Nabi. Semuanya hanya asumsi para sahabat yang mulia, kemudian para tabi’in. Makin “jeli” seseorang makin banyak ia mendapati ayat-ayat yang “bertentangan”. Lihatlah kasus Q. 2: 102 dan Q. 64: 16 itu sendiri: bagaimana ayat tentang “sebenar-benar takwa” bisa dipandang bertentangan dengan ayat “bertakwalah sejauh kalian mampu”.

Betapapun, di belakang hari bangkit pendapat yang menolak nasikh-mansukh (juga untuk ayat-ayat hukum), yang menganggap pemilah-milahan seperti itu tak lain merupakan hasil pendekatan parsial. Bukan global, dengan mempertimbangkan kontes ayat dalam rangkaian. Sesuatu yang global, kita katakan, mengandung nuansa, tebal-tipis, kuat-lemah. Justru dari situlah dimungkinkan potensi tafsir yang, sambil mengingat konteks masa Nabi, berdialog dengan konteks aktual.

Dari kacamata para penolak teori naskh itu – termasuk  Abduh (lihat  Rasyid Ridha, IV: 19), ayat yang berbunyi “Ayat mana pun yang Kami hapuskan… (q. 2: 106) itu pun bisa dilihat konteknya dalam rangkaian. Dan itu tak lain pembicaraan tentang keykinan antaragama. Sehingga “ayat yang dihapuskan” lebih cocok dipahami sebagai bukti-bukti kebenaran (ayat: tanda, bukti), atau mukjizat nabi-nabi, yang sudah diganti dengan bukti kebenaran Muhammads.a.w. Atau, bicara antarkitab (lih. Q. 2: 105), ungkapan “ayat lebih baik” dalam Q. 2:106 itu cocok dipahami sebagai Alquran.  Jadi, bukan hapus0menghapus dalam Quran sendiri.

Tetapi, teori naskh itu, sebagaimana semua yang “lebih mudah dipegang”, sudah merambah sedemikian rupa. Ja’far Shadiq, misalnya – salah satu guru Syafi’i, yang oleh umat Syi’ah 12 Imam dijadikan imam ke-6 – mereka riwayatkan sebagai juga menganggap ayat “sebenar-benar takwa” di atas dihapuskan oleh ayat “sejauh kalian mampu” tadi. Yang menarik, Husain Thabathaba’i agaknya mewakili sebuah perkembangan, ketika ia mencoba meyakinkan bahwa penghapusan (naskh) yang dimaksudkan oleh Imam Ja’ar “bukan seperti yang dinukil dari para mufasir itu, yakni makna yang jelas ditolak oleh zahir Al-Kitab”. Yang dimaksudkan oleh Imam, katanya, adalah “tingkat-tingkat”.

Thabathaba’i hanya mengesankan dirinya tidak berani melepaskan diri dari ajaran ‘imam maksum” itu. Yang berani ia lakukan adalah takwil, dalam arti penyeret-nyeretan kalimat Ash-Shadiq. Soalnya, yang dikatakan Ja’far, seperti yang diriwayatkan itu, jelas: “Sudah dihapus (mansuukhah”.” Penghapusnya> Jawab beliau; “(Ayat)  Bertakwalah kepada Allah sepanjang mampu” (lih. Thabathaba’i, III: 417)         

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Panji Masyarakat, 17 Juni 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat