Pengalaman Religius

Seto Mulyadi (3): Setelah Hidup Menggelandang

Muzakkir Husain
Written by Muzakkir Husain

Dengan berpegang teguh kepada agama—salah satunya dengan konsisten menjalankan setiap ibadah yang diajarkan, insya Allah segala potensi kemanusiaan kita, pikiran, dan emosi, pasti mampu menghadapi berbagai hal yang begitu berat.

Diselamatkan Salat

Bukti ajaran Eyang begitu melekat dalam diri saya terlihat ketika saya usai SLTA waktu itu adalah saat-saat yang paling sulit dalam hidup saya. Saya merasa down sekali ketika saya dinyatakan gagal tes masuk perguruan tinggi.  Sementara adik kembar saya – sejak lahir kami selalu bersama: pakaian, tidur, makan, bermain, sekolah – justru lulus tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Ketika dia kuliah, saya hanya bisa tinggal di rumah, mencuci piring dan pakaian, negepel, seperti pembantu rumah tangga saja. Nasib saya seolah menjadi buruk.

Akhirnya saya nekat minggat ke Jakarta. Ini betul-betul langkah berani karena tak seorang pun keluarga di Jakarta yang saya tuju. Pikiran saya, saya hanya bebas dari perasaan tertekan seperti itu. Tak terpikir risiko apa yang harus saya hadapi.

Di Jakarta, saya menggelandang ke sana ke mari sambil mencari kerja. Berbekal ijazah SMA saya melamar ke hampir semua hotel dan kantor yang ada di Jakarta. Berkali-kali saya hampir terseret ke dunia hitam. Untunglah nasihat-nasihat Eyang Putri masih terus saya pegang. Di saat-saat sulit seperti itu, saya tetap jaga jangan sampai ada salat yang bolong. Kalau kebetulan mendapat tempat tidur yang bersih, saya sempatkan salat tahajud, meminta pertolongan Allah. Tidak ada saudara atau teman untuk sekadar berbagi kesedihan selain Allah. Itulah mungkin yang membuat salat saya ketika itu begitu bermanfaat. Saya tidak boleh terjerumus, menjadi penodong atau pencopet, misalnya. Semangat hidup saya tetap terjaga. Bahkan harapan untuk melanjutkan sekolah tetap menyala di dada saya. Untuk sekadar hidup saya pernah menjadi kuli bangunan, sambil coba menulis karangan untuk majalah anak-anak Kuncung yang sudah saya gandrungi sejak di Klaten. Saya yakin, Allah akan memberikan pertolongan.

Benar saja. Pada tahun kedua di Jakarta saya mulai mendapat jalan terang. Saya bisa berkenalan dengan Bu Nas, Ny. Abdul Haris Nasution, yang saat itu menjabat sebagai ketua Badan Koordinasi Kegiatan Sosial (BKKS) yang berkantor di sebelah kantor redaksi majalah Kuncung di Jl. Moh. Yamin, Jakarta Pusat. Kebetulan saja, ketika akan mengambil honor tulisan di Kuncung, saya sempatkan mampir di BKKS dan bertemu ibu yang baik hati itu. Atas jasanya, saya bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga direktur Bank Indonesia saat itu, yang pada akhirnya mengangkat saya sebagai anak angkat. Alhamdulillah, dalam kondisi seperti itu saya bisa kuliah di Fakultas Psikologi UI. Pada fase-fase itulah saya betul-betul diyakinkan bahwa dengan berpegang teguh kepada agama—salah satunya dengan konsisten menjalankan setiap ibadah yang diajarkan, insya Allah segala potensi kemanusiaan kita, pikiran, dan emosi, pasti mampu menghadapi berbagai hal yang begitu berat.

Kecerdasan Emosional

Pengalaman saya saat itu pada akhirnya bisa saya pahami secara ilmiah.  Dalam perjalanan saya sebagai akademisi psikologi, saya membaca konsep emotional intelligence (kecerdasan emosional) yang dikemukakan Daniel Goleman pada awal 1990-an. Ringkasnya, faktor yang paling menentukan keberhasilan individu-individu di masyarakat modern yang serba cepat sekarang ini, bukanlagi sekadar kecerdasan (yang ditunjukkan dengan tingginya IQ, intelligence quotient), tetapi justru oleh kecerdasan emosional (emotional intelligence yang ditunjukkan dengan tingginya EQ). Kecerdasan emosional bisa diartikan sebagai kemampuan mengendalikan emosi, kemampuan untuk tidak ikut-ikutan, mendekati masalah berdasarkan utilitasnya, tidak mudah panik, senang, berpikir jernih, berdialog dengan hati nurani, dan memahami akar persoalan setiap masalah.

Tanpa berusaha mencari-cari segera saja saya melihat korelasi antara EQ tersebut dengan hikmah setiap ibadah yang diajarkan dalam Islam. Salat subuh misalnya. Dalam keadaan mengantuk berat, sebagai muslim, kita tetap harus bangun, mengatur emosi, dan berusaha berkonsentrasi. Jadwal salat lima waktu itu pun sudah merupakan latihan disiplin yang sangat ideal, bukan hanya fisik, tapi juga emosi—subuh, duhur, asar magrib, dan isya—kita diberi sarana untuk kembali melakukan penyegaran. Begitu pula dengan ibadah puasa, zakat, haji, zikir, dan ibadah-ibadah lainnya. Semua itu merupakan syariat Allah yang mempunyai hikmah menimbulkan suatu kemampuan pengendalian emosional yang sangat tinggi.

Konsep IQ dan EQ ini juga bisa menerangkan kenapa agama yang dikuasai secara kognitif (IQ) bisa saja tidak bisa mencegah seseorang untuk melakukan kejahatan, korupsi, berbohong, merugikan orang lain, karena penguasaannya secara EQ belum memadai. Pemahaman itu bukan tidak baik, tapi tidak cukup. Kemampuan untuk menerapkan agama dalam kehidupan sehari-hari justru ditentukan oleh kemampuan EQ seseorang. Dan semua itu, ditumbuhkan melalui kepatuhan melaksanakan rangkaian ibadah yang diajarkan.

Sumber: Panji Masyarakat,  17 Juni 1998

About the author

Muzakkir Husain

Muzakkir Husain

Wartawan Majalah Panji Masyarakat (1997-2001)

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka