Mutiara

Dari Tengah Seliweran Pedang

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Dari tengah seliweran pedang, muncul Aisyah, panglima wanita pertama dalam Islam. Lepas dari pandangan politiknya, ia teladan.

Amma ba’du. Tentu Anda sudah menerima berita mengenai bencana yang menimpa Utsman, dan kesepakatan orang yang mengangkat saya. Sebab itu saya minta Anda masuk dalam perdamaian—atau menyatakan perang terbuka.”

Ini surat Ali Ibn Abi Thalib kepada Mu’awiah, gubernur Syam. Memang, Mughirah ibn Sy’bah sudah menasihati Ali agar mencopot Mu’awiah, tapi Ali masih ingin mempertimbangkannya. Setelah Pak Gubernur membaca surat, ia berkata kepada sang utusan, “Saudara pulang saja dulu. Saya akan kirim utusan sendiri.”

Tetapi Mua’wiah, yang punya selera humor (yang juga bisa berarti ledekan) ternyata bikin geger hadirin majelis Ali. Pasalnya dalam surat “Dari Mu’awiah ibn Abi Sufyan untuk Ali ibn Abi Thalib” itu (tanpa menyebut Amirul Mukminin) hanya ada tulisan Bismillahirrahmanirrahim. Lain tidak.

Baiklah. Majelis kemudian menanyakan situasi Syam kepada pria berkabilah ‘Absin itu. Dia pun bercerita bahwa 50.000 orang di sana telah membasuh janggut mereka dengan air mata. Mereka  meratapi kemeja Utsman yang berdarah (bekas pembunuhan oleh para perusuh), yang dibawa orang Madinah. Kemeja itu disangkutkan di ujung tombak, dan orang Syam sekarang siap bertempur menuntut balas dendam kematian khalifah terdahulu itu.

Cerita itu memancing kemarahan Khalid ibn Zufar, yang juga berasal dari kabilah ‘Absin. “Demi Allah,” katanya, “apakah engkau diutus untuk menyampaikan perkataan yang menakut-nakuti? Kamu kira orang-orang Muhajirin dan Anshar ngeri oleh ratap orang Syam? Demi Allah, kemeja Utsman bukan kemeja Yusuf. Kemeja Utsman bukan untuk diratapi.” Yusuf adalah putra Ya’kub, yang dimasukkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, lalu kemejanya diperciki darah dan dibawa ke hadapan sang ayah untuk meyakinkannya bahwa anak kesayangan  itu dimakan serigala.

Madinah ribut. Berkembang opini bahwa Mu’awiah sudah durhaka karena tidak mengakui  kekuasaan khalifah yang sah dan, karena itu, halal darahnya.

Ali sendiri sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang Syam, di bawah komando putranya, Muhammad Hanafiah. Tapi kemudian terdengar kabar bahwa Aisyah, Zubair, dan Thalhah juga bangkit melawan. Mereka sedang menghimpun kekuatan di Bashrah.

Zubair dan Thalhah bertemu Aisyah di Mekah. Sebelum meninggalkan Madinah, kedua tokoh ini sudah bicara dengan Khalifah untuk segera membuka kasus pembunuhan Utsman. “Saya mengerti, saya paham yang kalian katakan itu. Tapi cobalah kalian pikir, bagaimana saya harus bersikap? Keadaan sudah berubah. Dulu kita yang berkuasa, sekarang para pemberontak itu menguasai kita. Apalagi budak-budak kamu sendiri, kaum kerabat kamu, semuanya ikut komplotan itu,” sahut Ali. Ini mereka sampaikan kepada Aisyah yang sedang di Mekah.

“Kalau Anda setuju, lebih baik kita menuntut darah Utsman,” kata mereka.

“Dari siapa kan kita tuntut darah Utsman?” tanya janda Nabi ini.

“Orang-orangnya jelas. Kebanyakan pengikut Ali dan kawan-kawannya. Lebih baik kita berangkat ke Bashrah, kita bawa orang-orang Hijaz yang menyukai dan sependirian dengan kita, kita gabungkan dengan orang Bashrah, dan dengan demikian kita punya tentara yang kuat. Kalau orang Bashrah melihat  Anda, semuanya ikut.”

Jadi, Ali pun membelokkan pasukannya ke Bashrah. Toh kekuatan Aisyah dkk. ternyata mudah dipatahkan karena relatif kecil. Dalam perang  saudara pertama yang disebut Perang Unta ini (Aisyah memimpin pasukannya di punggung unta), Ali menang. Zubair dan Thalhah gugur. Aisyah ditawan, dipulangkan ke Madinah. Jumlah korban: 10.000 dari kedua pihak.

Dalam sejarah Islam, Aisyah, kelahiran Mekah 614 M, adalah wanita pertama yang terlibat langsung urusan politik. banyak kalangan yang menyesali tindakannya melawan Ali. Tapi Aisyah rupanya bukan orang yang hanya ingin menjadi penonton. Karena itu dia mendukung gerakan menuntut balas kematian Utsman. Padahal dia pernah menuntut Utsman mundur. Ada ungkapan Dante Alighieri, yang sering dikutip John F. Kennedy: “Tempat terpanas di neraka disediakan untuk mereka yang tetap netral di saat krisis moral melanda.” Menurut Kennedy, itu bukan sifat pemimpin.

Tentu, Aisyah tidak membaca Dante. Tapi bekas gadis sangat belia yang mendampingi Nabi selama 10 tahun ini terbukti wanita yang cerdas, yang sepeninggal Nabi menjadi tempat orang berkonsultasi mengenai banyak hal. Selain diakui keunggulan inteleknya—sebagaimana Ali, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, misalnya—ia juga punya kemampuan seorang orator. Dialah, yang juga menguasai syair-syair, dan dikabarkan mampu membaca—yang menggerakkan sejumlah tokoh dan pemuda Mekah sebelum mereka berangkat ke Bashrah.

Banyak ulama menempatkan Aisyah di urutan ketiga sebagai wanita paling menonjol dalam Islam, setelah Khadijah dan Fatimah. Ibn Hazm malah mendudukkannya di urutan kedua—setelah Rasulullah, bahkan—di atas semua istri dan sahabat. Ibn Taimiah memang menaruh Fatimah di urutan pertama teratas karena ia putri kesayangan Nabi. Lalu Khadijah, karena ia orang yang pertama kali masuk Islam. Tetapi, katanya, tidak seorang pun menandingi Aisyah dalam menyebarluaskan ajaran Nabi. Melalui daya ingatnya yang luar biasa, ia bukan hanya merekam pengajaran dan diskusi Nabi dengan para sahabat, tetapi juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang rumit. Sekitar 1.200 hadis diriwayatkannya dari mulut Nabi.

Putri Abu Bakr ini meninggal di Madinah pada 678 M. Nah, dalam pemerintahan Mu’awiah.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda