Adab Rasul

Mengislamkan Jutaan Orang Dengan Kasih Sayang

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Seorang pedagang kecil di Perancis, berhasil mengislamkan seorang anak Yahudi dengan sikap kepedulian, kasih sayang dan memaafkan, mengalahkan perlawanan ibu sang anak yang seorang dosen, yang pada akhirnya juga ikut memeluk Islam.  Yang luar biasa lagi, Sang Anak ini kemudian berhasil mengislamkan jutaan orang Eropa dan Afrika. Bagaimana dengan dakwah kita?

Entah sebab apa, di akhir Agustus 2020 ini penulis sering memperoleh lagi kiriman kisah nyata seorang anak Yahudi yang masuk Islam, kemudian berdakwah dan berhasil mengislamkan ribuan orang Eropa serta jutaan penduduk Afrika.

Sekitar tujuh tahun silam, penulis sudah pernah memperoleh kisah yang menginspirasi sineas Perancis untuk memfilmkannya, dengan judul “Monsieur Ibrahim et Les Fleurs du Coran‘ (Ibrahim dan Bunga-Bunga Quran) yang disutradarai Francois Dupeyron. Film ini dibintangi aktor legendaris mesir Omar Sharif  yang berperan sebagai Paman Ibrahim, dan aktor muda berbakat Perancis Pierre Boulanger sebagai Jad, pemuda Yahudi yang selanjutnya berganti nama menjadi Jadullah al Qurani (Why did Jad A Jewish boyaccepted Islam!!??, https://islamconverts.wordpress.com/2013/03/14/why-did-jad-a-jewish-boy-accepted-islam/).

Film tersebut mengisahkan si Jad, anak Yahudi berusia 7 tahun yang hampir setiap hari disuruh belanja ke warung milik keturunan Turki, Paman Ibrahim (50 tahun).  Setiap belanja, Jad selalu mencuri sebuah permen coklat, sampai pada suatu hari ketika habis belanja dan beranjak pulang, tiba-tiba Paman Ibrahim memanggil dan berkata, “Jad, kamu lupa sesuatu, Nak.” Jad kecil memeriksa belanjaannya. Tetapi, tidak menemukan sesuatu yang terlupakan. 

“Bukan itu,” kata Ibrahim. “Ini.” Sambil memegang coklat yang biasa diambil Jad.  Tentu saja Jad kaget dan ketakutan. Takut bila Ibrahim menyampaikan ‘hal memalukan’ tersebut ke orang tuanya. Reaksinya, bengong dan pucat..

“Tidak apa-apa, Nak,.. Mulai hari ini kau boleh mengambil sebuah coklat gratis setiap berbelanja sebagai hadiah. Tapi, berjanjilah untuk jujur mengatakannya,” kata Ibrahim sambil tersenyum. 

Sejak hari itu, Jad menjadi sahabat Ibrahim.Ia tidak hanya datang untuk belanja, tetapi juga menjadi tempat bercerita dan menumpahkan keluh kesah. 

Bila menghadapi suatu masalah, Ibrahim adalah orang yang pertama diajaknya bicara. Dan, bila itu terjadi, Ibrahim tidak pernah langsung menjawab, namun selalu menyuruh Jad membuka halaman sebuah buku tebal yang tersimpan di sebuah kotak kayu. Ibrahim akan membaca dua halaman tersebut tanpa suara, kemudian menjelaskan jawaban dari masalah yang dihadapi Jad. 

Hal tersebut berlangsung selama 17 tahun. Sampai satu ketika salah seorang anak Ibrahim mendatangi Jad dan memberikan kotak tersebut sembari mengabarkan Paman Ibrahim telah wafat.

Singkat cerita Jad masuk Islam. Ia bercerita:

“Saya menjadi Muslim di tangan seorang lelaki yang justru tidak pernah berbicara tentang agama”.. 

“Tak pernah berkata” :

“kamu Yahudi!!”

“kamu Kafir!”

“belajarlah agama!”

“jadilah muslim!”

Ibrahim menyentuh Jad dengan akhlak, cinta kasih dan kelembutan, dengan sebaik-baik perilaku. Memperkenalkan kepadanya keutamaan sebuah kitab, yang baru diketahui itu Al-Qur’an beberapa waktu setelah Ibrahim wafat.

Akhlak dan perilaku mulia itu pulalah yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada umatnya. Bukan muka sangar, kebencian, amarah, pendendam dan perilaku kasar. Dalam khutbah pertamanya di Madinah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang dapat melindungi mukanya dari api neraka  sekalipun hanya  dengan sebutir kurma, lakukanlah. Kalau itu juga tidak ada, maka dengan kata-kata yang baik. Sebab dengan itu mendapat balasan sepuluh kali lipat.” Dalam khutbah kedua beliau menegaskan, “ Dengan ruh Allah hendaklah kamu sekalian saling cinta-mencintai.”

Akhlak mulia Rasulullah bukan hanya sekedar penghias bibir, namun dipraktekkan dalam perilaku. Apabila mengunjungi sahabat, ia duduk di mana ada tempat kosong tanpa harus menyuruh orang lain pindah. Ia bergaul akrab serta bergurau dengan sahabat-sahabatnya. Anak-anak mereka diajak bermain dan didudukkan di pangkuannya. Dipenuhinya undangan yang datang dari siapa pun tanpa membeda-bedakan. Dikunjunginya orang yang sedang sakit. Yang minta maaf dimaafkan.

Rasulullah juga rendah hati, memulai memberi salam kepada orang yang dijumpai serta lebih dulu mengulurkan tangan menjabat erat sahabat-sahabatnya. Begitu halus perasaannya, begitu lembut hatinya, begitu sayangnya kepada anak-anak kecil. Ia membiarkan cucunya bermain-main dengannya tatkala sembahyang. Bahkan ia salat dengan Umama, putri dari Zainab putrinya, yang berada di bahunya. Bila ia sujud Umama diletakkan, dan bila berdiri digendongnya kembali.

Kasih sayang dan perhatian bukan hanya ditujukan kepada putera dan cucu kandungnya sendiri.  Ketika pasukan muslim diserang tentara  Bizantium di desa Mu’tah dekat Laut Mati sehingga menewaskan Zaid dan sepupu Rasulullah, Ja’far, berikut sepuluh anggotanya, maka beliau menemui keluarga Ja’far, berlutut di samping kedua anak kecilnya, memeluk mereka erat-erat dan menangis. Begitu pula sewaktu beliau menuju masjid, putri kecil Zaid keluar dari rumah dan menghambur ke pelukan Kanjeng Nabi, yang segera menggendong putri kecil tersebut sambil berdiri di tengah jalan, membuainya dan menangis terisak-isak.

Rasulullah banyak memberikan petunjuk dan contoh bagaimana merawat serta mendidik anak dengan sepenuh kasih sayang, mulai dari menyelenggarakan aqiqah, memberi nama, merawat tubuhnya mengajarkan salat dan lain-lain. “Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan baik, karena anak-anak kalian adalah hadiah untuk kalian.” Abu Hurairah ra. menuturkan, melihat Nabi Saw mencium Hasan bin Ali ra. sedang di sampingnya ada Aqra’ bin Habis. Maka Aqra’ berkata, “Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya belum pernah mencium seorang pun dari mereka.”  Lalu Rasulullah melihat Aqra’ sambil bersabda, “Siapa yang tidak mengasihani, tidak akan dikasihani.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sejalan dengan hadis di atas, dari  Aisyah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula, beberapa orang Baduwi datang kepada Kanjeng Nabi, lalu beliau bertanya, “Apakah kalian suka mencium anak-anak kalian?”. Sebagian dari mereka menjawab, ya. Tapi sebagian yang lain menjawab tidak pernah.  Kemudian Rasulullah besabda, “Apa dayaku bila Allah mencabut rahmat dari kamu sekalian.”

Sahabatku, mencium anak cucu, menyapa serta memperlakukan dengan lembut, penuh kepedulian dan cinta kasih kepada anak-anak, sebagaimana kisah Paman Ibrahim terhadap Jad,  adalah manifestasi kasih sayang yang akan membekas dalam pada diri anak-anak tersebut.

Sekarang ini khususnya di perkotaan dan daerah-daerah penunjangnya, kita jumpai betapa banyak orangtua, bahkan ayah dan bunda, yang terpaksa harus meninggalkan rumah dan anak-anaknya di pagi buta, serta pulang di gulita malam, demi bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.  Membiarkan anak-anaknya menjadi bagaikan yatim-piatu di lebih separuh hari, menemani mereka sejenak tatkala tubuh sudah letih dan menuntut istirahat. Merasa kita sudah berbuat habis-habisan untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka. Tetapi bagaimana dengan pendidikan akhlak dan kejiwaannya?  Apakah cukup sebagai bekal untuk menyongsong masa depan kehidupannya?

Semoga kita dianugerahi kemampuan untuk mengasihi anak-anak kita serta mengajari dan membimbingnya dengan akhlak dan perilaku mulia. Amin.

Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda