Tasawuf

Jalan Terjal, Antara Maqam dan Ahwal

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Seorang sufi bernama Abu Thalib Al-Makki (wafat 966 M) menyatakan bahwa terdapat  banyak sekali jalan menuju Tuhan. Kata dia, “Jalan menuju Allah sebanyak orang yang beriman kepada-Nya. Jalan menuju Allah sebanyak makhluk ciptaan-Nya: untuk merenunginya terdapat  satu jalan yang akan ditemukan oleh setiap makhluk ciptaan-Nya .” Pandangan ini sejalan pandangan sufi di kemudian hari, bahwa hamparan dunia ini adalah buku Allah Yang Maha Tinggi, dan di balik sebutir atom yang terselubung pun tersembunyi keindahan Jiwa yang menggairahkan dari Wajah yang dicintainya.

Namun, seperti dikemukakan tulisan terdahulu (Stasiun-stasiun Penemumpuh Jalan Tasawuf), bahwa para penempuh jalan tasawuf harus melawati sejumlah stasiun atau tahapan adab yang disebut  maqam. Tahapan-tahapan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan ini, menurut Imam Qusyairi (Risalatul Qusyairiyah), harus dipenuhi dengan sepenuh upaya, dan lewat ryadhah atau olah rohani. Seseorang tidak akan naik dari satu maqam ke maqam lain sebelum memenuhi kualifikasi maqam tersebut.  Maka seseorang yang belum sepenuhnya bisa mencapai qana’ah ia belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan barangsiapa yang belum ber-wara’, maka tidak sah ia ber-zuhud. Susahnya lagi, jalan-jalan yang mesti ditempuh para pengelana spiritual itu sangat  licin, dan jika tidak hati-hati maka orang akan mudah terpeleset. Oleh karena itu, para penempuh jalan sufi tidak bisa melakukannya sendiri. Ia perlu pembimbing, guru, penunjuk jalan yang lazim disebut mursyid. Sang mursyid inilah yang akan menuntun para penempuh jalan tasawuf tadi, atau yang biasa disebut  salik. Secara harfiah salik berarti orang yang berjalan, atau penempuh jalan, sedangkan mursyid, orang yang menunjukkan.

Selain  melewati maqam, seorang  salik akan memasuki sebuah keadaan yang disebut hal (jamak ahwal). Berbeda dengan maqam yang harus dicapai lewat usaha keras, hal  hinggap begitu saja di kalbu. Tanpa ada unsur kesengajaan, usaha menariknya, atau yang lainnya. Seperti rasa senang atau sedih, leluasa (busth) atu tergenggam (qabdh), takut atau suka cita. Karena itu, setiap hal merupakan karunia.

Sebagian kalangan sufi mengatakan, hal datang dan pergi alias tidak menetap. Ahwal  itu seperti kilatan, menetap di hati dan kemudian hilang. Jika ada yang mengatakan  hal  menetap, kata mereka, itu sekadar omongan nafsu.  Keyakinan bahwa hal tidak permanen diekspresikan dalam syair berikut ini:

Jika tidak menempati tidak dinamakan hal

Dan setiap yang menempati pasti sirna

Lihatlah bayangan ketika sampai ujungnya

  Berkuranglah ketika ia memanjang  

Menurut  Qusyairi, beberapa kalangan sufi  yang menyatakan bahwa hal bersifat tetap mengatakan, jika hal tidak menetap, itu hanya lawa’ih alias cahaya yang redup. Pemiliknya tidak sampai pada hal yang sebenarnya. Jika sifat tu menetap terus maka ia dinamakan hal. Dan di siniah Abu Utsman Al-Hirri berkata, “Sejak 40 tahun aku tidak pernah benci kepada maqam yang dianugerahkan Allah.” Al-Hirri mengisyaratkan adanya ridha, dan ridha menurutnya bagian dari ahwal. Pendapat yang mengatakan tetapnya ahwal, kata Qusyairi, adalah benar. Hanya,  yang memiliki hal  itu mempunyai beberapa hal atawa ahwal. Yakni jalan-jalan yang tak menetap di atas ahwal yang menjadi bagiannya. Jika jalan-jalan yang ditempuh itu menetap secara konsisten, seperti menetapnya ahwal tersebut, ia naik ke ahwal lain yang lebih lembut.  Begitu seterusnya.

Dengan perkataan lain, ahwal atau “keadaan-keadaan” bisa disebut sebagai pencelupan jiwa dalam cahaya Tuhan. Sesuai dengan intensitas dan lamanya, “keadaan-keadaan” tersebut disebut ‘cahaya yang meredup’ (lawa’ih), ‘cahaya yang menyilaukan’ (lawami’) dan ‘penyinaran’ alias tajalli.

Bersambung

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda