Bintang Zaman

A.R. Fachruddin (2): Mewarnai Keislaman Warga Jogja

Written by Abdul Rahman Mamun

Jalur Helm

Kesederhanaan sepeti itu pula yang diperlihatkan Pak AR dalam menyikapi kebijaksanaan asas tunggal rezim Soeharto [ada 1980-an. Sebagai ketua PP Muhammadiyah, dia termasuk yang menerima keharusan menjadikan Pancasila satu-satunya asas organiasi politik maupun organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Muhammadiyah.  Dia beralasan: “Itu kan seperti kita memasuki jalur helm (kawasan tertib lalu lintas yang mengharuskan pengendara sepeda motor mengenakan helm, red). Ya kita pakai saja, toh itu tidak ada larangan dalam Islam. Pancasila juga kan tidak melarang, apalagi menghapus syariah Islam di Muhammadiyah. Inilah yang kemudian dikenal sebagai “jalur helm”.

Barangkali karena kesederhanaan sikap, cara hidup, dan cara berpikir inilah maka segala ucapan dan dakwahnya punya daya pukau, cukup mengena di hati masyarakat.  Acara mimbar Agama Islam yang diasuhnya di Stasiun TVRI Yogyakarta pun menempati peringkat tertinggi. Ini lantaran persoalan yag dibahas umumnya adalah masalah keseharian yang ringan-ringan. Kadang-kadang hanya soal bagaimana hukumnya memakai tasbih, soal wiridan sesudah salat, sampai soal rumah tangga yang baik. Program yang ditayangkan seminggu sekali sepanjang tahun 1975 sampai 1985 ini hanya bisa disaingi dalam hal jumlah pemirsa oleh acara hiburan Ketoprak. Tak ubahnya, barangkali, seperti ceramah mubalig kondang  “sejuta umat” KH Zainuddin M.Z., yang di kampung-kampung tertentu  pernah mengalahkan pesona siaran pertandingan sepak bola atau acara hiburan di televisi.

Banyak orang yang percaya, keislaman masyarakat Yogyakarta, terutama di perkotaan, sangat diwarnai oleh materi dakwah Pak AR. Apalagi ia juga mengasuh kuiah subuh di radio (RRI Yogya) serta rubrik tanya jawab di harian Kedaulatan Rakyat.

Aktivitas  KH A.R. Fachruddin di bidang dakwah sangat dikenal sebagai gerakan pemurnian ajaran Islam, dengan motto “amar makruf nahi munkar”. Apa yang disebut sebagai memurnikan ajaran Islam biasanya lalu dikaitkn dengan materi dakwahnya yang tidak memberikan toleransi pada takhayul, bid’ah, dan khurafat (populer dengan sebutan TBC, masih ejaan lama, red). Hal-hal yang di kalangan warga Muhammadiyah dianggap sebagai sumber ketidakmurnian tauhid.

Memang, materi yang menjadi kepedulian Pak Ar menyangkut apa yang disebutnya pemurnian tauhid. Ia membagi tauhid mejadi: tauhid murni dan tauhid syirik. Tauhid murni ialah tauhid yang diyakini dan dihayati tanpa menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun. Menurut dia, tauhid seperti ini diindikasikan ada sikap seseorang yang tidak ragu sedikit pun terhadap kekuasaan Allah, tidak sombong dan tidak gila sanjungan.

Sementara itu, tauhid syirik, menurut Pak AR adalah tauhid yang masih ditumpangi keraguan dan kepercayaan kepada yang lain selain Allah. “Indikasi atau tanda-tanda tauhid syirik tidak saja dalam bentuk penyembahan kubur, pohon besar, Nyai Roro Kidul (Ratu Pantai Laut Selatn, red), tetapi juga seorang yang berbuat untuk mendapatkan sanjungan dari orang lain,” katanya dalam sebuah pengajian.

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  16 September 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda