Tafsir

Tafsir Tematik: Takwa yang Bagaimana (2)

Written by Panji Masyarakat

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai muslim (Q. 3:102)

Dua Pengertian Islam

Itu poin pertama. Sementara itu, untuk teks asli yang kita terjemahkan menjadi “Jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai muslim,” Zamakhsyari memberikan makna: “Jangan sampai engkau mati kecuali dalam ihwal Islam.” Dalam ihwal (‘alaa haal) tidak sejelas sebagai. Tapi bisa memuat kedua-dua arti kata islam. Pertama, sebagai agama. Seperti kalau orang yang sakit meminta agar didoakan supaya mati “di dalam iman Islam”, alias bukan mati kafir.

Kalau begitu, “dalam ihwal Islam” berarti sebagai muslim, seperti terjemahan kita; atau sebagai muahhid, orang yang berpegang pada tauhid (Jalalain:52). Itulah makna yang dipakai mayoritas mufasir – termasuk, di Indonesia, A. Hassan, Hamka, Departemen (Kementerian) Agama.

Tetapi, islam juga berarti, seperti dipakai minoritas, menyerahkan atau berserah diri. Karena itu, muslim dalam ayat ini adalah orang yang “mengikhlaskan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sama sekali tidak kepada yang lain.” (Burusawi,  II: 71; l-Qasii, IV: 169). Itu sama dengn salinan Mohammde Marmaduke Pickthall (70): who have surrendered (unto Him). Begitu juga Hasbi Ash-Shiddiqy (I: 632)

Sandaran untuk itu ditunjukkan Al-Qasimi (loc. cit): “Dan siapakah yang lebih bagus keberagamaannya dari orang yang menyerahkan (aslama) wajahnya kepada Allah…”(Q. 4: 125). Jadi,menurut pengertian ini, penutup ayat di atas mestinya diterjemahkan: “Dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai orang-orang yang pasrah.” Kedua-duanya benar. Hanya, Muhammad Abduh memberi alasan untuk pilihan sebagai muslim itu: kata muslim dalam ayat itu datang setelah firman mengenai kaum kitabi, hanya dua ayat di atasnya: “…, mereka membalikkan kamu setelah beriman menjadi kafir” (Rasyid Ridha, IV: 19).

Baiklah. Tapi mengapa diterjemahkan “sebagai orang-orang yang pasrah”, dan bukan ‘dalam keadaan pasrah’?

“Yang disebut husnul khatimah (akhir yang baik), dalam hidup manusia,  bukan sesuatu yang mendadak.  … Ketika kanker yang menyerang lambungnya sudah merambah ke liver, alam keadaan tak sadar ia melakukan gerakan-gerakan seperti pencak silat. Tapi sebenarnya bukan karena ia tak pernah belajar silat. Itu adalah gambaran gerakan  wudu. Rupanya, dalam hidupnya ia selalu berusaha menjaga kesucian dengan berwudu.”

Kalau yang kedua itu yang diambil, ayatnya akan berbunyi; Walla tamuutunna illa muslimiin. Karena Islam (dalam arti apa pun) di situ berstatus keadaan, ia tidak bersifat tetap (Qasimi, loc. cit.). Orang bisa kafir sebelumnya, atau muslim dan kafir berganti-ganti, lalu ketika mati berada dalam keadaan muslim atau pasrah. Makanya, ayatnya tidak begitu. Karena itu pula Ibn Katsir memberi makna penutup ayat ini: “Peliharalah Islam baik-baik pada dirimu, dalam keadaan kamu sehat dan selamat, agar dapat kamu mati di dalamnya.” Sebab, diterangkannya, “Siapa yang hidup dalam sesuatu, mati di dalamnya. Siapa yang mati di dalam sesuatu, dibangkitkan di dalamnya.” (Ibn Katsit, I: 388).

Itu berati, yang disebut husnul khatimah (akhir yang baik), dalam hidup manusia, logikanya, adalah bukan sesuatu yang mendadak. Ada satu cerita, yang menangkut seorang saudara. Di saat kanker yang meyerang lambungnya sudah merambah ke liver, di pembaringannya, dalam keadaan kesadarannya sudah putus hubungan dengan dunia luar, saudara kita itu (yang kebetulan adik ipar penulis ini) seringkali melakukan gerakan-gerakan seperti pencak silat. Istrinya sampai menangis melihatnya.

Tetapi, setelah diamati, ternyata bukan gerakan silat. Tanganya seperti berusaha meraih wajah. Secara terputus-putus, ia tampak seperti mencoba menyingsingkan lengan baju – yang kelihatan bagai gerakan silat. Layaknya, kadang-kadang teringat, kadang-kadang terlupa, ia berjuang mengangkat kaki – seperti sedang berusaha menggapai ujungnya. Itu semua gambaran gerakan wudu.

Rupanya, dari bawah sadarnya, di tengah erangan-erangan yang tak jelas akibat rasa sakit luar biasa, ia, jiwanya, bolak-balik berwudu. Ia tak pernah belajar silat. Tapi kebiasaan dalam hidupnya, yang selalu berusaha memelihara kesucian dengan berwudu, yang begitu mencintai wudu, mengantarkan ruhnya sampai ke akhir hayatnya. Allah menerimanya  dalam rahmat-Nya. Amin. Itulah salah satu contoh, bagi kita, dan salah satu tafsir yang cocok untuk ” Dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai muslim.”                  

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Panji Masyarakat, 17 Juni 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka