Adab Rasul

Silaturahmi Lebih Utama Dari Puasa Sunah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Pada suatu Kamis siang di awal tahun 2000-an, di kantor penulis diselenggarakan pertemuan sejumlah tokoh dan sahabat, di antaranya Prof.K.H.Ali Yafie dan Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden Indonesia periode 1993 -1998. Sebagaimana kebiasaan jika ada sahabat dekat pada jam makan siang, lebih-lebih untuk Puang Ali Yafie yang tidak mau makan sembarangan, maka makanan dimasak sendiri oleh isteri penulis.

Tatkala penulis mempersilakan beliau-beliau untuk mulai makan. Pak Try yang rajin menjalankan puasa sunah mengatakan, mohon maaf sedang menjalankan puasa Senin – Kamis.

Menanggapi hal tersebut Guru Besar Ilmu Fikih, Prof Ali Yafie sembari juga memohon maaf kepada pak Try, mengemukakan secara fikih dan hadis Nabi, keutamaan silaturahmi itu lebih tinggi dibanding puasa sunah. Bertamu dan dijamu makan oleh tuan rumah, apalagi dimasak sendiri, adalah sebuah kehormatan dalam silaturahmi yang perlu saling disambut baik. Oleh sebab itu agar tidak mengecewakan tuan rumah sehingga mengurangi hakikat silaturahmi, seyogyanya puasa sunah dibatalkan.

Atas penjelasan tersebut, Pak Try yang sangat menghormati ulama pun sami’na wa atho’na, membatalkan puasanya, sehingga kami dengan perasan lega tanpa sungkan satu sama lain, makan bersama.

Tentang silaturahmi dan puasa sunah, ada suatu peristiwa ketika Rasulullah bersama beberapa sahabat berada di sebuah jamuan makan. Beberapa sahabat bersikukuh tidak mau makan karena sedang menjalankan puasa. Rasulullah kemudian bersabda, “Saudara muslimmu sudah repot (menyediakan makanan) dan kamu berkata, ‘Saya sedang berpuasa?’ Batalkanlah puasamu dan gantilah pada hari lain” (HR Ad Daruquthni dan Al Baihaqi).

Berdasarkan hadis ini, para ulama menyatakan membatalkan puasa sunah ketika mendapat jamuan makan adalah perintah Nabi Saw. Pembatalan tersebut dinyatakan sebagai bagian dari upaya menyenangkan hati tuan rumah. Hal ini seperti dijelaskan Ibnu Abbas RA yang dikutip Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin.

Menurut mereka, menghadiri undangan persahabatan adalah wajib. Oleh sebab itu jika puasa yang dilakukan adalah puasa sunah, apalagi masih ada waktu lain untuk melakukannya, maka mendahulukan yang wajib lebih utama. Dalam Madzhab Syafi’i, diyakini walau puasa sunahnya batal, pahala puasa tetap diperoleh.

Silaturahmi berasal dari dua kata bahasa Arab, silah (hubungan) dan rahim (kasih sayang), hubungan kasih sayang karena kekeluargaan. Rahim juga bisa berarti tempat janin. Tapi keduanya menunjukkan kedekatan hubungan, yang dilandaskan kasih sayang persaudaraan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) silaturahmi adalah tali persahabatan dan persaudaraan.

Banyak hadis tentang silaturahmi baik manfaatnya bagi yang suka menjalankan, maupun keburukannya bagi yang merusak. Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.” Dalam kesempatan lain beliau memperingatkan, “Tidak akan masuk surga pemutus silaturahmi.”

Menjalin tali persahabatan dan persaudaraan yang dilandasi kepedulian serta cinta kasih terhadap sesamanya, sudah menyatu dalam kehidupan Rasulullah semenjak masih kanak-kanak. Junjungan kita ini adalah orang yang sangat suka menjalin tali kekerabatan, baik kepada yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Saat berumur tujuh tahun, atau satu tahun setelah ibundanya wafat, Muhammad kecil yang yatim piatu, pergi mengunjungi makam sang bunda nan jauh letaknya di Yatsrib.

Abu Hurairah menceritakan, suatu ketika Rasulullah berziarah ke makam ibunya, lalu menangis sampai membuat orang di sekelilingnya ikut menangis. Kemudian beliau bersabda, Aku minta izin kepada Allah untuk meminta ampun atas ibuku, tapi tidak diberi izin. Kemudian, aku minta izin untuk menziarahi makamnya, lalu aku diizinkan. Maka, ziarahilah kuburan, karena akan mengingatkan kamu pada kematian.

Dalam suatu riwayat Imam Muslim yang lain,  dari Abdullah bin Mas’ud, melihat Rasulullah menangis, Umar bin Khattab  bertanya: “Apa yang mengundang tangismu? Tangismu menjadikan kami menangis dan takut.”  Kanjeng Nabi bertanya: “Apakah tangisanku menakutkan kalian?” Umar pun menjawab, benar wahai Nabi. Nabi pun menjawab: “Kubur yang kalian lihat aku berbisik di sana adalah kuburan ibuku, Aminah binti Wahab. Aku meminta izin kepada Allah Swt untuk menziarahinya, dan aku diizinkan”

Perintah Allah untuk menggalang tali persaudaraan, digariskan dalam penutup Surat An Nissa ayat 1, serta dipertegas dalam Surat Muhammad ayat 22 – 23, “Maka apakah jika kamu berkuasa akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan persaudaraan. Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah, dipekakkan telinganya, dibutakan matanya (dari kebenaran)”.

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad yang mendunia sejak awal 1970an, penulis Mesir Muhammad Husein Haekal menggambarkan kekuatan menghadapi kehidupan yang dijalankan Rasulullah, yang kemudian dijadikan dasar keteladanan dalam menggalang kepedulian dan persaudaraan. Yakni kekuatan yang tak dapat dipengaruhi oleh perasaan lemah, tak dapat diperbudak oleh kekayaan, oleh harta benda, oleh kekuasaan atau oleh apa saja yang akan menguasainya, selain Allah.

Persaudaraan murni, ikhlas dan mulia seperti itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Maka apabila ia mengunjungi sahabat-sahabatnya, ia pun duduk di mana saja ada tempat yang terluang. Ia bergurau dengan para sahabat, bergaul dengan mereka, diajaknya bercakap-cakap, anak-anak mereka pun diajaknya bermain dan didudukkan dipangkuannya.

Itulah pengamalan dari kekuatan cinta dan kasih sayang Kanjeng Nabi, sesuai dengan hadis qudsi yang didengar oleh Abdurahman bin Auf, “Aku adalah ar-Rahman, Zat Yang Mahapengasih. Aku telah menciptakan Rahim dan Aku ambil namanya dari nama-Ku. Orang yang menyambungnya, pasti Aku sambungkan dia. Sebaliknya, orang yang memutusnya, pasti Aku putuskan dia.” (HR.Abu Dawud).

Maka wahai sahabat-sahabatku, marilah kita hayati nasihat Rasullah yang dikisahkan oleh Aisyah, “Orang yang diberi kasih sayang, dia telah diberi jatah kebaikan dunia dan akhirat. Silaturahmi, hidup bertetangga dengan rukun dan berakhlak terpuji, keduanya dapat memakmurkan negeri dan menambah umur.” (HR.Ahmad).

Dan sejalan dengan sabda Kanjeng Nabi Muhammad, semoga kita bangsa Indonesia dianugerahi menjadi suatu kaum sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, “Allah pasti memakmurkan negeri suatu kaum, serta melimpahkan harta mereka. Selain itu Allah tidak pernah memandang mereka dengan pandangan murka, semenjak mereka diciptakan.” Bagaimana itu bisa terjadi, lanjutnya, “dengan menyambung tali silatrahmi di antara mereka.” (HR ath-Thabrani).

Cukup jelas ayat, hadis dan keteladanan Kanjeng Nabi tentang silaturahmi. Karena itu ayo terus kita pintal tali silaturahmi dengan sesamanya, dengan sanak saudara, kaum kerabat, tetangga dan teman-teman. Gesekan dalam pergaulan adalah hal yang wajar. Ketidakcocokan juga biasa, namun tidak berarti harus putus tali silaturahmi.

Di era digital sekarang, perwujudan silaturahmi pun dipermudah, tidak harus memaksakan diri berkunjung secara fisik atau mengirim cindera mata dan makanan, tapi bisa sesekali mengirim doa minimal ucapan salam melalui telpon genggam. Sebaliknya, balaslah apabila menerima kiriman doa seperti itu. Masa sih, didoakan tidak mau, tidak merespon? Kalau ini terjadi macam apa pula kita ini? Naudzubillah.

Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda