Pengalaman Religius

Seto Mulyadi (2): Yang Sederhana Yang Langgeng

Muzakkir Husain
Written by Muzakkir Husain

Rangkaian ibadah dalam Islam tak ubahnya mata rantai aktualisasi segala potensi kemanusiaan seseorang. Secara ilmiah ini bisa dipahami sebagaimana ditemukan seto Mulyadi, akrab dipanggil Kak Seto, dalam perjalanan hidupnya yang penuh liku.

Kasih Eyang Kebumen

Bersamaan dengan itu, rasa terima kasih saya kepada Eyang Putri juga kembali timbul di dalam hati. Nenek dari ayah yang tinggal di Kebumen, Jawa Tengah – itu memang salah seorang yang paling berjasa dalam membentuk kepribadian saya. Karena beliaulah saya bisa menghayati nilai-nilai agama. Karena beliaulah saya bisa tahu bahwa dunia anak-anak itu indah. Berkat beliau pula saya mengerti bahwa yang diperlukan anak-anak dalam dalam masa pertumbuhannya adalah ketulusan, kasih sayang, penghargaan, dan kesungguhan. Dan Eyang Kebumen tidak pernah mengucapkan itu dalam kata-kata.

Seperti pada suatu hari, ketika saya berusia enam tahun. Siang itu, ayah dan ibu sedang pergi ke luar kota. Di rumah, kami ditemani Eyang Putri yang kebetulan berkunjung ke rumah kami di Klaten (Jawa Tengah). Kami, sebagaimana umumnya anak-anak, sibuk main di halaman.

Saking asyiknya bermain, kami tidak sadar kalau Eyang mulai terganggu oleh suara ribut yang kami timbulkan. Ada saja memang yang kami lakukan: memukul-mukul dinding, mengetok-ngetok pintu, berteriak, dan banyak lagi. Eyang menghampiri kami: “Jangan berisik, Eyang ingin istirahat,” katanya.

Teguran itu tidak kami gubris. Suara berisik tetap terdengar, bahkan sampai ke rumah tetangga. Eyang kembali keluar, mengulang tegurannya. Bukannya nurut, kami malah berlarian naik ke atap rumah. Kami sepertinya kehilangan kendali, entah kenapa. Eyang tentu saja khawatir dan berteriak-teriak menyuruh kami turun.

Di atap saya menemukan tampah yang sudah tidak terpakai karena bolong-bolong. Entah mendapat ide dari mana, tampah itu saya lemparkan ke bawah dan mengenai Eyang hingga beliau bukan main terkejut. Waduh, kami pun ikut kaget. Eyang, mungkin saking kesalnya, hanya bisa menangis. Pelan-pelan dia masuk ke rumah, tanpa sepatah kata pun. Kami hanya bengong.

Dengan perasaan menyesal yang sangat, kami akhirnya turun dan masuk melihat Eyang. Anehnya, Eyang sama sekali tidak marah. Beliau justru pergi mengambil wudu. Lalu salat. Pada saat itulah hati saya betul-betul luluh. Rasa bersalah memenuhi dada saya. Dari sudut ruangan, kami hanya bisa duduk menyaksikan Eyang berdoa.

Bersama Anak-anak

Sampai malam hari, Eyang tak kunjung memarahi kami. Seakan tak pernah terjadi apa-apa,kami tetap dielus sayang sambil didongengi sebelum tidur. Seperti biasa, Eyang bercerita tentang masa kecil Rasulullah, dan kisah nabi-nabi lainnya. Sikap Eyang yang tulus,  seakan menjadi tonggak sejarah hidup saya, justru membuat saya lebih menuruti semua nasihat Eyang: rajin salat, suka bertanya tentang agama, dan berperilaku baik.

Itulah eyang kami. Hampir setiap pekan saya mengunjungi beliau, menikmati dongengannya, menyimak baik ajaran-ajarannya, merasakan kasih sayangnya, dan pelan-pelan mewarisi pandangan-pandangan hidupnya. Bagi Eyang, pendidikan agama itu jangan dengan cara dipaksakan, Tapi ditumbuhkan dari dalam. 

Berwudu, misalnya, berguna untuk menyegarkan wajah, menjaga kebersihan, menimbulkan semangat. “Kalau ndak berwudu, rasanya ndak enak, toh?” ujarnya setiap waktu. “Sehabis salat, rasanya kok wajah menjadi berseri-seri, hati lebih tenang, jiwa lebih optimistis.” Demikian beliau sering mengatakan. Kedengarannya sederhana. Tapi bagi saya itu lebih langgeng. Ajaran agama, hemat saya, harus bisa membawa kita kepada kebahagiaan di dunia, bukan sekadar janji di akhirat.              

Bersambung

Sumber: Panji Masyarakat,  17 Juni 1998

About the author

Muzakkir Husain

Muzakkir Husain

Wartawan Majalah Panji Masyarakat (1997-2001)

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566