Muzakarah

Suami Istri Saling Marahan

Written by Panji Masyarakat

Pertanyaan :
Hampir 10 tahun kami berumah tangga, dan sudah tiga orang anak kami. Kadang ribut jika muncul masalah. Kalau sudah begini, biasanya kami tak saling tegur sapa. Kalau saya lihat suami menekuk muka, saya lebih lagi. Begitu pula sebaliknya. Setelah lewat seminggu, barulah kami bertegur sapa lagi. Ya, karena tidak tahan diem-dieman terus. Ustadz, bagaimana sikap kami ini dipandang dari hukum Islam? Mohon saya diberi nasihat.
Aminah (Bekasi, Jawa Barat)

Jawaban Prof. Dr. KH Ibrahim Hosen (alm), waktu itu Ketua Komisi Fatwa MUI

Saudari Aminah, pertengkaran dalam rumah tangga itu lumrah. Ibarat masakan, pertengkaran itu bumbunya. Biasanya habis bertengkar, kita malu-malu, seperti pengantin baru. Tapi, bumbunya jangan pula kebanyakan. Tak enak makanan itu nanti, atau malah kita bisa keracunan.
Kalau terpksa Anda tidak bertegur sapa, jangan lebih dari tiga hari. Itu batasnya. Kalau lewat dari tiga hari, menurut Islam sudah memutus tali silaturahim. Memutus silaturahim antarsesama muslim, apalagi antara suami dan istri, dosa hukumnya. Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumidan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (Q. 47:22). Sabda Nabi, “Tidak ada suatu dosa yang lebih patut disegerakan Allah balasannya, di samping azab yang disediakan bagi pelaku di akhirat nanti, daripada berbuat zalim dan memutus tali silaturahim.” (HR Ahmad dan Abu Bakrah).

Kalau terlalu lama orang tidak bertegur sapa, sehingga memutus tali silaturahim, dikhawatirkan akan terputus pula ia dari petunjuk Allah. Kalau sudah begitu, bisa-bisa iblis yang masuk. Akibatnya, mungkin istri menyeleweng,atau suami yang berbuat serong. (Karakter lelaki itu kan “membuang”. Apakah sanggup ia menahan sampai seminggu?). itu pun masih tergolong enteng. Yang berat, terutama jika suami ringan tangan, mungkin ia terdorong untuk menganiaya, bahkan membunuh istrinya, seperti sering banyak terjadi.
Karena itu, sebaiknya Anda dan suami kembali ke agama. Tidak memperturutkan hawa nafsu. Kalau terjadi cekcok, sebaiknya Anda cepat-cepat melakukan ishlah, perdamaian. Jangan sampai berlarut-larut. Kalau bisa, jangan sampai tak bertegur sapa, meski cuma sehari, sehingga tak ada kesempatan bagi iblis, sedetik pun, untuk masuk.

Rumah tangga itu, Saudari Aminah, tak ubahnya perahu. Menjadi tanggung jawab Anda berdua untuk menjaga perahu itu agar tak oleng, apalagi sampai tenggelam. Adalah tanggung jawab Anda berdua untuk menjadikan suasana nyaman, suasana surga, dalam perahu tersebut. jadikan diri Anda seerti pohon rindang yang memberi keteduhan dan ketenterman buat suami Anda. Berfirman Allah, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (Q. 30:21). Sebaliknya, Allah mewajibkan kepada suami Anda agar berbuat baik kepada Anda. “Dan pergaulilah mereka (istrimu( dengan makruf.” (Q. 4:19). Alhasil, Anda dan suami harus saling memberi (selain menerima), saling berkorban untuk kebahagiaan pihak lain. “Mereka (istrimu) adalah pakaian bagi kamu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (Q. 2:187). Seperti pakaian yang menutupi aib dan cacat-cacat kebatinan masing-masing.
Memang ini tidak mudah. Harus ada usaha yang sungguh-sungguh dari kedua pihak untuk memahami yang lain. Karena itu mesti ada dialog yang terus-menerus, terutama kalau sedang ada badai. Sayang Anda tidak menyebutkan masalah Anda sehingga saya tidak dapat memberikan nasihat yang spesifik. Tapi intinya, ya, itu: saling bertenggang rasa, saling menjadi pakaian bagi yang lain.

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 22 Juli 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka