Jejak Islam

Menelusuri Lorong Keislaman Keraton Yogyakarta (2)

Hamid Ahmad
Written by Hamid Ahmad

Di Keraton Yogyakarta ada lebih 450 naskah kuno keislaman yang bernilai sastra tinggi. Kisah dan sejarah proses penyerapan ajaran Islam yang dihayati kerabat kerajaan atau masyarakat Jawa umumnya bisa ditemukan di sana. Naskah-naskah itu biasa dibaca dalam berbagai acara oleh para kerabat Keraton. Sebagian besar berbentuk tembang-tembang Jawa. Sayang, naskah-naskah itu ditulis dalam aksara Jawa, dan tentu saja dalam bahasa Jawa, sehingga tidak sembarang orang bisa mengkaji. Ya, orang yang bisa bahasa Jawa sekalipun. Kan belum tentu menguasai abjad Hanacaraka. Untuk itu, pihak Keraton telah berikhtiar dalam beberapa tahun terakhir  ini untuk melakukan alih aksara (transliterasi) dan penerjemahan. Lima naskah di antaranya yaitu Babad Demak, Mingsiling Kitab, Tajussalatin, Kitab Ambiya Jawi, dan Kadis Ngabdul Kadir Jaelani, sudah rampung dindonesiakan.

Secara kategoris, kelima naskah itu – juga naskah-naskah lainnya – bisa dibedakan menjadi: naskah serat (empat naskah selain Babad Demak) dan naskah babad. Naskah serat umumnya ditandai dengan isinya yang banyak menyangkut ajaran. Tajussalatin (Mahkota Raja-raja) misalnya, yang merupakan terjemahan dari  kitab Melayu karya Bukhari Al-Jauhari dengan judul yang sama, berisi ajaran tentang kewajiban dan erbuatan baik yang mesti dilaksanakan para raja, menteri, perwira, pejabat kerajan, dan rakyat. Di situ juga disuguhkan contoh kepemimpinan raja yang ideal, yaitu Nabi Muhammad s.a.w, empat khalifah pertama (KhulafaurRasyidin) dan para penerusnya, termasuk Harun Ar-Rasyid dari dinasti Abbasiyah, parasahabat Nabi dan pendukung mereka,para nabi serta raja-raja Persia, Imam Syafi’i, bahkan juga para pemikir Yunani dan Iskandar Zukarnain. Sedangkan Misingling Kitab (Misil dari Kitab) justru berisi uraian yang lebih lengkap sebagai kitab ajar. Ada uraian mengenai salat lima waktu, berikut falsafah yang melatarbelakanginya, dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa besar para nabi. Ada paparan mengenai dasar-dasar hukum Islam: Alquran, hadis, ijmak, dan qiyas. Ada pula rukun iman, meski yang diurai hanya lima rukun, yaitu iman kepada Allah, malaikat, para nabi, kitab-kitab suci, dan hari akhir. Sedang qadha dan qadar tidak disinggung.

Adapun naskah babad, banyak mengisahkan cerita kerajaan. Babad lebih merupakan karya sastra sejarah, meskipun tak jarang data yang dicantumkan bercampur dengan mitos-mitos. Oleh karenanya, dalam mengkaji naskah babad ini sangat diperlukan penyaringan yang cermat terhadap data historis yang disajikan sehingga naskah babad ini bisa dijadikan sumber penulisan sejarah.

Alur Sejarah

Keraton di Jawa merupakan “pusat kebudayaan”, bahkan penentu corak kebudayaan yang mempengaruhi kebudayaan di luarnya. Bahkan kebudayaan yang dibina kalangan pesantren dianggap sebagai budaya pinggiran, periferal.

Islam memang sudah berhasil menembus tembok kerajaan Mataram, khususnya sejak Sultan Agung. Tapi sebenarnya tak pernah berhasil merasuk secara tuntas. Termasuk ke dalam keraton-keraton Surakarta dan Yogyakarta, yang bisa disebut  kelanjutan dari Mataram. Sungguh tak mudah. Daya resepsi keraton untuk budaya spiritual keagamaan masih terbatas pada format tasawuf, sementara pengaruh keraton sebelumnya,  yaitu  Mataram  Hindu, tak bisa begitu saja dilepaskan.

Dengan demikian, masih ada semacam penerusan dari khazanah sastra Hindu zaman Mataram pra-Islam, pada keraton-keraton Surakarta dan Yogyakarta, yang  merupakan pecahan kerajaan Mataram Islam. Penyerapan karya sastra bercorak Hindu ini dapat dilihat pada sisi filosofis, atau pada nuansa “ajaran tersirat” di dalam yang tersurat. Tradisi memahami yang tersirat inilah yang melembaga dalam khazanah sastra Jawa. Bahkan sampai pada kebiasaan berpikir masyarakat Jawa secara luas. Itulah sebabnya pengenalan agama Islam lewat format  tasawuf lebih pas di sini. Karena dalam pembicaraan dunia tasawuf seringkali hal-hal yang bersifat “tersirat” inilah yang menarik.

Corak tasawuf sangat kuat kita temukan pada kelima naskah tadi, khususnya empat naskah serat. Kitan Ambiya Jawi I, misalnya, yang merupakan turunan dari Serat Ambiya (disusun di bawah Kerajaan Kartasura, pewaris kerajaan Mataram) dan berisi cerita rekaan  tentang penciptaan alam semesta serta penciptaan Nabi Adam hingga Nabi Yusuf , menganut paham tasawuf heterodoks (seperti diajarkan Al-Hallaj, Ibn Arabi dan lain-lain). Naskah ini mengawali uraian tentang penciptaan alam dan seluruh isinya dengan teori emanasi, melalui Nur Muhammad. Tapi, berbeda dengan teori Nur Muhammad yang ahistoris,  dan Ibn Arabi atau kaum sufi lainnya, Nur Muhammad dalam kitab Ambiya digambarkan sebagai sosok historis yang punya raga dan keringat. Dari keringat wadana atau wajahnya Allah menciptakan Arasy, Kursi, matahari dan bulan;  dari keringat dadanya tercipta para nabi dan rasul, para wali, para syuhada, shalihin, umat Muhammad dan mukmin pria dan wanita; dari keringat aliasnya Allah menjadikan roh-roh orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lain-lain; serta dari keringat kakinya diciptakan  bumi dan isinya serta pepohonan yang segala yang ada di muka bumi. Lalu ketika Nur Muhammad menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke de belakang, terciptalah empat sahabat Nabi yang jadi khulafaur rasyidun: Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Lantas dia bersujud lima kali kepada Allah. Dan inilah yang disebut sebagai pangkal disyariatkannya salat lima waktu.       

Bersambung.

Ditulis berdasarkan laporan Abdul Rahman Ma’mun  (Yogyakarta); Sumber  Majalah Panji Masyarakat, 29 Juli 1998.

About the author

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda