Cakrawala

Hijrah Dan Oligarki Jahiliyah

Sebenarnya banyak pelajaran bisa kita petik dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Yatsrib. Salah satunya adalah: penyebaran kebenaran tidak pernah hanya menyangkut kebenaran itu sendiri; tapi akan selalu bersinggungan, bergesekan atau bahkan berkonfrontasi dengan kepentingan-kepentingan lain yang merasa terganggu oleh kehadirannnya.

Sudah banyak ditulis, dan mungkin kita juga sudah hafal; betapa sejak awal dakwahnya, Rasulullah langsung mendapat tentangan keras dari kalangan yang kita sebut sebagai kafir Quraisy. Landasan bagi penentangannya adalah bangunan nilai yang oleh Al Qur’an disebut sebagai jahiliyah.

Di awal dakwah Rasulullah, baik ketika masih bersifat tertutup di Dar Al Arqam mau pun ketika mulai dilakukan secara terbuka, kita lihat bahwa penolakan kalangan kalangan Quraisy seolah murni soal ‘akidah’; soal ajaran Islam yang sepenuhnya menentang ajaran jahiliyah. Kecuali lewat fitnah dan pembunuhan karakter; mereka juga intensif menggunakan kekerasan untuk memaksa, menyiksa dan kalau perlu membunuh para pengikut Rasulullah agar meninggalkan ajaran Islam dan kembali ke kepercayaan jahiliyah. Salah satu contohnya adalah penyiksaan atas Bilal bin Rabakh.

Baru di bagian tengah akhir periode dakwah Rasul di Makkah, kalangan Quraisy mencoba mengubah strateginya. Mereka menawarkan harta dan perempuan pada Rasulullah, sambil sekaligus menawarkan penggabungan atau semacam sinkretisme ajaran, antara Islam dan kepercayaan jahiliyah, sebagai solusi mengakhiri konflik. Sesuatu yang jelas ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah.

Kenyataan ini menarik untuk diamati karena menunjukkan satu fakta penting, yaitu: bagi elite Quraisy titik tekan permasalahan tampaknya tidak sekadar pada konflik ‘akidah’ antara ajaran Islam dengan kepercayaan jahilyah; tapi sangat diwarnai juga dengan konflik kepentingan atas kekuasaan di masyarakat Makkah. Mereka melihat bahwa berjayanya ajaran Islam akan mengeroposi bangunan sosial-budaya yang menjadi landasan kekuasaan mereka.

Naluri untuk mempertahankan kekuasaanlah yang membuat mereka rela mengusulkan ‘penggabungan’ kepercayaan jahiliyah dengan ajaran Islam. Sangat jelas terlihat bahwa mereka berasumsi: dengan penggabungan tersebut otomatis akan terjadi pembagian kekuasaan antara mereka dengan Rasulullah, dan dengan demikian menjamin kelanggengan kekuasaan mereka.

Elite Quraisy yang per definisi bisa disebut sebagai oligarki ini, sadar atau tidak sejak awal memang lebih merasakan kehadiran Rasulullah dan ajaran Islam yang dibawanya, sebagai ancaman potensial bagi kekuasaan mereka. Serangan terhadap nilai-nilai jahiliyah oleh ajaran Islam, secara sekaligus mereka tangkap sebagai bentuk tantangan terhadap kekuasaan mereka. Apalagi dalam kenyataannya banyak keluarga, anggota klan atau budak yang mereka miliki, kemudian terbukti lebih taat pada Rasulullah dibanding kepada mereka.

Dari sisi ini, bisa dilihat bahwa pada dasarnya elite Quraisy tidak pernah sepenuhnya mau melihat Islam sebagai ajaran kebenaran, sebagai wahyu Allah; tapi lebih sebagai bangunan dasar bagi kekuasaan. Sikap ini misalnya tercermin dalam percakapan antara Abu Sufyan dengan paman Nabi, sayyidina Abbas; yang berlangsung setelah peristiwa Fathul Makkah.

Saat itu Abu Sufyan sempat nyeletuk “sungguh kerajaan putra saudaramu kini telah menjadi besar.” Sayyidina Abbas pun lantas menghardiknya, “hai Abu Sufyan, ini adalah kenabian.” Abu Sufyan membalas “baiklah jika memang demikian.” Percakapan ini tercatat berlangsung setelah Abu Sufyan resmi memeluk Islam. Kenyataan tersebut bisa diartikan bahwa menjadi muslim tak otomatis menghilangkan naluri Abu Sufyan sebagai elite Quraisy, yang selalu memandang bahwa persoalan utamanya tak pernah jauh dari masalah kekuasaan.

Apa yang kemudian dibangun Rasulullah di Madinah, pada dasarnya mematahkan semua anggapan elite Quraisy. Rasulullah tidak membangun kerajaan, tidak memosisikan dirinya sebagai penguasa apalagi raja. Lewat Piagam Madinah dan proses pembangunan Madinah secara keseluruhan, Rasulullah justru membangun peradaban yang egaliter; yang memuliakan manusia dan kemanusiaannya berdasar kasih sayang, yang menerapkan keadilan sebagai pijakan interaksi sosial-ekonomi-politik masyarakat, yang selalu mengutamakan kalangan yang lemah dan atau dilemahkan, dan seterusnya.

Itulah hasil hijrah Rasulullah. Hijrah yang tampaknya sudah digagas oleh Rasulullah saat berupaya mendekati masyarakat Thaif. Hijrah menjadi jalan keluar yang tak terhindarkan karena oligarki jahiliyah di Makkah tak pernah bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran, tapi lebih sebagai soal merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Tampaknya pertarungan antara mereka yang berjuang menegakkan kebenaran sebagai kebenaran, dengan mereka yang memandang kebenaran hanya sebagai bagian dari upaya membangun atau mempertahankan kekuasaan, adalah pola yang tetap dan selalu berulang dari zaman ke zaman.

Nabi Musa harus keluar dari Mesir karena dianggap mengancam kekuasaan Fir’aun. Nabi Isa diserang karena dianggap mengganggu kekuasaan para pendeta Yahudi. Bahkan tak jauh dari masa hidup Rasulullah, pola yang sama sudah muncul kembali, setidaknya seperti terlihat dalam persoalan antara sayyidina Ali dengan Mu’awiyah, putra Abu Sufyan. Yang terakhir tersebut bahkan kemudian meletakkan dasar bagi dibangunnya dinasti kerajaan atas nama Islam. Sesuatu yang dampaknya masih sangat kita rasakan sampai sekarang, termasuk dalam pemahaman kita terhadap ajaran Islam.

Apakah saat ini kita juga sedang menghadapi pertarungan yang sama? Jawaban jelas: sangat mungkin iya.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda