Hamka

Ulama Ibarat Kue Bika dalam Panggangan

Written by A.Suryana Sudrajat

Menopang supaya tegak; membimbing supaya dapat berjalan; memapah supaya tidak jatuh; menarik naik jika tergelincir jatuh; tegak ke muka kalau datang mengancam.

Itulah laku seorang pemimpin, sebagai digambarkan Buya Hamka. Kata dia, pemimpin sejati adalah satu  jiwa atau satu pripadi yang lain dariada yang lain. Jka  tidak bisa memimpin orang ramai, kata buya, sekurang-kurangnya ia bisa memimpin istri dan anak-anak alias keluarganya. Menurt ajaran Islam, syarat minimal seorang pemimpin adalah mukallaf yaitu  orang yang telah dewasa (baligh) dan berakal.

Menurut Buya, seseorang bisa terpilih menjadi pemimpin karena dia diakui lebih kuat, lebih pandai, dan lebih dapat dikemukakan atau dikedepankan. Dia bersedia naik, yang lain rela  turun. Dia siap mengatur, yang lain mau diatur. Faktornya bermacam-macam, dan  salah satunya karena keturunan. Kata Buya, seorang anak ulama atau pemimpin agama bisa menjadi ulama pula karena lingkungan pergaulan dan kebiasaan di dalam rumah orangtuanya yang dilihatnya sejak kecil.

Hamka menyebut posisi  pemimpin agama atau ulama bukan sebagai kedudukan duniawi yang  enak, tapi justru sebalknya. Penuh bahaya. “Seorang tidak patut dijadikan pemimpin agama bila takut berkurban atau ingin mencari kedudukan di samping penguasa,” ungkap ketua umum pertama MUI ini. Dia menegaskan, dalam menasihati pemegang kekuasaan hendaknya dilakukan “dengan ikhlas dan jujur, dengan kata lemah lembut dan dari rasa cinta, sunyi daripada membukakan aib dan menghinakan,  sunyi daripada kasar dan maksud jahat , yang semuanya itu tidak diizinkan oleh tabiat kemanusiaan yang sempurna.”

Dalam pada itu, penguasa yang diberi nasihat, kata Buya, “haruslah insaf bahwa lantaran pangkatnya itu tidaklah dia tertinggi pada sisi Allah sehingga akan sama derajatnya denga nabi. Pada sisi Tuhan tidak berbeda harganya dengan rakyat si pemberi nasihat itu.”

Yang menarik, Buya menggambarkan posisi ulama di tengah masyarakat, ibarat  memasak atau  memanggang  kue bika,  atau juga sebut bika ambon. “Dari bawah dinyalakan api, api yang dibawah itu ialah berbagai ragam keluhan rakyat. Dari atas dihimpit dengan api, api yang dari atas itu ialah harapan pemerintah.” Nah,  jika berat ke atas atau ke pemerintah, niscaya putus dari bawah, rakyat.  Dan putus dari bawah, otomatis berhenti jadi ulama yang didukung rakyat. Bagaimana jika berat ke bawah? “Berat kepada rakyat, hilang hubungan dengan pemerintah, maksudnya tidak berhasil. Pihak pemerintah bisa saja mencap tidak berpartisipasi dengan pembangunan. “ Lebih jauh Buya menyatakan:

“Pemimpin agama, ulama, kiai, lebai, ajengan. Tulah  (ahli) waris daripada nabi-nabi. Nabi yang tidak meninggalkan harta benda, tetapi meninggalkan pengajaran dan tuntunan yang disampaikan kepada umat manusia. Ulamalah pelita di waktu sangat gelap. Ulamalah penunjuk jalan di belukar hidup yang  tak tentu arah. Ulamalah pemberontak kekuasaan sewenang-wenang, melawan kezaliman dan aniaya. Kebesarannya terletak dalam jiwa, bukan dalam pakaiannya yang menterang, baik jubah dan serban, atau tasbih dan tongkat kebesaran.”

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka (2018)        

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda