Tasawuf

Stasiun-Stasiun Penempuh Jalan Tasawuf

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Berawal dari Gerakan Protes

Khalifah Umar ibn Abdil Aziz bukan main kaget ketika menerima kabar bahwa salah seorang putranya membeli permata yang sangat mahal. Ia pun segera berkirim surat.  Ini isinya: “Aku dengar kamu membeli sebutir permata seharga 1.000 dirham. Jika surat ini sampai, juallah cincin itu dan berilah makan 1.000 orang miskin. Lalu buatlah cincin seharga dua dirham dari besi Cina. Lalu kamu tulis di situ: ‘Allah mengasihi orang yang tahu harga dirinya yang sebenarnya’.”

Di antara penguasa-penguasa dinasti Umaiyah, boleh dibilang hanya Umar ibn Abdil Aziz yang dikenal hidupnya sederhana – selain seorang  yang adil. Khalifah-khalifah lainnya hidup dalam gelimang kemewahan. Pola hidup yang juga dianut para penguasa Abbasiah, dinasti penerus kekuasaan Umaiyah.

Kemewahan yang dipertontonkan khalifah, keluarga, dan para pembesar  lainnya itu menimbulkan reaksi di kalangan sebagian kaum muslimin yang ingin mempertahankan kesederhanaan hidup pada zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin. Mereka melancarkan protes dalam bentuk gerakan hidup yang cenderung isolatif, ‘uzlah. Gerakan protes ini tumbuh di beberapa kota, antara lain Kufah dan Basrah, dengan tokoh-tokohnya seperti  Al-Hasan Al-Basri (wafat  110 H), Sufyan Ats-Tsauri (wafat 135 H.), dan Rabi’ah Al-Adawiah (w. 185). Juga di Khurasan dengan munculnya Ibrahim ibn Adham, seorang anak penguasa di Balkh, dan muridnya yang bernama Syafiq Al-Balkhi. Sedangkan di Madinah hidup Ja’far Ash-Shadiq. Boleh dikatakan, gerakan hidup zuhud, asketisme, yang dipelopori Hasan al-Basri dan merebak pada akhir abad pertama dan permulaan abad ke-2 Hihrah itu merupakan cikal bakal yang kita kenal dengan aliran tasawuf dalam Islam. Dan para pengamalnya disebut sufi.

Al-Hasan,  yang lahir di Madinah pada 21 H/642 M  dan kemudian menetap di Basrah setelah perang antara Mua’wiyah dan Ali, pernah berkirim surat kepada Khalifah Abdul Malik ibn Marwan (berkuasa pada 685-709): “Wahai Amrul Mukminin….. Tirani dan ketidakadilan bukanlah ajaran Tuhan. Ajaran-Nya adalah perintah-Nya mengenai keadilan, kebajikan, dan menyantuni  orang-orang yang paling dekat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin…”

Seseorang untuk menjadi sufi, pada akhirnya tidak cukup hanya sebagai seorang asketis atau zahid. Tetapi harus menempuh tahap-tahap atau melampaui stasiun-stasiun tertentu , yang disebut maqam. Di antara stasiun-stasiun yang harus dilewati itu adalah taubat, zuhud, sabar, tawakkal, dan rida. Imam Al-Qusyairi menyebut stasiun-stasiun ini sebagai tahapan adab, atau kualitas-kualitas akhlak yang harus dimiliki seorang penempuh jalan tasawuf. Di atas stasun-stasiun ini adala lagi maqam yang lebih tinggi yaitu mahabbah, ma’rifah, fana’, dan baqa.

Bersambung 

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda