Cakrawala

Salim Ali Maskati : Tokoh Perintis Kemerdekaan yang Terlupakan

Berbicara mengenai kesadaran berbangsa orang Indonesia keturunan Arab,  kita akan menemukan perjuangan Persatuan Arab Indonesia (PAI). Organisasi yang didirikan tahun 1934 melalui Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang. Para tokoh pemuda keturunan Arab dengan penuh kesadaran mengakui bahwa Indonesia-lah tanah air mereka. Banyak buku dan tulisan yang telah mengulas mengenai tokoh pendiri PAI, yaitu AR Baswedan dengan sepak terjangnya.

Tetapi, sebenarnya  bukan hanya AR Baswedan, masih banyak  nasionalis keturunan Arab  lain yang menjadi figur penting PAI. Salah satunya  Salim Ali Maskati (SAM). Sayangnya masih sangat terbatas referensi yang bisa kita gali mengenai almarhum yang wafat pada 1983. Tulisan ini merupakan salah satu ikhtiar dalam mengumpulkan “memori sejarah” bangsa yang terserak dan terlupakan selama ini.

Sangat sedikit informasi yang didapat mengenai sosok Salim Maskati. Tetapi catatan yang sedikit telah membuktikan bahwa ia bersama-sama dengan Hoesin Bafagieh dan AR Baswedan merupakan tokoh-tokoh utama pendiri PAI. Salim Maskati tercatat sebagai sebagai Penulis II, dalam kepengurusan awal organisasi PAI 1934 dan seterusnya menjadi sahabat terdekat dari Baswedan dan Bafagieh. Dalam sebuah wawancara, Baswedan mengatakan bahwa sahabat yang paling setia dan konsekuen perjuangannya untuk PAI adalah Salim Maskati.

Salim Maskati dilahirkan di Surabaya pada tahun 1907. Maskati merupakan salah satu keluarga keturunan Arab yang berasal dari daerah Palembang sebelum akhirnya ke Jawa. Dalam usia 18 tahun Salim aktif dalam pergerakan politik bersama PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia). Pada waktu itu ia diserahi oleh Wondoamiseno (Tokoh PSII dan mantan Menteri pada Kabinet Amir Syarifudin I) untuk menerbitkan sebuah surat kabar “Perdamaian” sebagai sebuah media yang membawakan suara PSII.

Pada  1927 dari hasil penjualan rumah warisan orang tuanya, Maskati membeli sebuah percetakan yang kemudian digunakan untuk menerbitkan sebuah surat kabar “Lembaga Baroe”. Hal tersebut merupakan sebuah langkah “idealis” yang progresif dan berani pada masa masanya. Terutama bagi golongan Indonesia keturunan Arab untuk terjun dalam dunia jurnalisme “pergerakan” yang mayoritas lebih memilih untuk berdagang, layaknya  golongan keturunan Arab pada masa itu. Hingga akhirnya AR Baswedan bersama saudaranya, Ahmad Baswedan membeli percetakan milik Maskati tersebut (Percetakan Al-Hambra) dan kemudian pada waktu itu diserahkan kepada MBA Alamudi, tokoh IAV (Indonesia Arabische Verbond), untuk mencetak dan menerbitkan jurnal Al Jaum yang memiliki idealisme untuk mempersatukan semua golongan keturunan Arab.

Maskati disebut sebagai mentor awal AR Baswedan dalam bidang jurnalisme, diceritakan oleh Bafagieh dalam majalah Aliran Baroe. Pada tahun 1920, Maskati dan Bafagieh mendirikan majalah Zaman Baroe sebuah majalah yang berusaha mempersatukan golongan Indonesia keturunan Arab. Dan pada waktu itu Baswedan sangat bersemangat untuk ikut menulis di dalam penerbitan tersebut tetapi belum bisa diterima oleh kedua pemimpin redaksi itu.

Zaman Baroe tersebut diteruskan sendiri oleh Maskati dan kemudian setelah penerbitan tersebut mati, dilanjutkan dengan Lembaga Baroe. Dan dalam Lembaga Baroe inilah Baswedan mulai ikut aktif membantu Salim Maskati dan ikut mengisi menulis dengan nama alias Bin Auff al Asrie. Mulai saat itulah kepiawaiannya menulis dan mengarang berita tersalurkan dan semakin berkembang kearah jurnalisme professional.

Maskati yang pada awalnya merupakan mentor Baswedan, akhirnya menjadi sahabat dekat dari AR Baswedan dan bahkan Maskati menulis sebuah tulisan mengenai sosok AR Baswedan yaitu: AR Baswedan Boeah Pikiran dan Andjoerannja (Soerabaja 1939). Setelah PAI dibubarkan dan anggotanya dibebaskan untuk meleburkan diri dalam partai-partai nasional yang ada, Salim Maskati, masuk dalam keanggotaan PNI di Malang dan kemudian menjadi Ketua II Dewan Daerah Jamiatul Muslimin Jawa Tengah.

Tokoh Perintis Kemerdekaan

Pada  1981, Salim Maskati memperoleh penghargaan sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan.  Sebuah penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah RI bagi mereka yang telah berjuang mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan, diakui dan disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia. Salah satu kriterianya adalah mereka yang telah menjadi pemimpin pergerakan yang membangkitkan kesadaran kebangsaan dan kemerdekaan. Dan Salim Maskati merupakan salah satunya.

 

Pada awalnya bukanlah niat almarhum untuk “meminta” penghargaan tersebut kepada pemerintah atas segala jasa perjuangan dan pengorbanannya, hanya saja waktu itu ia mendapatkan dorongan dari kedua sahabatnya yaitu AR Baswedan dan Doel Arnowo. Dalam acara tasyakuran atas penghargaannya tersebut di Ketapang Besar 28 Surabaya, Maskati mengatakan :

“Sesungguhnya tidak terlintas dalam hati saya bahwa saya telah menerima suatu hadiah yang begitu tinggi nilainya. Padahal saya hanyalah seorang petugas lapangan ditengah gemuruh perjuangan menuju kemerdekaan. Apa yang saya lakukan adalah tugas yang wajar sebagai seorang warga Negara yang bertanggung jawab”. Sebuah ungkapan yang sangat mulia dari seorang nasionalis sejati.

Menurut Penuturan Ustadz Helmi Gana (tokoh Keturunan Arab Surabaya yang sering berdiskusi dengan almarhum selama hidupnya); karena jasa dan pengabdiannya sebagai Perintis Kemerdekaan, setiap tanggal 17 Agustus, Walikota Surabaya selalu menyempatkan untuk mengunjungi kediamannya di Surabaya, bahkan setelah wafatnya. Sebagai bukti penghargaan dan apresiasi pemerintah terhadap jasa-jasanya.

Salim Maskati sempat tinggal di jalan Nyamplungan Gang II No 39 dan pada akhir hidupnya almarhum hidup dengan sangat sederhana. Ia hidup dari penghasilan pensiunan sebagai Perintis Kemerdekaan sebesar Rp. 62 ribu dan dibantu dengan penghasilan istrinya sebagai seorang penjahit. Salim Maskati meninggal pada tahun 1983 di Surabaya dan dimakamkan di Tanah Pemakaman Pegirian.

Salim Maskati ini merupakan seorang jurnalis dan penulis aktif di media pergerakan PAI dan beberapa media pergerakan nasional lainnya. Beberapa dari tulisannya yang sudah dibukukan antara lain Indonesia Tumpah Darahku, Naskah Biografi yang diketik di Surabaya tahun 1982 dan AR Baswedan Boeah Pikiran dan Andjoerannja diterbitkan di Surabaya tahun 1939.

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda