Bintang Zaman

A.R. Fachruddin (1): Pemimpin Tak Berumah

Written by Abdul Rahman Mamun

Ada anak bertanya pada ayahnya, “Cita-cita Bapak dulu apa sih?” Si orangtua menjawab, “Dulu aku hanya ingin, suatu saat nanti, bisa naik sepeda motor yang belakangnya ada asapnya, lalu aku mengenakan topi jenggo (nama tokoh film koboi, red).” Si anak, yang waktu itu kuliah di di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, tertawa terpingkal. “Wah kalau begitu cita-cita Bapak sudah tertinggal di belakang, wong sekarang Bapak sudah naik Mercy, naik kapal terbang, bahkan sudah jadi anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung; lembaga tinggi negara ini sudah dihapus dan diganti Wantimpres alias Dewan Pertimbangan Presiden, red).”

Itu dialog antara Abdul Rozak Fachruddin, yang akrab disapa Pak AR, dan putranya Dokter  Fauzi. Pak AR, sebagaimana cita-citanya, memang sederhana. Tengoklah hidupnya. Meski kedudukannya boleh dibilang mentereng, sebagai orang nomor satu di PP Muhammadiyah (sejak 1968,) sekaligus anggota DPA  hidup A.R. Fachruddin tampak pas-pasan, bahkan nyaris kekurangan. Tapi, ulama yang bergaul akrab dengan pelbagai lapisan masyarakat ini selalu bersyukur. Suatu ketika pada awal 1970-an, anaknya yang nomor lima, Farchan, diterima di Fakultas Teknik UGM. Untuk biaya  pendaftaran  dan uang SPP ia harus keluarkan Rp 75.000. Jumlah yang cukup besar waktu itu, apalagi untuk ukuran ukuran keluarga Pak AR. Dia pun bilang kepada anaknya bahwa ia tak punya uang sebesar itu. Apa boleh buat, Farchan tak bisa masuk Fakultas Teknik UGM (kelak jadi sarjana tekstil dan sempat bertugas di Jepang).

Orang sering mengatakan bahwa mereka yang tinggal di Kauman, Yogyakarta, ibarat memiliki “darah biru” Muhammadiyah. Kawasan di seputar Masjid Agung ini memang menjadi basis ormas keagamaan yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu. Maka, pengamat sering menyebutkan keberadaan “kelompok Kauman” di Muhammadiyah. Sebagai orang yang pernah tinggal di Kauman, tentu Pak AR digolongkan dalam kelompok ini. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kediamannya adalah rumah kontrakan. Bahkan, rumah cukup besar di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta, yang kemudian dia tinggali sejak tahun 1969, adalah rumah pimpinan Muhammadiyah.

Ketika bertugas di Kanwil Provinsi Jawa Tengah di Semarang (ia tinggal di sana sampai 1964), Pak AR pernah ditawari menempati sebuah rumah besar yang bagus di Jalan Pemuda. Rumah ini milik temannya, H. Sulchan, seorang pengusaha yang masyhur sebagai “Raja Kapuk”. Namun, ia tak mau dan memilih tinggal di rumah gedek (bilik bambu) di daerah Pindikan, Jalan Sadewo 45.

Politik Itu Penting

Sesederhana sikap hidupnya itu pula sikap A.R. Fachruddin dalam berpolitik. Pada akhir 1950-an, tatkala dia menjabat ketua Fraksi Masyumi di DPRD DIY, tokoh-tokoh partai yang duduk di dewan berencana mengadakan peremajaan. Ini untuk memberi kesempatan kepada yang muda-muda . Beberapa dari mereka pun setuju mundur dari DPRD. Namun, ketika tiba waktu pengunduran diri  ternyata hanya Pak AR yang menandatangani surat pengunduran diri. Yang lainnya tidak. Toh, ia terus jalan dan dengan legowo ia mundur. “Oh… inilah rupanya politik itu,” katanya waktu itu. Gelanggang politik praktis ia tinggalkan dan sepenuhnya berkhidmat di persyarikatan, dan menekuni dunia dakwah. Dan Pak AR pun kondang sebagai mubalig.

Apakah ia lalu antipolitik? “Oh… tidak. Politik itu penting,” kata Pak AR ketika menjawab pertanyaan seorang warga Muhammadiyah. “Cuma caranya harus baik.” Meski tak langsung terjun ke kancah politik praktis, tercatat ia tetap mengambil langkah-langkah politis ketika diperlukan. Ketika berlangsung pembahasan RUU Perkawinan pada 1974, A.R. Fachruddin termasuk tokoh Islam yang aktif melakukan lobi dengan banyak pihak – untuk menggusur pasal-pasal yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam. Ia misalnya menemui anggota DPR RI dari Golkar, Suhardiman, dan bahkan mendatangi Presiden Soeharto untuk menyampaikan aspirasi umat. Hasilnya sebagian besar sudah memenuhi kehendak masyarakat Islam. Cara politik inilah barangkali yang disebut Ketua PP Muhammadiyah tempo hari, M. Amien Rais, sebagai high politic-nya Muhammadiyah.

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  16 September 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka