Tafsir

Tafsir Tematik: Takwa yang Bagaimana (1)

Written by Panji Masyarakat

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali sebagai muslim (Q. 3:102)

Ini ayat pertama dari satu rangkaian, yang secara berturut-turut akan mengajarkan tiga hal dasar yang merupakan kesatuan. Yakni: takwa, persatuan, dan misi. Puncaknya tentu saja yang terakhir itu — misi, yang dikembangkan dalam istilah yang sudah demikian populer, yang tampaknya sederhana tetapi mengandung arti yang luas, yakni amr ma’ruf nahy munkar (ayat 104, diulangi dengan 110). Dilihat secara begitu maka ayat 102 di atas — tentang takwa —  memberikan landasan, sementara ayat 103 nanti akan mengajarkan pemeliharaan kondisi.

Definisi takwa yang mudah, dan populer, sudah sering sekali kita dengar: “menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan” (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, I:450). Definisi lain, yang masyhur di kalangan mufasir, datang dari kalangan sahabat: Abdullah ibn Mas’ud, Amr ibn Maimun, Ar-Rabi’ ibn Khaitsam, dan As-Suddi, seperti diriwayatkan Thabari. “Sebenar-benar takwa”, menurut mereka, adalah menjadikan Allah “ditaati dan tidak disanggah, diingat dan tidak pernah dilupakan, disyukuri dan tidak diingkari (yuthaa’a falaa yu’shaa, wa yudzkaru falaa yunsaa wa yusykaru falaa yukfar)”.

Adapun contoh tindakan takwa (yang benar-benar itu) diriwayatkan Thabari dari sumber pertama Ali ibn Abi Thalib, dari Ibn Abbas, r.a.: “Berjihad di jalan Allah sebenar-benar jihad, tidak dipengaruhi, demi Allah, oleh celaan tukang cela, dan berdiri untuk Allah dengan sikap proporsional (bil-qisth), walau terhadap diri sendiri, bapak, maupun anak.” Dalam Ad-Durrul Mantsur, dalam pada itu, dimuat hadis Anas r.a.: Bersabda Rasulullah s.a.w., “Tidak akan seorang hamba yang bertakwa kepada Allah sebenar-benar takwa  sampai ia sadar bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset dari dia, dan apa yang luput dari dia memang tidak akan mengenainya.”

Hapus-menghapus

Disetujui, “sebenar-benar takwa” itu bukan hal yang ringan. Karena itu Ibn Zaid, mengenai turunnya ayat itu, berkomentar. “Sudah datang perkara yang sungguh berat.” Lalu, tuturnya, “Orang-orang berkata, ‘Siapa yang tahu batasnya (‘sebenar-benar takwa itu’), atau yang bisa mencapainya?’” Begitu pula pendapat Qatadah r.a.

Karena itu, menurut keduanya, Allah lalu menurunkan peringanan dan kemudahan — dan itulah ayat “Bertakwalah kepada Allah sejauh kalian mampu” (Q. 64:16). Qatadah sendiri (bersama Ibn Zaid, Ar-Rabi’ ibn Anas dan As-Suddi) lalu menganggap ayat ini “dihapus” (mansukh). Dengan kata lain, tetap merupakan bagian Quran, tapi kandungannya sudah digantikan ayat lain. Dalam  kasus ayat “sebenar-benar takwa” ini, penghapusnya (nasikh) tak lain ayat kedua (“sejauh kalian mampu”) itu. Tapi Ibn Abbas r.a. menolak. Juga  Thawus (Thabari, Jami’ul Bayan, IV: 28-30).

Penyelesaian yang bagus datang dari Zamakshyari (w. 538 H.). Bagi pengarang Kasysyaf ini, takwa dalam ayat “sebenar-benar takwa” di atas sama sekali bukan jauh lebih berat dibanding takwa dalam ayat “sejauh kalian mampu”. Sebab, “Bertakwalah kepada Allah sejauh kalian mampu” (Q. 64:16) berarti: bertakwalah “sedemikian rupa, sehingga kamu tidak meninggalkan satu hal pun yang sebenarnya kamu mampu” (Zamakhsyari, loc.cit.). Sama saja.

Penafsiran itu dipuji Rasyid Ridha — yang menyatakannnya sebagai terbit dari “cita rasanya yang sehat dan pemahamannya yang halus”. Sambil tidak mempercayai riwayat tentang Ibn Mas’ud yang dikatakan turut serta dalam definisi tentang “sebenar-benar takwa” sebagai, antara lain, menjadikan Allah “diingat dan tidak pernah dilupakan”, Rasyid menyatakan: “Itu berarti pembebanan sesuatu yang tidak bisa dipikul. Dan itu tidak bisa jadi.”

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 17 Juni 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768