Cakrawala

Memuliakan Lisan

Saeful Bahri
Written by Saeful Bahri

Misi kenabian yang dibawa Muhammad s.a.w. adalah membenahi jiwa manusia supaya berakhlak mulia. Salah satunya adalah bagaimana seseorang mampu menjaga lisannya. Agar bertutur kata yang baik, menyejukan, dan membawa kedamaian. Bukan kata-kata yang menyakitkan atau merendahkan orang.

Ajaran Islam  yang menekankan pentingnya menjaga lisan dan kata-kata antara lain terdapat dalam QS 49:11.  Bahkan Rasulullah s.aw. memberi pilihan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah ia berbicara baik atau diam”.  Dalam hadis lain disebutkan “Seorang Muslim adalah yang mampu menyelamatkan muslim yang lain dengan lisan dan tangannya.”

Dua pilihan (bicara baik atau diam) mengajarkan agar seseorang mampu menjaga lisannya. Sebab, lisan yang tidak bertulang itu, dapat membuat orang tergelincir yang dampaknya akan berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebutkan, salah satu dari bahaya lisan adalah kebencian dan permusuhan.  Betapa bahayanya lisan yang tidak terjaga. Bahkan tajamnya kata-kata yang keluar dari lisan, mampu menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh jarum. Sayyid Qutb menambahkan, satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu kata bisa menembus ribuan kepala.

Seperti kata Al-Ghazali di atas, dampak yang fatal jika seseorang melukai orang lain dengan kata-kata yang buruk adalah terjadinya permusuhan dan perseteruan. Jika ini terjadi, dampak buruk lainnya akan mengikuti. Sebab, sakit hati karena ungkapan yang menyakitkan sulit diobati. Ia akan tersimpan dalam ingatan panjang orang yang disakiti. Dan jika ia tidak sanggup melupakan bahkan memaafkan, akan menjadi dendam yang berkepanjangan dan akan menjadi keburukan yang terus mengalir.

Hal-hal buruk yang diakibatkan oleh lisan antara lain; fitnah, ghibah, hasad, dan dusta. Seseorang yang dirinya dikuasai oleh sifat-sifat buruk itu, hidupnya tidak akan pernah tentram. Sebab dengan dirinya saja ia tidak sanggup berdamai, apalagi berdamai dengan orang lain. Dusta misalnya, akan menjadi pembuka pintu-pintu dusta yang lainnya. Karena itulah ia disebut  pangkalnya dosa.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11)

Mengapa orang tak mampu menjaga lisan?

Seseorang yang tak mampu menjaga lisannya dengan kata-kata yang baik, disebabkan oleh dangkalnya pengetahuan. Ia juga dipandang tidak siap dan tidak sanggup menerima perbedaan. Dan pada akhirnya ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya.  Ia mudah terpancing dengan sikap buruk orang lain kepadanya. Dan pada akhirnya sikap buruk orang lain terhadap dirinya, ia balas dengan keburukan yang sama. Jika itu yang terjadi, sesungguhnya ia dan orang yang menghinanya itu, tidak ada bedanya. Hatinya sama-sama berselimut dengki. Senang melihat orang lain menderita. Dan tersiksa dengan kesenangan yang orang lain rasakan.

Sekarang,  kehidupan kita sehari-hari  modern dipenuhi aroma kebencian, saling hujat, dan menghina satu dengan lainnya. Apalagi di era teknologi yang serba terbuka ini, kita bisa menyaksikan hujat menghujat, hina menghina, dan saling memperolok begitu vulgarnya, terutama di media sosial. Rasa malu sudah hilang dalam dirinya. Ia tidak sadar telah mempertontonkan keburukannya di depan orang banyak. Hatinya sempit hanya gara-gara urusan duniawi seperti perbedaan pendapat atau pandangan dan pilihan politik. Ia rela menggadaikan akhlaknya, melacurkan dirinya dengan saling juluk menjuluki dengan julukan yang buruk. Ada kampret, cebong, kadal gurun, dst.

Padahal ia tampak taat kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang diperintahkan. Tapi ibadah-ibadah yang baik itu tidak berbekas pada dirinya dan menyasar pada tujuannya, yaitu membentuk akhlak mulia. Ia gagal menjalin hubungan baik kepada makhluk Allah SWT. Bahkan Ayat-ayat tentang akhlak mulia diabaikan. Padahal dalam ajaran Islam, seseorang harus mampu menjalin hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Karena itulah iman dan amal saleh seperti dua sisi mata uang. Ia selalu disebutkan beriringan. Karena tujuan penciptaan manusia untuk menjaga harmoni dan kedamaian bagi seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.

Iman tanpa amal saleh adalah semu. Seperti kata Nurcholish Madjid, “Tidak adanya salah satu dari dua aspek itu akan membuat aspek lainnya palsu, tidak sejati. Ketuhanan tanpa kemanusiaan terkutuk oleh Tuhan sendiri. Dan kemanusiaan tanpa ketuhanan bagaikan fatamorgana.”

Manusia yang beragama tidak ada yang berani mengutuk Tuhan dengan lisannya. Tapi sayang, betapa banyak manusia yang lisannya enteng mengutuk makhluk-Nya.

Berhentilah menghina orang lain. Mari muliakan lisan kita. Jika kita menghina orang lain karena fisiknya atau warna kulitnya, sesungguhnya kita telah menghina Dzat yang telah menciptakannya.  Semoga kita semua mampu menjaga lisan dan memuliakannya. Janganlah karena orang lain berbuat buruk kepada kita, lalu membuat akhlak kita menjadi rusak.

About the author

Saeful Bahri

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda