Pengalaman Religius

Seto Mulyadi (1): Anak-anak Adalah Karunia yang Indah

Alangkah bahagianya melihat Minuk, adik-adiknya, atau teman-temannya, begitu ceria memenuhi hasrat ingin tahunya. Betapa harunya mendapatkan begitu bersihnya hati mereka. Pikiran saya pun menerawang kepada proses kejadian manusia, sejak dari sel telur, janin, hingga kelahiran ke dunia, dan seterusnya, yang begitu pelik dan kompleks. Semua itu menunjukkan betapa mahaluasnya pengetahuan Allah.

“Bagus! itu namanya kreatif! Ayah senang kalau begitu.” Kata-kata itu sering saya ucapkan kepada anak-anak saya, Minuk dan Bimo, sejak mereka masih kecil.

Suatu saat Minuk bertanya, “Apa sih kreatif itu, Yah?” Ibunya lalu coba menjelaskan, “Kreatif itu kalau Minuk mengajak, ‘Yuk kali ini kita makan pagi di halaman.’ Atau Minuk membuat mainan dari kardus bekas sehingga tidak harus selalu membeli mainan baru. Itu namanya kreatif.” Minuk terlihat cukup puas saat itu.

Setelah sekian tahun berlalu, dalam usianya yang sembilan tahun,  Minuk kembali bertanya: “Ayah, kreatif itu apa, sih? Apa bedanya dengan cerdas?”

Saya tersenyum. Rupanya Minuk terusik mengajukan kembali pertanyaan itu setelah melihat makalah saya yang berjudul “Anak Tumbuh Menjadi Lebih Cerdas dan Kreatif”. “Bagus. Ayah paling senang bila Minuk banyak kreatif.” Minuk tersenyum. Lalu seperti biasa, saya coba memberi penjelasan dengan sederhana.

“Coba, apakah sila pertama dari Pancasila?” tanya saya. “Ah, itu sih, gampang! Ketuhanan Yang Maha Esa,” jawab Minuk tangkas.

“Bagus. Seratus. Jawaban Minuk benar. Itu tandanya Minuk cerdas. Nah, sekarang, coba sebutkan apa saja yang Minuk lakukan untuk mengamalkan sila tersebut!”

“Anu… Minuk menjalankan salat lima waktu, Minuk berdoa agar Bu Guru cepat sembuh, Minuk ikut ayah dan bunda salat Id di Masjid Al-Azhar, Minuk tidak memukul kucing karena dia juga makhluk Allah, Minuk selalu ingat nasihat Ayah dan Bunda…”

“Dan seterusnya dan seterusnya. Banyak lagi, bukan?” potong saya. Minuk mengangguk. “Nah, jawaban Minuk yang banyak itu menunjukkan Minuk memang anak yang kreatif.” Sambil menggambar saya kemudian menerangkan bahwa pengertian cerdas adalah kemampuan untuk memberikan satu-satunya  jawaban yang tepat terhadap suatu pertanyaan. Sedangkan pengertian kreatif adalah kemampuan untuk memberikan serangkaian alternatif jawaban terhadap suatu pertanyaan.

Alangkah bahagianya melihat Minuk, adik-adiknya, atau teman-temannya, begitu ceria memenuhi hasrat ingin tahunya. Betapa harunya mendapatkan begitu bersihnya hati mereka.

Dalam keadaan seperti itu, pikiran saya  biasanya menerawang kepada proses kejadian manusia, sejak dari sel telur, janin, hingga kelahiran ke dunia, dan seterusnya, yang begitu pelik dan kompleks. Semua itu menunjukkan betapa mahaluasnya pengetahuan Allah. Saya tidak bisa berpaling dari rasa syukur atas karunia-Nya yang begitu indah: anak-anak yang sehat, saleh, cerdas, dan kreatif. Bersambung

Sumber: Panji Masyarakat,  17 Juni 1998

About the author

Muzakkir Husain

Wartawan Majalah Panji Masyarakat (1997-2001)

Tinggalkan Komentar Anda