Mutiara

Kiai Hamam: Berfungsi Itulah Islam

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Syahdan, pada suatu malam Kiai Hamam Dja’far  dikunjungi dokter Prakosa, waktu itu rektor UNS Solo yang pensiunan ABRI. Pak Jenderal sengaja datang malam-malam datang ke Pabelan karena ingin berdiskusi dengan Kiai. Entah apa yang ingin didiskusikannya. Sudah ngubek-ngubek pondok, orang yang dicarinya tidak ketemu-ketemu, padahal jelas Kiai Hamam tidak sedang ke luar kota atau ke luar desa. Setelah cari sana-sini dengan melibatkan para santri, eh dia sedang asyik sendirian nongkrong di tepi kolam renang yang hampir jadi di pinggiran kota.

Gendheng kowe,lagi apa sendirian di sini?” kata Pak Rektor, heran.

Kowe sing gendheng.Aku tidak sendiri kok. Aku lagi bersama-sama temanku. Ada jangkrik, ular, kodok. Ini adalah musik alami, “kata Kiai yang pernah bermain di film Al-Kautsar itu. Merekapun tertawa keras-keras. Al-Kautsar, film garapan sutradara Chaerul Umam dan skenarionya ditulis Asrul Sani, serta memperoleh penghargaan pada Festival Film Asia, salah satu lokasi syutingnya di Pabelan. Selain Kiai Hamam, para santri pun ikut bermain film bersama Rendra yang memerankan tokoh Saiful dan Yulinar Firdaus yang memerankan Nurhayati. Saiful adalah ustadz di Pabelan, sedangkan Nurhayati adalah santri. Saiful diminta mengajar di surau di kampung Nurhayati yang sedang menghadapi kemelut sosial, nun jauh di Sumatera sana.

Menerima tamu Dubes Amerika Serikat waktu itu Paul Wolfowitz di Pesantren Pabelan Magelang

Kiai Hamam  memang dikenal  supel, ramah, hangat, pandai bergaul dan membawa diri, serta punya selera humor. Para tamu, termasuk wartawan, yang belum pernah berjumpa sering terkecoh, seolah tidak percaya,  sedang  berhadapan dengan kiai. Mungkin dalam bayangan mereka, kiai itu bersurban, selalu menjaga jarak dan tidak sembarang bergelak tawa dengan orang yang baru dikenalnya. Sehari-hari, meski jauh dari kesan perlente, Hamam selalu berpakaian rapi, celana panjang putih dipadu dengan hem lengan panjang warna krem dari bahan kaus, dan selalu tanpa peci, kecuali pada acara-acara resmi. Dia juga dikenal kuat ngobrol serius dicampur canda tawa sampai larut malam atau menjelang dini hari. Para cendekiawan, budayawan, dan para penggiat LSM seperti Umar Kayam, Romo Manunwijaya, Arief Budiman, Rendra, Ajip Rosidi,  Syafii Maarif, Dawam Rahardjo. Ismid Hadad, Abdullah Syarwani, Emha Ainun Najib, termasuk teman ngobrol dan teman begadang Kiai Hamam.

Unsur Jawa dan Islam

Hamam dilahirkan pada Sabtu Pahing, 26 Februari 1938, di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Dia sulung dari dua putra pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Hadijah. Orangtuanya memberi nama Hamam karena dia lahir pada tahun Ehe, menurut penanggalan Jawa. Menurut K.H. Ahmad Mustofa, adik K.H. Hamam Dja’far, nama-nama dalam keluarganya [Bani Chasbullah] selalu dikaitkan dengan tahun Jawa waktu mereka dilahirkan. Begitulah ayah mereka diberi nama Djapar  atau Dja’far karena lahir pada tahun Dje, sedangkan Hadijah, sang ibu, dinamakan demikian karena lahir pada tahun Ehe. Ahmad Mustofa sendiri lahir pada tahun Alif.  “Unsur Jawa dan unsur Islam memang menyatu dalam budaya keluarga kami,” ujar Ahmad Mustofa, yang menikah dengan Nunun Nuki Aminten, putri sasatrawan-budayawan asal Sunda, Ajip Rosidi.  

Ketika Hamam berusia tiga tahun, Kiai Anwar mengatakan, bahwa cucunya itu kelak akan menjadi seorang kiai besar. Ini pula yang dipegang oleh Nyai Hadijah, yang kemudian mengirim anaknya belajar ke pesantren. Setelah menamatkaan Sekolah Rakyat di desanya, Hamam memang tidak laangsung mondok, tetapi melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam Pertama di Muntilan. Setelah itu barulah dia jadi santri. Mula-mula ia masuk Pesantren Tebu Ireng, Jombang, sebelum akhirnya berlabuh di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, selama 11 tahun. Di Gontor ia langsung berguru kepada  “Trimurti” yaitu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor: K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi.

Pada 1964 Hamam, yang semasa mudanya aktiif di Gerakan Pemuda Anshor, meniah dengan Djuhanah Rofi’ah, putri Kiai Bakir, yang juga berasal dari Pabelan. Mereka tidak langsung berumah tangga  karena dia harus kembali ke Gontor. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai dua anak: Ahmad Najib Amin  dan Ahmad Faiz Amin. Najib yang beristrikan Nurul Faizah, putri almarhum Prof. Dr. Husnul Aqib Suminto, kini melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya di Pondok Pabelan.

Sepulang nyantri dari Gontor, antara lain dengan mengantongi ijazah dari K.H. Imam Zarkasyi untuk mendirikan pondok, Hamam muda yang waktu itu dipanggil ustadz sudah bertekad untuk menghidupkan kembali Pondok Pabelan, yang didirikan leluhurnya sekitar satu setengah abad sebelumnya. Maka Pondok Pabelan pun berdiri kembali pada 28 Agustus 1965, atau sebulan menjelang peristiwa Gestapu. Sebelum memilih kancah perjuangannya itu, Hamam memang sempat ke Jakarta untuk mengetahui seluk beluk politik. Pemuda ini misalnya pernah mengikuti safari politik berbagai tokoh seperti K.H. Idham Chalid (Partai Nahdlatu Ulama/NU), Ali Sastroamidjojo (Partai Nasional Indonesia/PNI), dan D.N. Aidit (Partai Komunis Indonesia/PKI). Menurutnya, para politisi itu ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Dia juga pernah ditawari anggota DPR, tapi menolak. “karena itu saya memutuskan bergerak di bidang pendidikan. Pendidikan adalah bidang saya,” kata Hamam suatu ketika.  Dia menegaskan, “Waktu saya mendirikan pesantren, saya bertekad bahwa  bila dalam lima tahun saya tidak berhasil, saya akan berusaha jadi penulis yang baik. Kalau tidak, ya berusaha agar menjadi orang kaya – agar bisa melaksanakan cita-cita saya. Ternyata alhamdulillah pesantren berhasil.”

Keberhasilan itu tentu saja tidak diperoleh dengan mudah apalagi dengan cara bersantai-santai, melainkan dengan kerja keras atau istilahnya “berdarah-darah”. Hamam, seperti dituturkan adiknya, punya sifat yang khas yang menurun dari ibu yaitu sikap pantang menyerah. “Ibu saya itu jika sudah memilih sesuatu, ataupun memutuskan sesuatu, maka apapun risikonya atau seberapa pun besarnya masalah yang menghadangnya, ya dihadapi sampai tuntas,” kata Ahmad Mustofa. Dia menambahkan bahwa mas atau abangnya itu punya kemampuan membaca masyarakat dan menyantuni orang per orang. “Jelas hal itu merupakan kelebihannya. 

MengIslamkan Batu Kali

Dalam pandangan Kiai Hamam, keseluruhan hidup merupakan penjabaran agama secara total dan utuh (kaffah). Menurutnya, Islam harus dipahami secara utuh dan total, tidak sebagian-sebagian. Kiai Hamam mencontohkan, jika dia dan santrinya membuat irigasi, hal itu merupakan penjabaran nyata dari hasil mengaji “bab thaharah (bersuci)”. Begitu juga dengan kegiatan mengumpulkan dan membagi-bagi zakat, hal itu merupakan bagian dari mengaji “bab zakat”. Baik bab thaharah maupun bab zakat, keduanya merupakan bagian dari Fikih. “Islam tak cukup hanya dipersoalkan, didiskusikan, dipertentangkan, melainkan dipahami, dihayati, dan diamalkan.” Dalam konteks ini, Hamam muda pernah membawa 35 santri pertamanya ke Sungai Pabelan. Dia berkata kepada para santrinya, seraya menunjuk batu yang berjajar di sepanjang sungai, “Batu ini belum Islam. Batu ini baru berguna dan berfungsi kalau sudah menjadi bangunan. Atau kalau dijual dan hasilnya digunakan untuk mencari ilmu. Berfungsi itulah Islam.”

Menurut Kiai Hamam, pada dasarnya Islam menerima pemikiran modern atau hal-hal yang berasal dari luar pemikiran Islam. Yang penting adalah kejujuran ketika menyerap pemikiran tersebut, tapi sama sekali bukan sikap membebek atau membeo. Maka tak heran untuk meluaskan pendangannya itu,  Kiai Hamam kerap melakukan dialog dengan berbagai kalangan, yang muslim maupun yang nonmuslim, dari dalam maupun luar negeri. Dia menegaskan bahwa apa yang diyakini sebagai kebenaran kini, mungkin besok tidak benar lagi karena kebutuhan terus berkembang. Oleh karena itu menurut kiai Hamam kita tidak boleh terbelenggu oleh pemikiran tertentu. “Akan lebih berbahaya kalau kita dijajah diktator pikiran daripada oleh diktator birokrasi.”

Kiai Hamam mengaku dirinya tidak termasuk orang radikal, tetapi sebagai muslim yang moderat. “Saya cukup moderat dalam memandang segala hal. Saya ingin menjadi warga negara yang baik, dan memandang jangka depan sebagai masa cerah bagi kita…. Baik atau buruk, bagaimanapun ini negara kita, milik bersama. Sukar lho, gawe negara,” ujarnya.        K.H. Hamam Dja’far wafat pada 17 Maret 1993 atau 23 Ramadhan 1413 H dalam usia yang relatif muda, 54 tahun. Dia makamkan di pemakaman umum  di belakang masjid Pondok Pesantren Pabelan. Tak ada cungkup atau penanda lain yang membedakannya dari ahli kubur lainnya di situ.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda