Aktualita

55 Tahun Pesantren Pabelan

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Pada 28 Agustus 2020 Pondok Pesantren Pabelan berusia 55 tahun. Perayaan miladnya urung dilaksanakan, menyusul pandemi Covid-19 sejak enam bulan lalu. Hanya kegiatan khatmil Quran para santri dan webinar yang menampilkan sejumlah alumni dari berbagai angkatan.

Didirikan pada 28 Agustus 1965 oleh seorang pemuda berusia 27 tahun bernama   Hamam Dja’far [Lihat, rubrik Mutiara, Kiai Hamam: Berfungsi Itulah Islam], Pondok Pesantren Pabelan, yang terletak di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah,  mengawali kegiatannya dengan  35 santri putra dan putri, yang seluruhnya berasal dari desa setempat. Tingkat usia mereka pun berbeda-beda. Ada yang baru tamat sekolah dasar, dan tidak sedikit pula yang drop out sekolah lanjutan tiingkat pertama (SLTP). Kegiatan belajar-mengajar  dilangsungkan di rumah ayahnya, Kiai Dja’far, dengan  sarana dan parasarana belajar seadanya.  Di ruang belajar, misalnya, hanya ada papan tulis;  tidak ada bangku dan meja.   Selama mengikuti pelajaran para santri  duduk di lantai beralaskan tikar. Yang menandakan bahwa mereka sedang serius belajar adalah, bahwa guru-guru yang masuk kelas selalu berpenampilan rapi: mengenakan sepatu dan dasi. Hanya saja, seperti diceritakan Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Prof. Komaruddin Hidayat, santri angkatan pertama Pondok Pabelan, dari teman-teman seangkatannya itu  tidak ada yang sampai tamat. “Berbeda dengan tahun 1970-an,  sistem pembelajaran di Pondok Pabelan itu belum teratur,” kata  Komaruddin, yang juga  pernah menjabat rektor UIN Jakarata selama dua periode

Berbeda dengan pesantren salafiyah pada umumnya, Kiai Hamam menginginkan  Pesantren Pabelan tidak  hanya berfungsi sebagai tempat para santri memperdalam ilmu agama. Dengan mengacu kepada sistem pendidikan yang diterapkan Pondok Modern Gontor, almamater Kiai Hamam, Pondok Pabelan menerapkan kurikulum KMI (Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah). Kegiatan pembelajaran di KMI sebanding dengan kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) lainnya, khususnya yang bercirikan Islam, yang bersifat klasikal dan berjenjang dengan kurikulum atau mata pelajaran serta sistem evaluasi (ujian) yang baku. Tetapi berbeda dengan proses belajar-mengajar di Madrasah Tsanawiyah  dan Mdrasah Aliyah, mata pelajaran-mata pelajaran agama di KMI, sejak kelas II diantarkan dalam  bahasa Arab.

Meski begitu, berbeda dengan Pondok Modern Gontor, Pondok Pabelan menganut model koedukasi (pria wanita campur). Kita ketahui, Pondok Modern Gontor hanya khusus menerima santri putra. Belakangan Gontor juga menerima santri putri, tapi tidak dicampur dalam satu kompleks pesantren, melainkan ditampung dalam pesantren khusus putri. Jadi, tidak koedukasi. Alasan Kiai Hamam, menerima santri putri, karena dengan mendidik santri putri, bukan hanya mendidik santri putri itu sendiri, melainkan juga mendidik suami dan anak-anaknya kelak. Tentu saja dengan bekal ilmu yang dimiliki santri putri tersebut selama nyantri di Pabelan. 

Sejarah Panjang

Pondok Pabelan  yang didirikan kembalii oleh Kiai Hamam Dja’far, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang.  Cikal bakal pesantren ini bermula dari kegiatan mengaji yang dirintis pada awal tahu 1800-an oleh Kiai Raden Muhammad Ali bin Kertotaruno, pengikut Pangeran Diponegoro, yang dipercaya berasal dari keturunan Sunan Giri.  Kegiatan ini kemudian berhenti lantaran terjadi Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1925-1930). Sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro, Kiai Muhammad Ali pun ikut mengangkat senjata, melawan kolonialisme Belanda yang semakin dalam kekuasaannya di Tanah Jawa. Lama setelah perang berakhir, barulah pada sekitar awal tahun 1900-an  kegiatan pesantren dihidupkan kembali di bawah pengasuhan Kiai Anwar. Pada masa kakek Kiai Hamam ini,  Pesantren Pabelan dikenal  sampai di luar Jawa Tengah.  Selain Kiai Anwar yang mengajarkan Fiqh,  di Pabelan terdapat dua kiai spesialis lainnya, yaitu Kiai Adam (Al-Qur’an), dan Kiai Asrori (Nahwu).

Namun demikian, kegiatan pesantren kembali berhenti setelah masuknya balatentara Jepang ke Indonesia, menyusul berkobarnya Perang Dunia II. Seperti diketahui, tentara pendudukan Jepang memobilisasi kaum santri untuk memperoleh latihan ketentaraan – kelak mereka menjadi salah satu tulang punggung dalam revolusi fisik menghadapi Belanda yang ingin kembali menguasai Tanah Air. Setelah perang kemerdekaan berakhir, kembali Pesantren Pabelan mengalami kevakuman yang cukup panjang.  Baru menjelang masa-masa berakhirnya kekuasaan Presiden Soekarno, atau sebulan menjelang Gerakan 30 September atau Gestapu, Pondok Pabelan dibangkitkan kembali dari tidurnya yang panjang itu oleh seorang pemuda bernama Hamam Dja’far itu. Ia dibantu Ahmad Mustofa, adik kandungnya, dan seorang kerabat dekatnya,  Wasit Abu Ali. Waktu itu mereka masih menjadi mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Totalitas Kiai Hamam

Kiai Hamam memulai pengabdiannya secara total untuk mengembangkan Pondok Pabelan sebagai sebuah lembaga pendidikan, yang berperan sebagai kawah candradimuka bagi para santri sebelum mereka terjun ke masyarakat sesuai dengan pilihan hidup masing-masing. Ini memang sebuah lembaga pendidikan yang memberikan kebebasan sepenuhnya kepada santri hendak jadi apa mereka kelak di kemudian hari.

Kondisi Pondok Pabelan pada awal berdirinya memang serba sangat terbatas, terutama menyangkut dana operasional sehingga Kiai Hamam. Untuk itu Kiai Hamam  mengajak para sesepuh dan pemuda  desa untuk terlibat dalam pengembangan pendidikan di pondok dengan tiga langkahnya. Langkah Pertama, mengadakan jimpitan beras bagi setiap keluarga yang ingin menyumbang untuk pondok berupa beras satu atau sendok makan yang dimasukkan dalam tabung bambu yang digantung di depan rumahnya. Setiap hari Kamis ada santri yang bertugas mengambil jimpitan beras tersebut.Kedua, pondok menggarap sawah milik pamong desa dan orang-orang kaya setempat dengan sistem bagi hasil. Sawah tersebut dikerjakan oleh santri sekaligus sebagai proses belajar pertanian dan menyediakan produk pangan. Langkah ketiga, memanfaatkan material yang ada di sungai dan sekitar pondok seperti batu, pasir serta bambu dan kayu untuk mendirikan bangunan gedung asrama dan kelas di Pondok Pesantren Pabelan. Ini sering diistilahkan dengan meng-Islamkan batu dan pasir.

Totalitas K.H.  Hamam  Dja’far dalam mengembangkan Pondok Pabelan, berkat rahmat Allah SWT, akhirnya membuahkan hasil. Dalam tempo 10 tahun Kiai Hamam sukses mengantarkan Pondok Pabelan menjadi salah satu pesantren terkemuka di Indonesia. Pabelan tidak hanya masyhur di seantero Nusantara, tetapi juga dikenal sampai mancanegara. Jumlah santri yang pada awal tahun pendirian hanya 35 orang dan berasal dari desa setempat, pada tahun 1976 sudah mencapai di atas 1.000 orang yang datang dari berbagai penjuru di Tanah Air. Mereka berasal dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, mulai dari Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Provinsi Nangroe Aceh Darussalam) sampai Provinsi Timor Timur (sekarang Republik Demokratik Timor Leste). Hampir semua suku bangsa yang ada di Indonesia nyantri di Pabelan. Jadi, dalam kehdupan nyata sehari-hari santri Pabelan sudah terbiasa hidup dalam suasana kebhinekaan. 

Di bawah kepemimpinan Kiai Hamam, Pondok Pabelan memang tidak hanya menjadi pusat kegiatan  belajar para santri, tetapi juga menyediakan dirinya sebagai tempat berbagai pelatihan dan pendidikan berbagai kalangan dan komunitas di luar pesantren. Di Pabelan, misalnya, pernah dilangsungkan pelatihan jurnalistik tingkat nasional  bagi wartawan bidang agama, pendidikan dan latihan keterampilan santri, lokakarya teater, kursus tenaga perpustakaan, latihan penerapan teknologi tempat guna, latihan pengembangan masyarakat, dan sebagainya.

Keberhasilan Kiai Hamam mengembangkan Pesantren Pabelan, tidak hanya tampak dari jumlah santri yang datang dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga dari penghargaan yang diterimanya. Di antaranya Aga Khan Award di bidang arsitektur, dan Hadiah Kalpataru. Pondok Pabelan akhirnya tidak hanya dikenal di pentas nasional, tetapi juga menjadi perhatian dunia internasional. Hal ini juga tampak dari tamu yang berkunjung ke Pabelan, baik dari dalam maupun luar negeri. Bahkan nama-nama seperti V.S. Naipaul, peraih nobel sastra, yang antara lain  menulis Among the Believers, An Islamc Journey untuk karya nonfiksinya,  dan  Ivan Illich, tokoh pendidikan yang menghentak dengan bukunya Deschooling Society itu, antropolog  Clifford Geertz yang terkenal dengan Religion of Java-nya itu, pernah berkunjung ke Pabelan.

Sepeninggal Kiai Hamam (1993), kepemimpinan Pondok dilanjutkan   K.H. Ahmad Mustofa, K.H. Ahmad Najib Amin, dan K.H.  Muhammad Balya . Kepemimpinan “Tritunggal” ini di-back up oleh pengurus Yayasan Wakaf Pondok Pabelan yang diketuai  Prof. Dr. Bahtiar Effendy, yang juga alumni Pabelan. Kiai Balya telah berpulang ke alam baka beberapa tahun lalu, dan kemudian disusul Prof Bahtiar Effendy, yang juga  redaktur ahli panjimasyarakat.com,  pada November tahun lalu.

Sejak itu, boleh dikatakan Pondok Pabelan memasuki sebuah era baru. Sebab corak kepemimpinan pondok tidak lagi bertumpu pada seorang figur kharismatik, seperti Kiai Hamam, tetapi lebih bersifat kolektif-kolegial. Pada periode kepemimpinan yang kedua  ini, Pondok Pabelan menghadapi tantangan yang lebih keras, yang mungkin tidak pernah terbayang pada masa-masa sebelumnya. Yakni liberalisasi dan komersialisasi dunia pendidikan, yang juga berdampak luas pada  lembaga-lembaga pendidikan Islam. Tidak terkecuali pondok pesantren.   Semakin massifnya proses liberalisasi dan komersialisasi  dunia pendidikan tersebut, tentu saja memiliki dampak terhadap keberadaan dan kelangsungan hidup pondok pesantren, yang selama ini dikenal berbiaya murah. Perkembangan pragmatisme ini akan berpengaruh pula pada nilai-nilai yang selama ini dianut pesantren, seperti keikhlasan dan  kesederhanaan. Zaman memang telah berubah, dan jumlah pondok pesantren modern sudah ribuan jumlahnya. Tetapi bahwa Pabelan dalam usianya yang lebih dari setengah abad bukan saja masih eksisi tapi juga berkembang, menandakan bahwa pondok pesantren ini tumbuh dengan wajar, tanpa bergantung kepada seorang figur kharismatis.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566