Jejak Islam

Menulusuri Lorong Keislaman Keraton Yogyakarta (1)

Hamid Ahmad
Written by Hamid Ahmad

Nabi Muhammad s.a.w. ternyata punya anak laki-laki yang terus hidup sampai dewasa,  dari istrinya yang bernama Ummu Salamah.  Syekh Abdul Qadir Jailani namanya.  (Pembaca, jangan protes dulu ya?). Seorang anak yang rupawan dan berbudi mulia. Pada usia 14 tahun, ia dilepas ibunya pergi ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Ia tak diberi bekal, kecuali  empat pesan: jangan minum minuman keras, jangan berzina, jangan membunuh, dan jangan membakar rumah orang.

Dalam perjalanan ke Mekah Abdul Qadir dibegal seorang perampok. Tapi, melihat kejujurannya, perampok bernama Mungkarkoro itu terketuk hatinya. Lalu bertobat (masuk Islam) dan mengganti namanya dengan Abdul Qahhar. Bahkan dia menemani sang pemuda menuju Mekah.

Tiba di dekat sebuah warung, Abdul Qadir menyuruh kawannya membeli dua biji kurma, sebagai bekal perjalanan. Tiba-tiba abdul Qadir melihat sebiji kurma di tanah, dan memungutnya. Dia kira mliknya. Ternyata bukan. Untuk itu ia kembali ke warung tadi untuk menanyakan siapa sebenarnya pemilik kurma yang ia pungut di jalan itu. Ini punya Abdurrahman, kata pemilik warung. “Dia juga hendak menjalankan ibadah haji.” Alhamdulillah, orang itu berhasil ia temui di Mekah, dan dia kembalikan kurma yang sebiji itu. Terkagum-kagumlah orang di Masjidil Haram melihat kejujurannya. Lantas mereka berguru kepadanya,

Anda, terutama yang paham sejarah Islam, tentu geleng-geleng kepala membaca cerita ini. Karena dalam sejarah, Nabi tidak punya anak laki-laki yang hidup sampai dewasa. Apalagi tua. Lagi pula Ummu Salamah tidak punya anak. Selain itu, juga karena sejarah mengenal Abdul Qadir Jailani sebagai ulama tasawuf yang hidup apada abad ke-5 H (11 M) hingga abad ke-6 H (12 M). Ia lahir di Jilan (makanya dia dijuluki Al-Jilai atau Al-Jailani), sebuah daerah di Irak. Jadi, ada rentang yang panjang  antara masanya dan masa Nabi Muhammad. Juga ada rentang geografis yang jauh – antara Madinah dan Irak.

Cerita itu juga campur aduk, dan banyak yang melenceng. Cerita tentang pemuda yang berkunjung ke Mekah, kemudian dirampok di tengah perjalanan dan lantas dilepas karena kejujurannya, adalah cerita pengalaman ayah Abdul Qadir, yaitu Abu Shalih Zengi Dost. Begitupun cerita tetang orang yang menemukan buah lantas dikembalikan kepada pemiliknya. Adalah Zengi Dost yang, ketika duduk di pinggir kali (atau berendam di sungai), melihat sebuah apel (bukan kurma) terbawa arus, lalu dimakannya karena lapar. Mendadak ia sadar, apel itu bukan miliknya. Lantas ditelusurinya sungai itu ke hulu. Tiba di sebuah kebun apel, ia minta halalnya apel yang telah ia makan tadi kepada sang pemilik kebun. Terkesima dengan kejujuran sang pemuda, orang tua itu lalu memintanya kawin dengan putrinya, Fatimah.

Cerita “plesetan” tadi termuat dalam Serat Kadis Ngabdul Kodir Jaelani, salah satu naskah keislaman yang dimiliki keraton Kesultanan Yogyakarta. Tampaknya penulis naskah tidak tahu atau paham sejarah. Apa yang  dia tulis mungkin hanya berdasarkan yang ia dengar – yang terserak-serak. Tak ubahnya memungut barang yang kocar-kacir, lantas meletakkannya di satu tempat, meski sebenarnya barang-barang itu berasal dari tempat-tempat yang berbeda.

Bersambung. Ditulis berdasarkan laporan Abdul Rahman Ma’mun (Yogyakarta); SumberL Majalah Panji Masyarakat, 29 Juli 1998.      

About the author

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566