Cakrawala

Ma’rifatullah, Sumber Kebahagiaan Sejati

Written by Arfendi Arif

Menikmati kehidupan yang bahagia merupakan idaman setiap orang. Tetapi,  hakekat kebahagiaan itu sesungguhnya akan berbeda di definisikan dan dirasakan setiap individu. Namun, beragamnya makna dan cita rasa  kebahagiaan itu tentu terdapat satu kebahagiaan yang sejati atau hakiki.

Sejarah hidup manusia sesungguhnya adalah sejarah mencari kebahagiaan. Sejak Nabi Adam manusia pertama muncul ke bumi dan terusir dari surga  maka Adam menjalani kehidupan untuk menemukan kehidupan bahagia di alam nyata. Apalagi, setelah dua anaknya Habil dan Qabil saling berbunuhan, memperebutkan pasangannya (Labudda dan Iqlima). Bukankah itu mereka memperebutkan kebahagiaan?

Sejarah para Nabi dan Rasul yang diutus Allah ke bumi sesungguhnya adalah untuk menyeru umat manusia mendapatkan kebahagiaan. Yaitu dengan  beriman kepada Allah dan yakin dengan Tauhid mengesakan Allah untuk mendapatkan kehidupan bahagia yang kekal dan abadi yakni kehidupan Akhirat.

Dengan demikian mencari kebahagiaan dalam hidup ini adalah persoalan klasik, yang sejak lama memang tidak bisa dipisahkan dalam.kehidupan manusia. Kenyataan ini juga menjadi fakta bahwa hidup manusia di dunia ini sarat dengan penderitaan dan ketidaknyamanan.

Karena itu tidak salah kalau ada filosof dan pemikir yang tidak percaya adanya kebahagiaan. Hendrik Ibsen, pemikur Norwegia (1828-1906) mengatakan mencari kebahagiaan itu suatu usaha yang sia-sia, membuang buang waktu karena beratnya tantangan dan kendala yang dihadapi. “Kita belum mencapai bahagia, sebab tiap-tiap jalan yang ditempuh menjauhkan kita dari bahagia,” jelasnya.

Ibsen memang tergolong pemikir pesimis dalam melihat ikhtiar manusia dalam meraih kebahagian. Agaknya, ia frustrasi karena menilai manusia tidak konsisten dan teguh dalam mewujudkan niat meraih kebahagiaan, acap berubah  dan tidak mampu mengontrol diri dan nafsu egonya  ketika keinginan dan cita-citanya meraih kebahagiaan telah tercapai.

Tetapi tidak semua pemikir sejalan dengan Ibsen, banyak juga yang optimis bahwa manusia bisa mewujudkan kebahagiaan yang diidamkan. Hanya cara maupun konsep bahagia itu mereka  tidak satu pandangan. (Lihat Hamka, Tasauf Moderen, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1987).

Bagi filosof Yunani Aristoteles kebahagiaan itu tergantung masing-masing individu sesuai keinginanannya. Namun, kebahagiaan ini ,lanjut Aristoteles, berproses menjadi kebahagiaan umum setelah individu merasa puas dan telah tercapai kebahagiaan pribadi yang diperolehnya.

Pandangan Aristoteles dan Hendrik Ibsen sedikit berbeda dengan Leo Tolstoy (1828-1910), seorang pemikir Rusia. Menurut Tolstoy, kenapa manusia lelah dan putus asa meraih kebahagiaan karena manusia mencari kebahagiaan hanya untuk dirinya sendiri. Manusia tidak memikirkan kebahagiaan untuk bersama, sehingga kebahagiaan yang dinikmati dan dimonopoli  buat dirinya sendiri mengganggu kebahagiaan orang lain, yang juga berusaha mempertahankan kebahagiaan yang ia punya. Akibatnya, terjadilah konflik dan persaingan yang ini tentu saja kebahagiaan menjadi sulit terwujud. Karena itu bagi Tolstoy kebahagiaan itu bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk bersama dan masyarakat. Kebahagiaan untuk bersama inilah yang akhirnya mendorong terciptanya saling tolong menolong dan sayang menyayangi di antara manusia sebagai makhluk sosial atau jamaah.

Ilmuan lain Bernard Shaw mengatakan, kebahagiaan sulit diwujudkan manusia karena manusia melupakan akhlak, budi mulia dan tidak memperdulikan seruan untuk mengutamakan kehidupan sejati. Manusia banyak melakukan kesalahan karena memikirkan keuntungan diri sendiri tanpa memikirkan kehidupan orang lain. Menurut Shaw, manusia harus belajar dari kerusakan masa lalu dan memiliki keteguhan hati memperbaikinya untuk meraih kebahagiaan sejati.

Di atas adalah paparan para ilmuan yang mengurai soal kebahagiaan dari sudut logika dan keduniawian. Menarik juga dilihat pengalaman dan ungkapan para rohaniawan atau agamawan, terutama ulama dan ahli hikmat dari kalangan Islam menelaah masalah kebahagiaan.

Pada umumnya mereka yang hidup total dengan Islam merasakan pengalaman hidup  bahagia. Terutama setelah menjalankan ibadah dan ajaran-ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan taat. Seperti diungkap Hutai’ah seorang penyair terkenal bahwa kebahagiaan itu bukanlah pada banyaknya harta benda, tetapi terletak pada Taqwa kepada Allah. Dan taqwa itu menjadi bekal yang terbaik yang disimpan dalam hidup. Orang yang bertaqwa kebahagiaannya hanya tertuju kepada Allah.

Tentu saja bahwa seorang yang taqwa menjalankan segala perintah Allah dan menghentikan semua larangannya. Keberhasilan mematuhi dan melaksakan syariat atau hukum Allah ini dengan baik  bagi seorang muslim merupakan kebahagiaan yang tidak ada taranya. Karena itu bagi Ibnu Khaldun, seorang ilmuan sosial besar Islam, bahagia itu adalah tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan pri- kemanusiaan.

Filosof besar Islam Imam al Ghazali yang banyak menulis tentang akhlak dan tasauf menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati itu adalah ketika bisa mengingat Allah. Melalui ma’rifatullah hati akan teguh mengingat Allah dan merasakan kenikmatannya. Al Ghazali yang dijuluki hujjatul Islam menjelaskan bahwa hati itu dijadikan untuk mengingat Allah. Kenikmatan hati yang bersumber dari ma’rifatullah  itu bersifat kekal dan tidak terhalang dengan kematian. Sedangkan kenikmatan duniawi hanya tunduk pada pertimbangan nafsu, dan lenyap ketika manusia sampai ajalnya.
Dalam hal kebahagian hidup penting juga kita perhatian sebuah hadist Rasulullah Saw yang bersumber dari Aisyah Radhiallahu’anha. Terjadi dialog antara Rasulullah dengan isterinya Aisyah.
         ” Ya Rasulullah dengan apakah kelebihan setengah manusia dari yang lainnya”?
         “Dengan akalnya”, jawab Rasulullah.
         ” Kalau di akhirat”,tanya Aisyah lagi.
         “Dengan akal juga”, timpal Rasul.
“Aisyah balik bertanya,” Bukankah seorang manusia lebih dari manusia yang lain dari hal pahala lantaran amal ibadatnya”,kata Aisyah.

Nabi menjelaskan, ” Hai  Aisyah, bukankah amal ibadat yang mereka kerjakan itu hanya menurut kadar akalnya? Sekedar ketinggian derajat akalnya,sebegitulah ibadat mereka dan menurut amal itu pula pahala yang diberikan kepada mereka”. Selanjutnya Rasulullah mengatakan.”Allah telah membagi akal menjadi tiga bagian, siapa yang mempunyai ketiga bagiannya, sempurnalah akalnya. Kalau kurang walau sebagian, tidaklah terhitung orang yang berakal. Sahabat bertanya, ” Ya Rasulullah, manakah bagian yang tiga macam itu?,”. Rasul menjawab. ” Pertama,  baik ma’rifatnya dengan Allah, kedua, baik taatnya kepada Allah, ketiga, baik pula sabarnya atas ketentuan Allah,”jelas Rasul.

Bisa disimpulkan dari hadist Nabi tersebut bahwa akal menjadi alat yang membawa kebahagiaan,karena mampu menunjuki manusia pada jalan terang kebenaran Allah. Memahami ma’rifat Allah, memahami segala perintah dan larangan-Nya, dan menerima taqdir dan ketentuan-Nya. Dalam hal ini Allah mengatakan. ” Sembahlah Aku, inilah jalan yang lurus (surat Yasin ayat 61).

Beriman, beribadah kepada Allah, beramal shaleh. Inilah kunci kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Allahu ‘alam bissawab

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda