Cakrawala

Disiplin Sebagai Vaksin

Written by Saeful Bahri

Pernahkah Anda menyaksikan film “The Last Samurai” yang dibintangi oleh Tom Cruise? Jika pernah, saya ingin mengajak Anda mengingatnya. Jika belum, saya akan sajikan sedikit sinopsisnya dan mengurai nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut. Sebagai pembuka pintu untuk masuk ke dalam ruang yang ada dalam tulisan ini.

Begini kisahnya. Nathan Algren (Tom Cruise) seorang veteran perang sipil Amerika, mendapat pekerjaan untuk melatih penggunaan senjata api kepada prajurit kekaisaran Jepang. Hal ini bertujuan untuk melawan pemberontakan para Samurai yang tidak setuju dengan gagasan modernisasi dan westernisasi di negerinya. Meskipun sebenarnya yang lebih kental adalah urusan bisnis senjata api.

Pada suatu saat ada informasi bahwa pasukan Samurai ingin menghentikan jalur kereta api. Lalu atasan Nathan memerintahkan untuk menyerang para Samurai. Tapi Nathan meragukan tentara asuhannya mampu mengatasi kaum Samurai. Sebab latihan selama ini dirasa belum cukup. Ia menolak. Namun, atasan Nathan bersikeras, “Bagaimana mungkin sebilah pedang dan sebujur anak panah bisa mengalahkan senjata api?” kilahnya.

Nathan yang sebelumnya mencari pengetahuan tentang tradisi Samurai, menjawab, “Tak ada yang bisa mengalahkan manusia disiplin. Bahkan senjata modern dan pasukan yang banyak sekalipun, tak akan bisa mengalahkan pedang dan panah para Samurai. Mereka telah melakukannya beratus-ratus tahun dengan disiplin yang tinggi”.

Apa boleh buat. Atasan Nathan tetap memerintahkan untuk berperang melawan Samurai. Benar saja, tentaranya kocar kacir menghadapi serangan Samurai. Tak ada guna senjata modern yang mereka bawa. Pasukan itu kalah telak. Nathan nyaris terbunuh. Tapi nasib baik masih berpihak kepadanya. Dengan tubuh yang ringkih dan sekujur luka di badannya, ia digelandang pasukan Samurai sebagai tawanan perang.

Nathan ditawan di lembah pegunungan, di perkampungan para Samurai. Pada masa penawanannya, ia menyaksikan disiplin tinggi dengan nilai-nilai kehormatan, daya juang, dan pengabdian yang dibangun sejak dini.  Sejak itulah ia tertarik dengan disiplin hidup para ksatria Samurai.

Nah, disiplin menjadi salah satu nilai yang bisa kita diambil dari sekian banyak plot yang ada dalam film tersebut. Ya, Disiplin. Ia adalah unsur keberhasilan pada semua sendi kehidupan manusia. Ia adalah panggilan batin untuk taat dan patuh pada seperangkat peraturan. Agar tercipta ketertiban dan kemaslahatan bersama.

Jika dimasukan ke dalam ranah kesehatan di tengah pagebluk yang belum jelas ujungnya. Disiplin diri menjadi kosa kata yang muncul di tengah frustasi dan pesimisme menangani pandemi. Di mana negara-negara di dunia masih bertungkus lumus dan banting tulang mengatasi penyebaran virus yang semakin membesar.

Saat vaksin tak kunjung datang, bergaung seruan untuk menerapkan disiplin hidup dalam tiga hal: mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Tiga hal itu bagaikan gendang yang terus ditabuh sampai vaksin benar-benar nyata wujudnya.

Negara-negara yang warganya memiliki budaya disiplin hidup yang rendah, sulit untuk bisa keluar memenangkan pertarungan melawan Corona. Padahal tiga disiplin di atas adalah perkara mudah dan murah. Tapi jika mentalnya adalah indisiplin, yang mudah dan murah itu tetap sulit untuk dilakukan.

Barangkali kita sudah bosan dengan segala berita tentang Corona. Tapi kita tidak bisa memungkiri fakta.  Lihatlah, setiap hari jumlahnya bukan semakin menurun, tapi semakin menanjak. Begitulah, kadang seseorang mau berubah saat rasa sakit melebihi rasa takut yang ada dalam dirinya.

Disiplin hidup adalah konsistensi untuk membangun kebiasaan baik sampai terjadi internalisasi dan automasi dalam gerak dan pikirannya. Pasalnya, manusia yang berdisiplin akan lahir dalam dirinya kontrol diri terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya. Seperti halnya kesimpulan Nathan terhadap pasukan Samurai. Meskipun bersenjata pedang dan panah, tapi disiplin itu telah terbangun ratusan tahun, sehingga ia menjadi senjata dan pertahanan terbaik untuk menaklukan musuh.

Karena itulah tugas besar yang menjadi kewajiban bersama untuk mengatasi pandemi negeri ini adalah soal disiplin hidup.  Menanti vaksin yang belum pasti, namun mengabaikan solusi yang murah dan mudah dalam tiga hal di atas, malah akan memperburuk keadaan.  Seperti menanti hujan turun, tapi air di tempayan ditumpahkan.

Disiplin itu sendiri kadang dipatuhi karena ada apresiasi dan sanksi. Bagi pribadi yang tertanam dalam dirinya self-dicipline, ada atau tidak ada sanksi ia akan tetap berdisplin. Ia tidak akan gundah saat tindakan disiplinnya tidak diketahui orang. Sebagaimana  tidak ada dalam dirinya perasaan senang, saat tindakannya yang tidak berdisiplin juga tidak diketahui orang. Mereka melakukan dengan hati, bukan dengan akalnya.

Namun, bagi mereka yang mentalitasnya forced discipline alias disiplin karena dorongan dari luar dirinya, hidupnya tidak akan nyaman. Karena selalu didisiplinkan oleh orang lain. Dan yang lebih parah adalah mental indiscipline. Mental ini akan menjadi daya rusak yang dahsyat yang tidak hanya menimpa dirinya tapi juga orang-orang berdisiplin  yang ada disekitarnya.

Jadi, bersyukurlah saat ini kita masih sehat dan tidak terpapar Corona. Wujudkan rasa syukur dengan terus membangun disiplin diri untuk mencegah virus ini. Ketahuilah, sehat itu hanya terlihat dan dirasakan nikmat oleh orang-orang yang sakit. Seperti pesan sang Nabi, “Jagalah sehatmu sebelum datang sakitmu”.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda