Tafsir

Tafsir Tematik: Perang untuk Kemerdekaan (5)

Written by Panji Masyarakat

Dalam hidup, ada tuntutan moral. Juga dalam perang – yang sendirinya jahat. Dan karena perang memang jahat, agama-agama lain melepaskan diri – dan kehilangan kontrol. Perang, betapapun, masih satu kemungkinan sedih dalam kondisi kemanusiaan. Tanpa sama sekali kesediaan menanggung beban ini, bangsa ini sendiri tak akan pernah memasuki gerbang kemerdekaan.

Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melanggar batas. Allah tidak menyukai mereka yang melanggar batas. Bunuhlah mereka di mana saja kamu dapatkan dan usir mereka dari tempat mereka dahulu mengusir kamu, dan fitnah itu lebih besar dari pembunuhan …… (Q. 2: 190 – 191).

Di Antara Kebuasan Manusia

Bangsa-bangsa Arab adalah khalayak besar yang terkadang dikatakan suka bertengkar. Adakah perang orang Arab yang yang dilakukan dengan keji? Misalnya seperti yang dilakukan di negeri-negeri Afrka, atau Amerika Latin?

Bisa diingat bagaimana tentara Spanyol memperlakukan jenazah penduduk asli dalam pembantaian besar-besaran dahulu di Benua Amerika? Bagaimana perajurt Vietkong memperlakukan tawanan dan mayat mereka, hanya tiga dasawarsa yang lalu (dihitung saat tulisan ini diturunkan ada 1997, red). Bagaimana cara Khemer Merah Pol menghabisi jutaan rakyat negeri sendiri. Bagaimana pekerti tentara Italia di Libya pada Perang Duia II, yang berontak antara lain di bawah Syekh Omar Mokhtar, itu tokoh yang dihidupkan Anthony Quinn dalam film Lon of The Desert. Bagaimana tentara Amerika, bagai adegan film Soldier Blue, menghabisi kaum Indian sampai ke bocah-bocah, sampai ke bayi-bayi. Bagaimana sikap tentara Australia dahulu kepada kaum Aborigin. Dan bagaimana kelakuan Hitler terhadap Yahudi – dengan akibat yang akhirnya dipaksakan ditanggung orang Palestina, sebagai bentuk tebusan rasa bersalah orang Eropa.

“Di Indonesia, kebuasan pertama yang kita buat mungkin yang menimpa para warga PKI atau yang dituduh terlibat kudeta 30 September 1965, menyangkut jumlah yang sampai sekarang tidak terhitung). Di sebagian tempat, seperti Bali, tapi juga di Jawa, cara-cara pembunuhan (dan siapa yang dibunuh) menunjukkan kemerosotan derajat kemanusiaan”

Di masa mutakhir, di kalangan kita, ada Saddam Husain, yang memakai bom napalm terhadap orang Kurdi maupun Iran – senjata kimia yang merontokkan tubuh, yang dia tiru dari Amerika yang “mencobakan”-nya di Vietnam. [Gejala mengecilnya bumi, barangkali, menyebabkan satu pola kelakuan di satu tempat ditiri di tempat lain. Kita mendengar kebuasan kelompok-kelompok yang bermusuhan dengan pemerintah di Aljazair dalam membantai para penduduk tak berdoa, yang begitu saja dituduhkan dilakukan oleh front Islam (FIS dan sekitarnya), meskpun orang tak memberi bukti. Di Indonesia, kebuasaan pertama yang kita buat mungkin yang menimpa para warga PKI atau yang dituduh terlibat kudeta 30 September 1965, menyangkut jumlah yang sampai sekarang tidak terhitung). Di sebagian tempat, seperti Bali, tapi juga di Jawa, cara-cara pembunuhan (dan siapa yang dibunuh) menunjukkan kemerosotan derajat kemanusiaan. Hal yang kurang sedikit dari itu dilakukan lagi dalam perang antarpenduduk (menyangkut faktor etnis, dengan campuran agama) di Ambon dan sekitarnya, selain di Sambas, Kalimantan Barat, 1998-1999 – catatan kaki ini dimuat oleh penulis tafsir untuk bukunya Dalam Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik, 2000, red]. Toh yang diperbuat Saddam betapapun jauh kurang cemar dibanding kelakuan para penjahat perang Serbia, termasuk perkosaan sistematis yang mereka lakukan terhadap 150.00 wanita Bosnia – seperti dimuat dua kali dalam tajuk Kompas, meski tetap dengan kemungkinan tidak sangat akurat.

Semua itu bisa dibandingkan dengan perang kemerdekaan kita sendiri yang sepanjang pengetahuan umum, terhitung bersih. Pembantaian yang terjadi justru dilakukan oleh Westerling, di Makasar, yang konon menyangkut jumlah puluhan ribu. Juga pembantaian Belanda terhadap keluarga besar Sultan Pontianak. Selain penipuan khianat terhadap Pangeran Diponegoro, dan selain pengingkaran janji kepada Cut Nya’ Dhien yang, tidak seperti yang disetujui sebelum tokoh itu dipaksa menyerah, akhirnya dibuang di Sumedang, Jawa Barat, dan bukan tetap di Aceh.

Kisah penangkapan Diponegoro yang dilukis oleh Raden Saleh

Dalam hidup, ada tuntutan moral. Juga dalam perang – yang sendirinya jahat. Dan karena perang memang jahat, agama-agama lain melepaskan diri – dan kehilangan kontrol. Perang, betapapun, masih satu kemungkinan sedih dalam kondisi kemanusiaan. Tanpa sama sekali kesediaan menanggung beban ini, bangsa ini sendiri tak akan pernah memasuki gerbang kemerdekaan.***               

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Panji Masyarakat, 18 Agustus 1997.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda