Cakrawala

Hakikat dan Fadhilah Fatihah untuk 75 Indonesia Merdeka

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm –  Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Wahai Dzat yang seluruh jiwa raga, nasib dan kehidupan kami semua senantiasa berada dalam genggaman Paduka.

Pada bulan Agustus tahun 2020 ini, kami bangsa Indonesia memperingati dan mensyukuri 75 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pernyataan untuk menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, yang hidup aman-tenteram-adil-makmur-sejahtera dan jaya- sentausa berdasarkan Pancasila. Maka  jadikanlah  bangsa dan negara kami ini bangsa dan negara yang Paduka ridhoi, rahmati dan berkahi, yang bisa melakukan serta mewujudkan ketertiban dunia  yang berdasarkan kemerdekaan-perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang rahmatan lilalamin, yang hamemeyau hayuning bawono.

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ:  al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn  –  Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Terima kasih ya Allah atas kasih sayang dan rahmat Paduka, sehingga kami masih tetap bisa berjuang bagi kejajayaan bangsa dan negara kami, menemani serta memberikan dorongan semangat juang anak-anak keturunan kami, generasi muda, dalam membangun kejayaan masa depan mereka, masa depan bangsa dan negara nan gemilang.

  الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ :  ar-raḥmānir-raḥīm – 

Wahai Yang Mahapengasih, wahai Yang Mahapenyayang, anugerahkanlah kepada kami bangsa yang menghuni negeri maritim NusantaraRaya sejak ribuan tahun silam, sampai dengan sekarang dan hari kiamat kelak, kasih sayang dan berkah Paduka.

Juga anugerahkanlah kepada kami, khususnya kepada para pemimpin kami, para elit kami, para penguasa di negeri ini,  pikiran, tindakan, sikap dan perilaku kasih sayang terhadap sesamanya, terhadap bangsa dan negara.

  مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ :  māliki yaumid-dīn – 

Wahai Penguasa dari segala Penguasa, di masa sekarang maupun yang akan datang. Penguasa dunia maupun akhirat. Padukalah Maharaja di Raja. Maka kami memohon dengan sepenuh harapan dan keyakinan, jauhkanlah kami dari para pemimpin, para penguasa dan elit negeri yang dzalim, yang tidak amanah, yang tidak adil, yang semena-mena, yang pembohong dan korup.  Sebaliknya, anugerahkanlah kepada kami bangsa Indonesia, para penguasa yang amanah, yang senantiasa menjunjung tinggi dan berpegang teguh pada keadilan dan kebenaran.

Duh Gusti, kami mungkin tidak semua mampu membayar Pajak Penghasilan. Tapi kami semua adalah pembayar Pajak Pertambahan Nilai, yang hasilnya dipakai oleh Pemerintah untuk mengelola Pemerintahan. Karena itu dengarkan dan kabulkanlah doa kami, rakyat pembayar pajak ini.

 اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ :  iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn –  Hanya kepada PADUKA kami menyembah dan hanya kepada PADUKAlah kami mohon pertolongan.

Wahai yang maha mengabulkan doa hamba-hambaNya. Wahai sesembahan kami, wahai Yang Mahapenolong, tolonglah bangsa dan negeri kami sehingga kami bisa segera mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang kami proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Jadikanlah negeri kami ini negeri yang sungguh-sungguh mengamalkan Pancasila baik dalam penyelenggaraan Pemerintahan, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari. Berdasarkan firman-firman Paduka, kami yakin Paduka akan mengabulkan doa dan permohonan kami ini, menjadi bangsa yang berkepribadian dalam peradaban dan kebudayaan, yang mandiri dalam bidang ekonomi dan berdaulat di bidang politik. Bangsa yang hidup aman tenteram, adil makmur, sejahtera jaya sentosa.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ : ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm –    Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Tunjukilah kami semua khususnya  para Pemimpin kami, jalan kebajikan, jalan pengabdian bagi sebesar-besarnya kemaslahatan umat, jalan yang bisa mewujudkan rahmat bagi semesta alam, dan jadikanlah itu semua sebagai bekal ibadah dan amal saleh kami.

  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ :  ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn – (yaitu) – jalan orang-orang yang telah PADUKA beri nikmat ; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.


Subhaana rabbikaa rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, Wa salaamun ‘alal mursaliin, Wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda