Aktualita

Basis Argumentasi Kembali ke UUD 1945 yang Asli (2)

Written by Samuel Lengkey

Solusi Tafsir Konstitusi

Seperti yang saya argumentasikan bahwa konstitusi adalah peraturan hukum yang berlaku di masyarakat yang menjadi hukum bersama yang harus patuhi, dirumuskan oleh wakil rakyat di

DPR dan dijalani oleh lembaga-lembaga kekuasaan Negara. Maka, konstitusi apa yang ideal bagi kita? Untuk memahami konstitusi ideal tersebut, maka kita harus membawa pemikiran, pemahaman dan pengetahuan kita untuk kembali ke masa lalu. Karena, masa lalu adalah akar sejarah dari eksistensi negara ini dan memuat tafsir yang jelas dan terang tentang dasar berdirinya negara dan sistem ideal yang diharapan oleh para pendiri bangsa.

Mungkin sebagian besar pembaca akan langsung menyimpulkan basis argumentasi saya adalah kembali ke UUD 1945 asli sebagai solusi utama menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia saat ini? Jawabannya belum tepat tapi benar. Karena dengan menjawab secara tegas kembali ke UUD 1945 Asli akan membawa perdebatan diruang besar para akademisi dan aktivis hukum tata negara, serta membuat para aktivis politik korban rezim orde lama yang sudah berusia senja dan aktivis korban rezim orde baru akan beraksi tajam dan keras. Kebenaran argumentasi saya adalah menggunakan masa lalu konstitusi kita, untuk kita dalami dan selami makna kekayaan historis lahirnya bangsa ini. Kita harus membaca pergulatan sejarah masa lalu bangsa ini, karena sejarah konstitusi itu adalah dasar dari bangunan ketatanegaraan dan landasan visioner demokrasi Indonesia yang akan dibangun dan akan dicapai.

Sejarah konstitusi negara ini menyediakan data yang jelas, otentik dan eksistensial. Data yang jelas karena ada risalah tertulis yang berbentuk buku-buku yang bisa kita baca. Otentik karena bersumber langsung dari pelaku sejarahna, berisi pikiran dan pengetahuannya secara langsung dan dikemukkan dalam perdebatan terbuka saat itu. Eksistensial adalah kenyataan akan peristiwa tersebut yang tidak direkayasa, namun hadir atas panggilan sejarah untuk membangun bangsa dan kesadaran itu lahir karena kehendak bersama untuk membangun bangsa yang merdeka. Pemikiran dan pengetahuan para pendiri bangsa yang terus berdebat dan berdiskusi dalam Badan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persipaan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memberikan pemahaman mendasar pengetahuan kita untuk memahami mereka. Usaha ini bukan berarti masuk dalam pemikiran masa lalu dan mengadopsi pemikiran dan pengetahuan masa lalu itu untuk diterapkan dimasa sekarang, tanpa ada proses konstekstualisasi atau rasionalisasi sejarah secara kekinian. Namun, dengan menggunakan kekayaan sejarah dimasa lalu itu kita akan menemukan motif murni dari eksistensi bangsa ini lahir. Motif murni ini adalah maksud suci yang bebas dari kepentingan politik, kepentingan golongan, kepentingan agama, kepentingan berbagai mazhab ideologis, sehingga motif murni ini adalah solusi konflik masa lalu yang membuat para pendiri bangsa memendam ego masing-masing demi membangun negara dan sistem pemerintahan diatasnya. Motif murni para pendiri bangsa ini juga yang menjadi tantangan bagi generasi kita saat ini untuk menafsirkannya agar sesuai dengan kebutuhan negara saat ini.

Sejarah konstitusi dalam perdebatan sidang perumusan bangunan negara itu perlu kita dalami dan pelajari. Ini untuk mencegah perjalanan masa depan bangsa ini terjebak kembali dalam sirkulasi sejarah yang sama yakni mengulangi kesalahan dan penderitaan yang sama seperti

dialami oleh para pendiri bangsa. Oleh kecerdasan dan pengetahuan mereka memahami budaya dan perilaku masyarakat Indonesia, oleh karena itu mereka menyediakan wawasan kebangsaan dan ruang pengetahuan yang luas untuk kita pelajari. Ini juga membuat kita sadar bahwa para pendiri bangsa sudah mampu memproyeksikan hal-hal yang dapat terjadi dimasa depan. Kita tentu tidak mau mengalami kesalahan masa lalu, karena apa yang terjadi merupakan kesalahan yang sama dan terus dialani oleh kita sendiri. Tugas kita adalah memahami pergulatan pemikiran mereka saat itu secara utuh yakni dengan memasuki ruang pemikiran mereka, cerita pengalaman pribadi dan pendapat pribadi dalam menjelaskan apa yang mereka alami dan apa yang ingin mereka sampaikan. Pemikiran dan pengetahuan mereka adalah dasar bangunan pengetahuan dan pemahaman yang ingin kita bangun. Tentunya tidak semua pengetahuan dan pengalaman mereka kita integrasikan dalam pengetahuan masa kini, karena kondisi sejarah masa lalu dengan situasi sejarah masa kini sangat jauh berbeda.

Tantangan kita saat ini adalah melakukan proses kontekstualisasi masa lalu untuk ditafsirkan atau diterjemahaan secara aplikatif dimasa sekarang dan mampu menjawab kebutuhan dimasa depan. Pengalaman mereka dengan pengalaman kita tentu berbeda, begitu juga pengalaman yang akan dialami oleh generasi yang akan datang tentu berbeda pula. Namun, dengan menggunakan kekayaan sejarah masa lalu cukup memberikan cermin diri kita dimasa kini dan memberikan bayangan dimasa depan. Nilai dasar banguan sistem ketatanegaraan atau konsitusi yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa jangan sampai kita gali, kita cabut, kita bongkar, kita ganti dan kita buang hanya karena argumen romantisme sejarah bangsa yang sudah tidak cocok saat ini. Memang pengalaman kita dengan pengalaman pendiri bangsa sangat jauh berbeda, namun ada yang tidak akan berubah yakni budaya dan karakteristik bangsa ini yang terus dilakukan oleh masyarakat Indonesia dan hal itulah yang selalu menjadi sumber masalah dari konflk lintas sejarah bangsa ini. Budaya dan karakteristik bangsa ini bisa menjadi energi positif atau energi negatif dibalik semua peristiwa. Seperti cahaya lampu yang kita lihat, bukan cahaya itu yang menjadi objek penelitian kita, namun energi kinetik yang bekerja membuat lampu itu memancarkan cahaya. Jadi, apa yang nampak harus kita pahami secara utuh dan menyeluruh karena apa yang nampak itu karena ada sesuatu yang memicu keadaaan dibaliknya.

Generasi muda saat ini yang tidak mengalami perang melawan penjajah, tidak merasakan menjadi warga kerajaan-kerajaan kecil di nusantara yang saling berperang dan melihat pemenang itu adalah penjajah itu sendiri, kemudian bagaimana ajaran agama menjadi alat untuk membangun permusuhan diantara pemeluknya dan diantara tokoh bangsa dibuat pemimpin-pemimpin boneka penjajah untuk membuat kita terus pecah dan menghalangi kita bersatu. Gejala dan metode ini terus menerus kita alami sehingga energi kekuatan bangsa ini habis berputar dalam lingkaran ini. Karena itu, kita perlu masuk dalam ruang sejarah untuk merekonstruksi kembali semangat persatuan dari para pendiri bangsa yang telah berjasa memproyeksi kondisi yang akan terjadi dan menyediakan sistem dan metode penyelesaian berbagai masalah tersebut. Tugas kita adalah membangun relasi pemikiran dan pemahaman masa lalu, bergabung dalam suasana kebatinan atau psikologis mereka untuk menemukan kembali motif murni dalam diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan untuk membangun negara. Kesadaran dan pemahaman harus kita temukan didalam setiap warisan pemikiran mereka, karena kesadaran mereka karena sejarah yang mereka alami dan pemahaman bersama itu yang mendorong mereka untuk saling mengerti dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kesadaran dan pemahaman inilah yang memotivasi mereka membangun sistem dan peradaban konstitusi sendiri, mereka menghindar mengadopsi sistem dan konstitusi barat karena para pendiri bangsa yang berdebat diruang itu merupakan hasil pendidikan barat dan mengetahui kelebihan dan kelemahan dalam penerapan sistem tersebut, begitu juga dengan sistem dan metode berbasis negara agama yang dipelopori tokoh-tokoh agama yang ingin mengadopsi konsep negara di timur tengah, di sisi yang lain para penganut kepercayaan juga ingin mengekspresikan keinginan sistem kepercayaan masuk dalam sistem politik, dan semua pergulatan tersebut larut bersama dalam kesadaran dan pemahaman bersama dengan merumuskan sistem dan konsep Negara demokrasi ramuan sendiri. Inilah alasan kita untuk masuk dalam ruang sejarah pemikiran mereka, mengambil nilai-nilai yang mereka rumuskan bersama dan membangun pengetahuan mereka kemudian semua itu kita bawa dalam konteks kekinian untuk menggunakan warisan pengetahuan dan pemikiran mereka untuk diintegrasikan (disatukan/disesuaikan) dengan kondisi saat ini.

Inilah proses rasionalisasi konstitusi warisan sejarah bangsa dengan bangunan konstitusi kita saat ini, karena warisan pemikiran konstitusi mereka adalah konsep yang menentukan dan membedakan konstitusi kita dengan konstitusi negara lain. Ibarat sup mie yang kita makan, ramuan resep kaldu bumbu mie itu adalah penentu rasa dilidah kita untuk bisa kita rasakan perbedaanya. Maka, resep kaldu konsitusi warisan pendiri bangsa itu dinamakan demokrasi Pancasila. Konstitusi kita bukanlah tiruan dari negara lain, bukan juga mengadopsidari negarta lain, melainkan hasil kontemplasi dan perenungan bersama para pendiri bangsa untuk memberikan solusi dari konflik dan pertikaian yang diakibatkan oleh pertarungan kekuasaan yang mengancam kehidupan masyarakat, serta mencegah perpecahan karena berbagai perbedaan yang kita miliki.

Wacana mengembalikan konstitusi dalam hal sistem Demokrasi Pancasila perlu kita gali dan kembangkan lagi dan menyesuaikan dengan kondisi kekinian, serta menjawab tantangan bangsa ini dimasa depan. Jangan kita membuang sistem dan konsep bangunan negara yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa yang menjadi ciri khas kita sendiri, karena hanya merasa malu tidak menemukan ini konsep dan teori ini dalam mata kuliah di negara-negara barat. Padahal, peradaban pendidikan dan pengetahuan baratpun dibangun berdasarkan kekayaan pengetahuan mereka dimasa lalu. Jangan pernah meninggalkan identitas diri bangsa kita sendiri karena identitas diri itu sebagai tanda pengenal bangsa kita dan identitas diri bangsa ini telah memiliki resep atau solusinya sendiri yakni demokrasi Pancasila. Perlu kekuatan sinergis dan konsistensi untuk merumuskan lebih aplikatif sistem demokrasi Pancasila itu, sembari kita menghindarkan diri dari jebakan prasangka-prasangka atau tuduhan otoritarian rezim orde lama dan orde baru yang menggunakan metode dan sistem ini untuk mempertahankan kekuasaannya.

Penutup

Saya teringat cerita tentang Adam dan Hawa yang memakan buah yang mengandung pengetahuan baik dan jahat dimana akibat memakan buah tersebut maka Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden (versi Kristen) atau Nabi Adam dan Hawa memakan Buah Khuldi yang digoda oleh setan untuk memakannya agar bisa seperti malaikat yang hidup kekal disurga dan sesaat sesudah memakannya mereka tersingkap auratnya dan akibatnya mereka dibuang ke bumi.

Apakah tema ini ada hubungannya untuk menggambarkan motif dan keinginan dari penyelenggara diskusi untuk membangkitkan kesadaran kita bersama? Perlu kita renungkan bersama

Disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan dalam rangka memperingati hari Konstitusi 18 Agustus 2020 dengan Tema Membedah dan Memetik Buah Amandemen UUD 1945. Penyelenggara: Panjimasyarakat.com dan Gerakan Kebangkitan Indoonesia (GKI).

About the author

Samuel Lengkey

Managing Partners Samuel Lengkey & Partners, Direktur Eksekutif Jaringan Analisis Strategis, Co-Founder Lembaga Kajian Ilmu Hukum (LKIH) 1708.

Tinggalkan Komentar Anda