Mutiara

Kiai Bambu Runcing

Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai Subkhi adalah juragan tembakau dari Temanggung, Jawa Tngah,  dan menjadi  pemimpin pasukan bambu runcing dalam menghadapi Belanda yang ingin menguasai Indoneia kembali.

Bismillahi bi ‘aunillah. Allahu ya khafidhu. Allahu akbar. Inilah doa yang diajarkan Kiai Subkhi dari Parakan, Temanggung, Jawa Tengah,  kepada para prajurit  bambu runcing, yang mereka baca tiga kali sebelum berangkat perang. Senjata itu bukan sembarang bambu yang diruncingkan lalu dibawa maju perang. Melainkan bambu runcing yang sudah “diisi” atau “disepuh” sebelumnya oleh Kiai R. Sumomihardho, ayah Kiai Muhaminan Gunardo, pendiri Pondok Pesantren . Selain itu, para prajurit amatiran itu harus menghadap dua kiai lainnya, yaitu K.H. Abdur Rohman dan  Kiai Ali. Kiai Abdur Rohman akan memberi nasi manis, nasi yang ditaburi gula putih.  Ini bukan nasi buat mengenyangkan perut, tapi sebuah asma, yang kadang juga disebut isim. Semacam jimat yang dalam hal ini untuk kekebalan. Sedangkan Kiai Ali memberi asma air wani (berani), yang membuat orang  menjadi berani dan tak merasa lelah.     

Banyak tokoh nasional yang telah memanfaatkan jasa para kiai itu: agar memperoleh kekebalan dan keberanian dalam masa revolusi. Tak kurang dari Jenderal Soedirman, menurut Muhaiminan, pernah datang ke Parakan guna menyepuhkan bambu runcing untuk “Palagan Ambarawa” — pertempuran di Ambarawa. Selain itu, masih ada sederetan nama lain. Misalnya Wongsonegoro (dulu Gubernur Jawa Tengah), Roeslan Abdul Gani, K.H. Wahid Hasyim, Moh. Roem, dan Kasman Singodimedjo.

Yang paling menonjol di antara para kiai bambu runcing itu adalah Kiai Subkhi. Sebab, ia selalu berada  di garis depan ketika  menyerang musuh.  Di tengah  seruan takbir yang sahut-menyahut, rakyat bergelombang-gelombang menyerang Belanda yang bersenjata lengkap. Meski hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka maju terus, di bawah komando Kiai Subkhi. Yang selamat dari serangan Belanda, tidak hanya Kiai Subkhi tapi juga para prajurit bambu runcingnya.

Kiai Subkhi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Ia putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Kakeknya,  Kiai Abdul Wahab, adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Ketika laskar Diponegoro a kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri. Setelah berpindah-pindah, untuk menghindar dari kejaran Belanda, keluarga Kiai Abdul Wahab akhirnya menetap di Parakan. 

Subkhi  dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subkhi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Kiai Subkhi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subkhi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subkhi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat. Menurut Kiai Saifuddin Zuhri, Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma’, Kiai Subkhi justru menangis tersedu. “KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subkhi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bambu Runcing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar,”   ungkap  Saifuddin Zuhri yang pernah menjadi menteri agama itu.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda