Relung

Memasuki 1442 Hijrah, dengan Mengharap Pertolongan Allah

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Mungkin hanya sebagian kaum Muslim yang ngeh bahwa kita telah memasuki tahun 1442 Hijrah. Sebab memang tidak banyak yang punya kalender kreasi Khalifah Umar ibn Khaththab ini. Lagi pula dalam kegiatan hari-hari kita lebih banyak menggunakan  penanggalan Masehi atau Miladiah. Bahkan perayaan milad atau hari lahir mengacu kepada perhitungan kalender Masehi. Mungkin hanya acara haul saja yang masih berpatokan pada penanggalan Hijri. Tentu  juga ada hari-hari besar umat Islam, yang biasa ditandai sebagai “tanggal merah” pada kalender Masehi.

Berbeda dengan datangnya tahun baru miladiyah yang kental dengan suasana hura-hura seperti  pesta kembang api, pertunjukan musik, tahun baru hijrah umumnya disambut pawai ta’aruf dari pelbagai oganisasi dan lembaga-lembaga keagamaan Islam dengan mengumandangkan takbir dan mendendangkan selawat Nabi. Sebuah panorama yang tidak kita jumpai tahun ini lantaran pandemi Covid-19. Sama seperti acara “agustusan” yang juga sepi pada masa pagebluk ini.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa kita jadikan renungan bersama dalam memasuki tahun baru hijrah ini, dalam suasana penuh keprihatinan dan ketidakpastian. Pertama, kita masih diberi panjang umur oleh Allah SWT saat memasuki tahun baru ini. Ini berarti bertambah pula kesempatan kita untuk menikmati udara kehidupan, yang berarti bertambah pula kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita. Kedua, sudah seharusnya kita bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya itu, yang tidak mungkin kita bisa menghitungnya. Allah berfirman:”Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya.”  (Quran,  surah Ibrahim ayat 34). Dan memang kita tidak diperintah untuk menghitung-hitung nikmat Allah, tetapi unuk mensyukurinya. “Dan ingatlah, tatakala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.S. Ibrahim:7). Ketiga, mensyukuri nikmat Allah tentu tidak hanya cukup dengan lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata. Yakni dengan menempatkan nikmat Allah pada tempat atau arah yang tepat dan benar.

Untuk itu, marilah kita sejenak melihat ke belakang, ke peristiwa-peristiwa, pengalaman-pengalaman, dan persoalan-persoalan yang kita hadapi selama satu tahun. Apakah itu dalam konteks kita sebagai hamba Allah (hablum-minallah)  atau dalam kaitan sebagai bagian dari anggota masyarakat (hablum-minannaas).

Dalam hubungan dengan Al-Khaliq, sebagai makhluk Sang Maha Pencipta, mari kita bertanya kepada diri sendiri: seberapa besar kita telah melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangan-larangannya? Berangkat dari kesadaran betapa banyaknya kekurangan yang ada dalam diri selaku hamba Allah, maka kita harus menguatkan niat atau komitmen kita kembali untuk berusaha menutup kekurangan-kekurangan pada tahun lalu, memperbaiki berbagai kesalahan dan menyesali sikap maupun perbuatan tercela, serta berusaha meningkatkan derajat ketaatan atau ketakwaan kita kepada Allah SWT. Alhasil, pada tahun yang mulai kita jalani ini kita berusaha menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang baik.

Selain sebagai hamba Allah, kita  manusia juga merupakan makhluk sosial yang diciptakan Tuhan untuk berinteraksi dengan sesamanya. Sebagai manusia tidak bisa hidup dan mengidupi dirinya secara sendiri, tetapi mempunyai saling ketergantungan satu sama lainnya. Sebagai bagian atau anggota dari sebuah masyarakat, kita tidak hanya menerima  tetapi juga dituntut memberi manfaat atau maslahat. Pertanyaannya, seberapa besar amal dan jasa yang telah kita berikan untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama dalam setahun yang lalu?

Mari kita jadikan momentum tahun baru ini untuk mengadakan perhitungan, muhasabah, melakukan introspeksi, bagaimana kontribusi kita dalam kehidupaan bermasyarakat? Apakah kita telah berusaha secara maksimal untuk menjadikan diri bermanfaat bagi masyarakat? Bukankah seorang Muslim yang baik senantiasa bersemangat tinggi dalam berbuat jasa dan kemanfaatan bagi orang banyak? Rasulullah s.a.w. bersabda: “Khairun-naas anfa’uhum lin-naas. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banayak memberi manfaat bagi manusia.” (H.R. Ath-Thabrani).   

Setelah kita melakukan muhasabah, intropeksi, mengadakan koreksi terhadap diri sendiri (self correction), apa langkah berikutnya? Pertama, tentu saja kita berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi manusia yang baik sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah itu, sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing. Kedua, merealisasikan komitmen tersebut dalam bentuk perbuatan yang nyata, tidak sekadar berwacana alias omong doang. Sebab, dengan demikian berarti kita pandai mensyukuri nikmat umur, yakni menggunakan umur bagi kepentingan dan kemaslahatan orang banyak.

Semoga kita bisa melewati masa ujian dan cobaan (balaa’), yang menyebabkan jutaan orang di pelbagai belahan bumi hidup dalam keadaan tersiksa akibat pandemi Covid-19. Wallahul musta’an.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024