Cakrawala

Daulat Manusia dan Dunia yang Kehilangan Makna

Dalam bukunya Escape From Freedom yang pertama kali terbit di tahun 1941, Erich Fromm mencoba menelanjangi paradoks kebebasan yang diberhalakan manusia modern. Di satu sisi, kebebasan membuat manusia mampu menumbuhkan kekuatan, mampu menguasai alam serta mengembangkan akal-budinya.

Sementara di sisi yang lain, kebebasan juga melahirkan keterasingan dan ketidak-amanan; yang secara ‘aneh’ pada ujungnya justru melahirkan ketidak-berdayaan dan ketidak-bermaknaan manusia sebagai pribadi. Kenyataan inilah yang mendorong manusia melarikan diri dari kebebasannya.

Menurut Fromm, sumbernya adalah kenyataan terpecah-belahnya kepribadian manusia modern. Bila dilacak, penyebabnya adalah perubahan kepribadian manusia yang muncul bersamaan dengan berkembangnya kapitalisme.

Karakter kapitalisme sangat berperan dalam proses isolasi dan pemisahan individu dari sesamanya. Dalam sistem kapitalisme, posisi manusia tak lebih dari sekadar alat produksi. Dan sebagai alat produksi, manusia dimanfaatkan untuk mengejar tujuan-tujuan yang ditentukan dan berada di luar jangkauan dirinya. Tujuan itu sendiri bersifat abstrak, seperti akumulasi modal, efisiensi, dan peningkatan produksi misalnya.

Untuk sekedar menambahkan; dalam dunia sains, itu tercermin dengan semakin berkembangnya sikap reduksionistik di hampir semua cabang ilmu pengetahuan. Orang semakin terkonsentrasi pada bagian-bagian kecil kenyataan, semakin terspesialisasi; sehingga kehilangan gambar besar kehidupan yang sebenarnya menjadi sumber makna bagi manusia.

Nilai-nilai abstrak inilah yang terus menerus memaksa dan mendikte manusia dalam hampir semua sisi kehidupan, sehingga akhirnya membuat manusia kehilangan kemampuan untuk memaknai kehidupan pribadinya secara konkret. Manusia cenderung kehilangan spontanitas dan keakraban dunia sosialnya. Hubungan sosial menjadi bersifat instrumental dan didorong semata-mata oleh kepentingan.

Lebih jauh lagi, manusia semakin kehilangan perspektif individu dalam memahami realitas ekonomi dan politik yang abstrak. Belum lagi ditambah dengan berbagai ancaman perang, kelaparan, pengangguran dan kejahatan; semakin mempertegas situasi ketidak-amanan dan ketidak-berdayaan manusia.

Pelarian manusia dari kebebasan pada dasarnya merupakan jalan penyelamatan dari kondisi ketidak-amanan dan ketidak-bermaknaan dirinya di tengah semesta. Ketidakbermaknaan dan ketidakberdayaan mengubah sistem besar yang melingkupinya, menjadikan individu merasa kecil dan tak berarti.

Kenyataan inilah yang menurut Fromm mendorong manusia modern mengembangkan ilusi-ilusi yang dianggapnya bisa memberi makna dalam pelariannya dari kebebasan. Ada tiga mekanisme pelarian diri yang disebut Fromm: otoritarianisme, sikap destruktif, dan konformitas otomatis.

Otoritarianisme pada dasarnya adalah selubung bagi ketidak-berdayaan dalam upaya menguasai pihak lain; ini dilakukan dengan dua cara: menjadi otoriter atau takluk pada kuasa otoriter. Atau, yang lebih banyak terjadi, adalah kombinasi keduanya yang dalam ungkapan kita dibahasakan dengan: menjilat ke atas, menginjak ke bawah.

Usaha ini melahirkan mekanisme kedua, yaitu sifat merusak atau destruktif pada diri sendiri dan dunia luar. Pada skalanya yang paling besar, sifat destruktif ini kita lihat pada apa yang bisa dikatakan sebagai kecenderungan bunuh diri peradaban, yang dengan kasat mata kita lihat di zaman kita.

Sementara di sisi lain, di kalangan masyarakat umum, munculnya konformitas otomatis terhadap dunia luar, membuat mereka nyaris seperti bunglon, yang harus selalu berupaya menyesuaikan dan mengidentifikasikan diri dengan kondisi yang mendominasi sekelilingnya. Manusia baru merasa aman dan bermakna ketika bergabung dengan kekuatan dominan yang ada di sekitarnya.

Menurut Fromm, ketiga mekanisme pelarian diri tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membuat individu merasa memiliki arti bagi eksistensinya di dunia abstrak kapitalisme. Dan dengan demikian menghindarkan perasaan tak berdaya, tak berarti, dan kesepian yang timbul karena kebebasan diri. Namun, demikian simpul Fromm, ilusi-ilusi ini pada dasarnya tak pernah terwujud. Manusia justru semakin terpencil dan semakin jauh dari kedaulatan pribadinya.

Pendekatan Erich Fromm mungkin sangat membantu sebagai pisau analisa dari apa yang kita kategorikan sebagai psikologi sosial, namun karena landasannya lebih ke materialisme, yang Marxian dan psikologi yang Freudian; terasa masih menyisakan lubang kelemahan yang segera kita rasakan. Tekanannya pada relasi dengan dunia luar, membuat ia kurang memberi porsi pada persoalan ‘dunia dalam’ manusia.

Interaksi ‘dunia luar’ dan ‘dunia dalam’ seharusnya menjadi faktor yang sangat penting dianalisa sebelum orang bicara tentang kebebasan dan kedaulatan manusia. Dalam diri manusia ada beragam kecenderungan nafsu yang potensial mendorongnya ke kerendahan; karena itu, tekanan agama ada pada bagaimana manusia menundukkan elemen-elemen negatif di dalam dirinya, sebelum ia mengelola elemen di luar dirinya.

Atau, lebih tepat lagi, bagaimana mengelola elemen-elemen di dalam diri secara sekaligus mengelola elemen di luar diri; bagaimana mengelola elemen di luar diri secara sekaligus mengelola elemen-elemen di dalam diri. Ketika ‘masuk’ sekaligus ‘keluar’; ketika ‘keluar’ sekaligus ‘masuk’. Elemen-elemen di dalam dan di luar, hakikatnya hanyalah sekadar sarana berdialog agar manusia menemukan kesejatian diri.

Kalau kita persingkat, rancangan dasar manusia adalah untuk menghamba; ‘dan tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi’ (QS 51: 56). Li ya’budun, atau mengabdi adalah sifat dasar jin dan manusia. Li ya’budun juga mengandaikan keterikatan, dan keterikatan mengandaikan dilepaskannya kebebasan. Kalau memakai ayat ini sebagai landasan, jin dan manusia memang akan selalu memosisikan dirinya dalam keterikatan, dengan menghamba pada sesuatu. Jin dan manusia tidak mungkin melepaskan diri dari sifat dasarnya ini.

Masalahnya: bagaimana manusia menemukan keterikatan yang membuatnya terbebas dari semua keterikatan yang membelenggunya? Mungkin ini adalah paradoks sejati dari kebebasan, namun memang demikian kenyataannya.

Kalau secara netral menggunakan piramida sosial sebagai analogi; kita bisa mengatakan bahwa keterikatan pada kekuasaan tertinggilah yang membuat manusia terbebas dari semua ikatan lain yang lebih rendah. Dalam kaitan agama, Allah-lah subyek keterikatan tertinggi tersebut.

Dengan mengikatkan diri pada Allah, manusia terbebas dari semua belenggu ikatan lain yang lebih rendah kedudukannya; baik yang berasal dari ‘dalam’ mau pun dari ‘luar’ dirinya. Dengan cara ini, manusia terbebas dari semua belenggu keberadaannya dan memiliki kedaulatan sejati dalam mengelola semua elemen di ‘dalam’ mau pun di ‘luar’ dirinya.

Tanpa mengikatkan diri, menghamba, pada Allah; manusia pasti akan mengikatkan diri dan menghamba pada apa pun yang kedudukannya lebih rendah. “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (QS 59: 19). Dan lupa pada diri sendiri inilah yang sesusungguhnya menjadi sumber keterasingan, keterpencilan dan hilangnya makna hidup manusia.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda