Mutiara

God Has Dicided

Written by A.Suryana Sudrajat

Berbagai kejadian kebetulan mengatarkan kita ke alam kemerdekaan. Nonsense, kalau dikatakan karena kehebatan bangsa Indonesia —  kata Sjafruddin Prawiranegara.

Dada-dada kurus telanjang. Kain merah putih pengikat rambut gondrong. Sepotong bambu runcing, serta “Merdeka atau mati!” Begitulah selalu para revolusioner muncul di mulut-mulut gang pada peringatan hari kemerdekaan. Lukisan di atas triplek itu seperti ingin mengingatkan sekaligus mewakili gelora revolusi Indonesia.

Benar. Sebab sesudah Proklamasi, para pemudalah yang mengobarkan api kemerdekaan. Bertempur, baik dengan tentara Jepang maupun Inggris dan Belanda.  Mereka juga menyalakan api revolusi sosial: berkonfrontasi dengan raja-raja serta kaum bangsawan yang pro-Belanda.

Entah berapa ribu pemuda yang tewas dalam pertempuran-pertempuran di sekitar Karawang dan Bekasi, Pekalongan, Semarang, Magelang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Aceh,  dan Sulawesi Selatan. Penyair Chairil Anwar bersaksi:

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi…

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami mati terbaring antara Karawang-Bekasi

Di Semarang, 200 tentara Jepang dibunuh  dengan bambu runcing, dan tentara Jepang membalas dengn menghabisi nyawa 2000 orang Indonesia. Dan berapa yang gugur di Surabaya dalam pertempuran selama tiga minggu menghadapi pasukan Inggris yang modern. Juga di Sulawesi Selatan, di bawah Letnan Westerling, pemimpin pasukan Belanda yang ganas itu.

Adapun di Aceh, para pemuda, bersama para ulama yang tergabung dalam PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di bawah pimpinan Daud Beureueh, menyingkirkan 107 bangsawan yang berkedudukan sebagai hulubalang. Terutama di Piddie di bawah kepemimpinan Teuku Daud Cumbok yang mengejek Republik dan para pemuda yang revolusioner. Sebagian besar mereka digulung dalam Perang Cumbok yang berlangsung dua pekan.

Pasukan pemuda dengan senjata bambu runcing

Perjuangan kemerdekaan Indonesia memang berhasil, dan kita tahu, tidak hanya melalui medan pertempuran tapi juga lewat meja perundingan. Sampai sekarang, orang masih berdebat: mana di antara keduanya yang paling menentukan terusirnya kolonialisme Belanda yang sejak abad ke-17 mulai menguasai wilayah-wilayah Nusantara.

Tapi Sjafruddin Prawiranegara punya pendapat berbeda dari orang ramai. Menurut Kepala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (21 Desember 1948-13 Juli 1949) ini, dalam wanwancara dengan radio BBC pada tahun 1985, keberhasilan itu karena sudah takdir Ilahi, “God has dicided, Tuhan sudah menentukan, kamu sudah musti merdeka. Kalau tidak, itu tidak mungkin.”

Seperti dikatakannya, itu merupakan pandangan dirinya selaku orang beriman, yang percaya akan ketentuan Allah. Sebab yang kemudian menjadi fokus bidikannya adalah sekuen-sekuen ‘kejadian kebetulan’.

Demikianlah, sebelum Perang Dunia II, bangsa Indonesia sudah berkali-kali mencoba melepaskan diri dari kekuasaan kolonial Belanda. Tanpa kedatangan tentara pendudukan Jepang, Indonesia sulit lepas dari cengkeraman Belanda. Kemudian, bertanya Sjafruddin: “Bagaimana kita bisa melepaskan diri dari penjajahan Jepang, kalau Jepang tidak dikalahkan Sekutu?” Jadi, kata dia, karena Jepang  dikalahkan Sekutu, kita bisa bebas dari Jepang. Inggris memang telat sebulan untuk melucuti tentara Jepang, dan kesempatan itulah yang kita gunakan untuk memproklamasikan diri. Andaikata tepat waktu, mungkin Indonesia sudah diserahkan kembali kepada Belanda. Biarpun Belanda sudah lelah berperang, kata Sjafruddin, mustahil kita menang hanya dengan mengandalkan senjata semata. “Yang sangat membantu kami yaitu simpati daripada dunia demokrasi. Mereka itu sudah jemu berperang. Kita bisa menang… terutama karena Amerika Serikata menarik bantuannya kepada Belanda. Jadi kalau dikatakan ini karena kehebatan bangsa Indonesia, itu nonsense.

Menurut mantan Menteri Keuangan dan bekas Gubernur BI kelahiran Anyer Kidul (Banten) itu, kita memang berusaha,  tetapi “lebih karena segala kebetulan-kebetulan, all kind of kejadian-kejadian itulah, kita bisa merdeka.” Karena itu, Sjafruddin percaya bahwa sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa kita mesti merdeka, dan “InsyaAllah kita juga akan bisa menyelesaikan segala sesuatu itu dengan bantuan Allah, asal kita ingat dan kembali kepada Allah.”

Nah.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda