Mutiara

Bapak Orang Aceh yang Dilumpuhkan dan Diasingkan

Written by A.Suryana Sudrajat

Daud Beureueh berjuang membela kemerdekaan, melawan pemerintah pusat, dan akhirnya kembali ke pangkuan NKRI. Tetapi rezim Orde Baru melumpuhkan dan mengasingkannya ke Jakarta.

Teungku Muhammad  Daud Beureueh, atau  Abu Beureueh, adalah  ulama kharismatik yang mendapat tempat khusus di hati rakyat Aceh. Maka, tidak heran bila pendiri Persatuan Ulama seluruh Aceh (PUSA) ini disebut   “Bapak orang-orang Aceh”. Kiprahnya dalam memperjuangkan Aceh di masa sebelum kemerdekaan membuatnya terpilih sebagai wakil gubernur militer Sumatera dengan pangkat Jenderal Mayor Tituler. Ia  lahir pada 15 September 1899 di Beureueh, Sigli, Nangroe Aceh Darussalam. Ulama besar ini memiliki pengaruh besar pada zamannya terutama di kalangan rakyat Aceh. Abu Beureueh juga tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah perjuangan Aceh, baik saat masa perjuangan mengusir penjajah, maupun dalam upaya mengisi kemerdekaan.

Daud Beureueh Muda

Daud  tumbuh di lingkungan yang  religius. Tempat kelahirannya dikenal kampung heroik Islam. Dia anak seorang ulama yang sangat dihormati dengan gelar “Imeuem (imam) Beureueh”. Ia mendapat nama Muhammad Daud dari orangtuanya dengan harapan jika  besar nanti mampu mengganti posisi orangtuanya sebagai ulama sekaligus mujahid yang siap membela Islam.

Daud Beureueh menempuh pendidikan di beberapa dayah (pesantren)  di Sigli. Latar belakang pendidikan inilah yang menjadi modal keulamaannya. Walaupun tidak mengenyam pendidikan formal, keilmuan Daud Beureueh dapat dikatakan sejalan  dengan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh Islam terkemuka di Indonesia. Namun, semasa hidupnya, ia tidak meninggalkan karya tulis seperti tokoh-tokoh Aceh lainnya. Sehingga ingatan tentang perjuangan dan kebesaran Abu Beureueh hanya didapat oleh orang-orang Aceh yang hidup di zamannya.

Daud Beureueh dikenal tokoh pemberani. Inilah antara lain yang mengundang simpati  rakyat Aceh sehinga ia dipercaya menjadi pemimpin tentara Indonesia dalam pertempuran melawan Belanda. Ia juga berhasil menyatukan laskar-laskar perang di Aceh ketika hendak digabungkan menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Itulah sebabnya, meskipun tidak mengenal sekolah, wakil presiden Indonesia pertama, Muhammad Hatta, mengangkatnya menjadi wakil gubernur militer Sumatera dengan pangkat Jenderal Mayor Tituler.

Daud Beureueh yang dikenal sosok pemimpin tegas dan berjiwa besar ini telah menjadi ikon perlawanan dari Serambi Mekah. Kekaguman masyarakat terhadapnya berbanding lurus dengan besarnya kepercayaan dan harapan masyarakat Aceh. Sehingga tidak heran jika ia mampu menggerakkan massa dalam jumlah banyak hanya dengan kata-katanya. Ia juga dianggap sebagai ancaman oleh lawan-lawan politiknya karena kepercayaan masyarakat yang terlalu tinggi. Dengan popularitas yang cukup luas sebagai seorang ulama besar di Aceh itulah, Beureueh mendapat gelar  “Teungku di Beureueh”.

Di akhir-akhir hayatnya,  Daud Beureueh mendapat perlakuan yang kurang layak dari  rezim Orde Baru. Sang revolusioner dan pahlawan kemerdekaan ini dilumpuhkan dan diasingkan ke Jakarta untuk mencegah kharismanya yang menggelorakan perlawanan rakyat Aceh. Ia wafat pada 10 Juni 1987 saat usianya menginjak 88 tahun dalam keadaan yang memprihatinkan. Ia meninggal dua tahun sebelum pemerintah menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) masa yang membuat luka di Tanah Rencong kembali terbuka, sepeninggal pemberontakan DI/TII yang melibatkan sang panglima,  yang akhirnya turun gunung dan kembali ke pangkuan NKRI. Dia mengatakan, kurang lebih, Bagi dia, sebagaimana halnya ketika melawan Jakarta, kembalinya mendukung Republik Indonesia yang ia perjuangkan bersama rakyat Aceh, semata karena Allah Taala.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda