Tafsir

Tafsir Tematik: Perang untuk Kemerdekaan (1)

Written by Panji Masyarakat

Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melanggar batas. Allah tidak menyukai mereka yang melanggar batas. Bunuhlah mereka di mana saja kamu dapatkan dan usir mereka dari tempat mereka dahulu mengusir kamu, dan fitnah itu lebih besar dari pembunuhan …… (Q. 2: 190 – 191).

Inilah salah satu ayat yang “tegar”. Dan bisa agak membingunkan, jika dilihat bagaiman fitnah dibandingkan dengan pembunuhan dan dikaitkan dengan perang. Tapi justru pada faktor fitnah terdapat kenyataan ini: kesejajaran perang agama dengan perang kemerdekaan. Dan bahwa perang agama, dalam Islam, praktis bukan hanya perang agama.

Inilah ayat yang pertama turun tentang perang, menurut Ar-Rabi’ ibn Anas r.a. (Thabari, II: 189). Ia, yang berasal dari wahyu periode Madinah, juga merupakan ayat perang pertama yang akan kita jumpai bila kita membuka kitab Alquran  dari muka. Semua sejarawan sepakat, dalam kehidupan Rasulullah s.a.w. di Mekah, perang dilarang, dan itu dicerminkan oleh banyak ayat Alquran masa itu, yang tidak sekalipun berbicara tentang perang melainkan justru pendekatan yang lunak (lih. Q. 26: 214; 23: 96; 41: 34; 5: 13; 73: 10; atau 88: 22). Ketika Nabi s.a.w. berhijrah ke Madinah, barulah turun ayat di atas (Qurthubi, II: 347). Maka Rasulullah pun, menuruti bunyi ayat, mulai memerangi mereka yang memerangi beliau dan menahan diri dari mereka yang menahan diri. Sampai tiba masanya turun surah Al-Bara’ah yang menentukan lain, menurut Rabi’ (Thabari, loc, cit.).

Tetapi tidak semua pencatat menyakini ayat di atas sebagai yang pertama. Sebuah riwayat dari Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a. menyatakan, ayat yang mula-mula turun tentang perang adalah ini: “Diizinkan (berperang) bagi mereka (kaum muslimin) yang diperangi, karena mereka teraniaya, dan bahwa Allah, untuk menolong mereka, mahakuasa. Mereka yang diusir dari kampung halaman sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena berkata ‘Tuhan kami (hanyalah) Allah’……” (Q. 22: 39-40; lihat artikel Biara, Gereja, Sinagog dan Masjid). Hanya saja pendapat pertama, menurut Al-Qurthubi (w. 671 H), lebih banyak pengikutnya, (Qurthubi, loc, cit.).

Tetapi ada sebuah film keagamaan yang bagus Judulnya, Ar-Risalah (The Message). Sutradaranya, Musthafa Al-Aqqad, untuk lukisan peperangan di masa Rasul mendasarkan diri pada kesimpulan Abu Bakr r.a. di atas. Ia kelihatan mempertimbangkan Q. 22: 39-40 yang disodorkan oleh Abu Bakr itu dari sebagian kandungannya yang agaknya tidak dilihat Qurthubi. Dalam film digambarkan, para sahabat di Madinah lebih dari sekali bertanya kepada Rasulullah, mengapa mereka tidak juga menyerang (dan memerdekakan) Mekah, tanah kelahiran yang dikangkangi kaum kafir yang mengusir mereka. Jawab Nabi, seperti yang juga kita tahu dari Hadis, “Belum diizinkan untukku”. Nah, ayat tersebut kemudian memberikan izin itu.

Tidak mustahil sang sutradara, yang asal Mesir itu, menuruti Rasyid Ridha, tokoh yang juga orang Mesir, yang dalam kitab tafsirnya dari paruh pertama abad ke-20 Masehi, Al-Manar, juga menyatakan “ayat izin” tersebut sebagai yang pertama turun tentang perang. Baru sesudah rangkaian ayat yang dimulai dengan yang kita bicarakan ini. Berikutnya ayat-ayat surah Al-Anfal, lalu Ali Imran, Muhammad, dan terakhir Al-Bara’ah (Rasyid, XI: 126).  

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 18 Agustus 1997.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda