Cakrawala

Membaca Indikator Keadaan : Jangan Sampai Kehilangan Satu Generasi

Written by B.Wiwoho

Berbagai kelemahan dan ancaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di usia NKRI ke 75 ini, misalkan maraknya isu-isu pembelahan yang mengancam persatuan dan kesatuan; demokrasi semu yang dikuasai oleh Dwifungsi Gaya Baru “Pengusaha-Penguasa” dan Partai Politik yang tidak sejiwa dengan sila keempat Pancasila; serta ketidakadilan sosial ekonomi yang sangat menyolok, tentu bukanlah kesalahan Presiden Jokowi dan jajarannya semata, melainkan kesalahan kita semua yang mengarsiteki, mendukung atau setidaknya membiarkan terjadinya perubahan UUD pada tahun 2002.

Perubahan yang dikenal sebagai Amandemen UUD tahun 2002 itu telah membuat Pancasila hanya sebagai ruh gentayangan, sehingga pada gilirannya mengakibatkan timbulnya ancaman-ancaman tersebut.

Kini tatkala kita belum berhasil mengatasinya, muncul persoalan baru yang melanda dunia tak terkecuali Indonesia, yakni pandemi Corona atau Covid-19. Sebagaimana kita alami bersama, Corona berdampak dahsyat dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang harus banyak tinggal di rumah bersama keluarga inti, jangan keluyuran, maaf bepergian, jika tidak sangat perlu; menutup hidung dan mulut, senantiasa menjaga kebersihan serta hidup sederhana.

Bagi yang senang mendalami bahasa “isyarat langit’, yang biasa manyelami hakikat ayat-ayat Tuhan, baik yang tertulis di kitab suci maupun yang tersirat di alam semesta, semua itu mengandung hikmat nan luar biasa. Yang mendudukkan kembali hubungan manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Penciptanya.

Perihal dampak Corona dalam kehidupan kita, sudah sangat banyak berita dan tulisan yang membahas, baik di media massa maupun media sosial, dari yang hoax sampai informasi resmi terinci. Karena itu penulis tak hendak mengulangnya, tetapi mengajak sahabat pembaca untuk bersama-sama membuat analisa dan perkiraan keadaan, sebagai bekal mempersiapkan diri menghadapi persoalan sampai dengan yang terburuk sekalipun. Syukur tidak terjadi. Untuk itu kami sajikan tiga indikator analisa, dengan sedikit catatan, terutama pada hal-hal yang tidak dikupas oleh media. 

Indikator Keadaan

Corona terbukti telah mengguncang berbagai sektor kehidupan, sehingga keadaan semakin berat dan ruwet berkelindan. Maka berlangsunglah apa yang dikenal sebagai VUCA yaitu Volatile, Uncertain, Complex dan  Ambigu.  Labil – mudah berubah, tidak menentu, kompleks – ruwet  dan tidak jelas. Istilah ini populer pada  1990an, menggambarkan lingkungan kehidupan yang labil, bergejolak, kompleks dan penuh ketidakpastian, sehingga jika salah menganalisa dan mengantipasi, bisa berakibat fatal.

Beberapa indikator penting adalah: Pertama, sumber-sumber keuangan dan perekonomian yang semakin mengering. Aktivitas bisnis terutama sektor riil, pariwisata dan transportasi turun drastis bahkan banyak yang berhenti total, kecuali sektor pertanian terutama pangan, serta bisnis internet dan komunikasi. Memasuki bulan keenam, September nanti, jika perekonomian dunia dan Indonesia belum bisa benar-benar mulai bergerak, kita tidak tahu apakah perusahaan-perusahaan besar yang selama ini masih mempertahankan sebagian besar karyawannya mampu bertahan ataukah memilih melakukan PHK.

Bila itu yang terjadi, maka pengangguran akan membesar,  daya beli masyarakat menurun terutama pada kelas menengah yang menipis tabungannya serta kelas di bawahnya dan yang kehilangan pekerjaan.

Dari berbagai sektor ekonomi lainnya hanya sektor konsumsi yang masih bergerak, tapi itupun makin mengecil  dan menurut Biro Pusat Statistik 5 Agustus 2020, sektor akomodasi dan makanan-minuman sudah turun menjadi -22,31.  

Sektor konsumsi memang sangat tergantung pada stimulus antara lain dari seberapa besar dan nyata pengeluaran Pemerintah untuk itu. Benarkah seperti diucapkan Presiden Jokowi yang memarahi para menteri lantaran sangat lambat menyalurkan stimulus anggaran belanja Pemerintah melalui berbagai kegiatannya, ataukah sesungguhnya uangnya tidak tersedia? Jika uang ada tapi tidak mampu menyalurkan secara baik dan tepat sasaran, maka dalam situasi krisis yang menuntut pemberlakuan manajemen krisis seperti saat ini, terhadap yang seperti itu sudah seharusnya diganti.

Sudah bukan rahasia lagi, Pemerintah terpaksa memainkan skema Ponzi, yakni gali lubang tutup lubang dengan berhutang, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dengan tentu saja menimpakan beban pembayarannya pada Rezim serta generasi mendatang. Atau mencetak uang dengan segala risikonya?

Memang bisa saja kita berkilah, di dunia ini mana ada negara yang tidak punya hutang? Setiap negara memiliki sikon dan potensi yang berbeda, dengan risiko yang berbeda pula. Ini yang sering dilupakan dan enggan dipahami oleh penggemar Ponzi Game. Sementara itu negara adalah kumpulan dari individu manusia, maka jawabannya adalah mari kita secara jujur berkaca pada diri sendiri saja. Karena setiap individu memiliki potensi, aset dan kemampuan yang berbeda.

Kedua, sementara itu wabah Corona bukannya surut tapi bahkan melejit. Data per 14 Agustus 2020, masyarakat yang terkonfirmasi terpapar sudah mencapai 135.123 orang, bertambah 2.307 dari 132.816 per 13 Agustus 2020. Sedangkan pertambahan hari sebelumnya 2.098. Data tersebut menggambarkan perkembangan wabah Corona di Indonesia yang semakin meningkat tajam, mengalahkan negara-negara tetangga bahkan mengalahkan Cina yang pertama kali terserang.

Mengapa bisa terjadi. Dari pengalaman dan pengamatan penulis sehari-hari, nampak masyarakat tidak cukup memahami apalagi mematuhi himbauan #taatiprotokol kesehatan. Sementara itu jangkauan pengaruh Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah masih kurang menyentuh sampai di pemukiman.

Tak mengherankan apabila banyak masyarakat yang acuh sebagaimana bisa kita lihat pula dari siaran televisi dan pemberitaan media massa. Mati hidup kita memang di tangan Tuhan. Tapi Tuhan memerintahkan kita untuk ikhtiar. Dan dalam rangka ikhitiar, Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan agar mengikuti ahlinya. Dalam hal menghadapi wabah Corona sekarang ini, siapakah ahlinya? Merekalah, para dokter, pakar kesehatan, pakar virus dan sejawatnya. Optimis dan semangat harus. Namun, jangan takabur, jangan sok-sokan dan masa bodoh. Jangan sampai setelah kita atau keluarga kita terjangkiti baru sadar. Jangan sampai sesal kemudian tiada guna.

Memang banyak hal yang menyebabkan ketidakpedulian masyarakat. Ada yang lantaran terpaksa harus mencari nafkah. Ada yang anak-anaknya tak tahan berada terus menerus di rumah kontrakan yang hanya sekamar untuk beramai-ramai, dan seperti di lingkungan kami, banyak pula yang belum memahami bahaya Corona.

Sungguh rezeki, jodoh dan usia adalah takdir Tuhan. Namun bukan hanya itu. Segala sesuatu ada takdirnya. “Allah yang menciptakan segala sesuatu, lalu mengaturnya menurut ukuran tertentu”  (Al-Furqan:2).

Sementara itu Surah Yunus Ayat 49 menegaskan, “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).”

Perihal perintah untuk ikhtiar ada ayat yang sangat dikenal yakni Ar Ra’du : 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”.

Ada cukup ayat dan hadis sebagai bahan pelengkap buat menggalang pemahaman serta kesadaran masyarakat yang mayoritas muslim ini,  bukan hanya sekedar spanduk “Kampung Siaga Covid” dengan gambar orang bermasker dan cuci tangan. Atau video penerangan selebritis cantik nan kaya pulang ke rumah dengan menaruh sepatu di luar rumah dan cuci tangan. Tetapi semua itu membutuhkan kerja keras terpadu, tepat dan berdayaguna dari Pemerintah Pusat sampai Kelurahan.

Semua usaha dan dana sebenarya telah coba diarahkan untuk mengatasi Corona, sampai mengabaikan penyakit lainnya yang juga tidak kalah membahayakan seperti  tbc, malaria, hiv ,gizi buruk dan vaksinasi buat anak balita. Kondisi  seperti ini jika ditambah serta berkelindan dengan ekonomi yang mandeg atau pun resesi, pengangguran, tiada penghasilan dan selanjutnya

tak bisa menyekolahkan anak, maka lengkaplah  senjata pemusnah dalam Perang Abad 21, buat menghancurkan satu generasi anak bangsa. Naudzubillah.

Ketiga, perekonomian takkan mungkin bangkit apabila wabah Corona belum bisa dikendalikan dan diatasi. Dalam sikon nasional yang seperti itu, kita sebenarnya sudah memiliki musuh bersama yang seharusnya bisa membuat kita bersatu, fokus memusatkan perhatian, segala daya dan dana pada satu titik ancaman secara istiqomah. Namun apalagi masyarakat, Pemerintah dan para elit politik dengan vulgar mempertontonkan ketidakmampuannya memusatkan perhatian, terbukti dengan getol terus memaksakan berbagai agendanya sendiri, seperti Pilkada serta pembahasan sejumlah Undang-Undang yang kontroversial.

Sementara itu tindakan dan pernyataan yang aneh-aneh keluar berseliweran, dari masing-masing pejabat. Padahal dalam situasi krisis seperti sekarang, seharusnya berlaku manajemen krisis dari suatu Pusat Komando Krisis, yang menampilkan sebuah Tim yang solid, kuat, berwibawa dan berdayaguna. Tim yang satu visi, satu kata, satu perbuatan,satunya kata dengan perbuatan dan satu saluran informasi keluar. Hal seperti ini apabila tidak bisa segera diatasi, akan mudah memantik kobaran sosial politik dalam ladang rumput ilalang yang semakin mengering.

Dari gambaran garis besar indikator keadaan tersebut, hal apa saja yang perlu kita cermati? Lapisan masyarakat manakah yang akan paling terpukul oleh keadaan dan potensial bergerak?  Rakyat bawah? Dalam sejarah tak pernah rakyat bawah memulai apalagi memimpin gerakan perlawanan, meski mereka terpaksa harus makan bonggol pisang dan hanya memakai celana dari karung goni seperti di zaman Jepang.  Rakyat bawah, yakni lapisan masyarakat miskin dan rentan baru akan bergerak dalam bentuk amuk massa, apabila peluang amuknya sudah terbuka.

Perang Diponegoro, Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda, juga Laskar-Laskar Rakyat yang berperang di masa Perang Kemerdekaan, semuanya digerakkan dan dipimpin kalangan menengah atas.

Sekarang ini apalagi jika kecenderungan sikon di atas terus berlangsung, maka yang paling menderita adalah kelas menengah yang terbiasa hidup enak serta mampu mendayagunakan sarana dan wahana gerakan. Di Indonesia, jumlah mereka menurut Bank Dunia akhir Januari 2020, diperkirakan sekitar 53.920.000 . Bila ditambah kelas menuju menengah sebanyak 119.972.000 maka menjadi 173.892.000. Suatu potensi jumlah yang luar biasa.

Meskipun demikian, tiada pesta dan gelap malam yang tak berakhir.  Mendung takkan selamanya. Cuma bedanya, pesta biasa dan gelap malam bisa lebih dipastikan kapan berakhirnya, sedangkan pahitnya keadaan, walau berbagai indikator telah cukup jelas, masih agak sulit dipastikan  hari, bulan dan tahunnya. Namun dengan bacaan atas indikator-indikator yang cermat dan tepat dapat dibuat perkiraan keadaan  yang mendekati .

Bagi Indonesia, berbagai indikator sosial  budaya dan politik lebih mudah dibaca.  Secara umum perekonomian pun demikian; yang  perlu dicermati akankah Pemerintah dengan mudah selalu bisa dengan tepat waktu memperoleh pinjaman uang untuk menyuntik dana segar ke masyarakat, untuk meningkatkan daya beli masyarakat luas, untuk meningkatkan konsumsi masyarakat, untuk menggerakkan perekonomian nasional.  Bacaan yang tepat  akan sangat bermanfaat. Semoga.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda