Tafsir

Tafsir Tematik: Ayat untuk Pemerintah (2)

Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menunaikan segala amanat kepada yang berhak, dan bila kamu memberi hukum di antara khalayak agar memberi hukum secara adil. Sungguh Allah mewejang kamu dengan yang paling baik; yang demikian itu lebih utama dan lebih bagus dampaknya. Allah maha mendengar maha melihat.

Wahai orang orang beriman,patuhilah Allah dan patuhilah Rasul serta para pemegang perkara di antaramu.(Q. 4: 59-60).

Kisah Kunci Ka’bah

Dalam penuturan Ibn Juraij, Nabi s.a.w. masuk ke Ka’bah setelah mendapat kunci dari pemegangnya, Utsman ibn Thalhah. Ketika keluar, beliau membaca Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu… (lihat Ayat untuk Pemerintah, bagian 1). Lalu memanggil Utsman tadi dan menyerahkan kunci-kuncinya. Kata Umar ibn Al-Khattab r.a., waktu melihat Nabi membaca ayat: “Kutebus beliau dengan bapak dan ibuku; belum pernah aku mendengar beliau membacanya sebelum ini.” (Thabari, Jami’ul Bayan, IV, 145)

Dalam riwayat lain, Utsman, juri kunci yang musyrik itu, menghalangi Nabi masuk dengan cara menggembok pintunya lalu naik ke sotoh, atap Ka’bah. Katanya, “Kalau aku tahu dia rasul Allah, tak kularang dia!”  Ali ibn Abi Thalib mengejarnya, memilin tangannya, merebut kunci, lalu membuka Ka’bah. Maka Rasulullah masuk, dan salat dua rakaat (juga memecahkan semua berhala di situ dan mengeluarkan Maqam Ibrahim — Qurthubi, Al-Jami’il lil Ahkamil Quran, V, 256). Ketika Nabi keluar, Al-Abbas, paman beliau, meminta agar kunci diserahkan kepadanya, dan digabungkan saja pada dia hak pemberian minum jemaah haji (siqayah) dan hak penjagaan Ka’bah (sadanah). Maka turunlah ayat itu. Serta merta Rasulullah memerintahkan mengembalikan kunci-kunci itu kepada Utsman ibn Thalhah dan meminta maaf. Di situ Utsman berkata kepada Ali, “Tadi kamu memaksa dan menyakiti. Kok sekarang jadi halus?”

“Allah menurunkan Quran (ayat) mengenai soal kamu ini,” jawab Ali. Lalu dia membaca: “Sesungguhnya Allah…”. Mendengar itu, tiba-tiba si juru kunci mengucapkan syahadat. Dan turunlah Jibril, memberi tahu bahwa hak penjagaan Ka;bah berada di tangan anak turun Utsman ibn Thalhah selama-lamanya. (Abul Qasim az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, I, 535).

Tetapi dalam riwayat itu “terdapat pertimbangan,” kata Al-Khazin. Yang benar, katanya, ialah yang diriwayatkan Abu Amr ibn Abidil Barr, Ibn Mandah dan Ibnil Atsir. Yakni bahwa Utsman ibn Thalhah sebetulnya sudah berhijrah ke Madinah dalam Gencatan Senjata Hudaibiyah bersama Khalid Ibn Walid (tokoh yang sebagai panglima kafir tempo hari, berperanan dalam meremukkan pasukan Islam pada Perang Uhud). Di jalan, mereka bertemu dengan Amr ibnul Ash yang pulang dari hijrah ke Habasyi (Ethiopia), yang lalu menemani mereka.

Di Madinah, Nabi menyambut saudara-saudara baru — yang termasuk “wajah-wajah” penduduk Mekah– ini. Mereka mengikrarkan Islam. Dan di situ Utsman ibn Thalhah sudah menyerahkan kunci itu kepada Nabi s.a.w., tapi ditolak. Kata beliau, “Kalian ambil, wahai Bani Thalhah. Kekal selama-lamanya; tidak ada yang merenggutnya dari kalian kecuali orang zalim.” Dalam penuturan ini tidak disinggung, permintaan kunci oleh Abbas kepada Nabi.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, juga, dari hadis Ibn Umar r.a., disebutkan Nabi s.a.w. datang, di Hari Pembebasan, dikusiri Usamah, menunggang Al-Qashwaa’ (onta Nabi). Bersama beliau adalah Bilal r.a. (mantan budak hitam yang dulu disiksa karena keislamannya, dan yang sebentar lagi akan naik ke sotoh Ka’bah untuk melakukan azan pertama sesudah kemenangan) dan Utsman (Ibn Thalhah). Onta membungkuk di depan Bait. Lalu Rasulullah berkata kepada Utsman, “Ambilkan kami kuncinya.” Utsman datang dengan kunci, dan Rasulullah membuka pintu — lalu penuturan dilanjutkan.

Adapun soal Abbas itu disebut Ibnul Jauzi, dari riwayat Abu Shalih yang bersumber pada Ibn Abbas (putra sang tokoh sendiri), yang menyatakan: ketika Utsman akan memberikan kunci itu, atas permintaan Nabi, Abbas berkata kepada beliau, “Dengan ganti ayah dan ibuku, engkau, silakan menggabungkannya (penguasaan kunci itu) dengan siqayah (pemberian minum; lihat di atas).” Utsman menahan tangannya, khawatir Nabi akan memberikannya kepada Abbas.

“Sini, kuncinya.” kata Nabi. Tapi Abbas mengulang permintaannya, dan Utsman tetap menahan tangannya. Sampai Nabi berkata, “Sini kuncinya, kalau engkau memang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Di situ Utsman menyerahkannya: “Silakan, ya Rasulullah, dengan amanat Allah.”

Dalam riwayat itu juga terdapat petunjuk tentang islamnya Utsman ibn Thalhah sebelum pembebasan Mekah. Kunci Ka’bah itu dahulu diberikan Utsman kepada saudaranya, Syaibah, kemudian keturunan mereka — “sampai hari kiamat”. Jadi, sampai sekarang juga (lihat Al-Khazin, Lubabut Ta’wil, I, 370).

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Panji Masyarakat, 18 Maret 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda