Tafsir

Tafsir Tematik: Ayat untuk Pemerintah (1)

Written by Panji Masyarakat

Yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat dengan Dia di Hari Kiamat adalah kepala negara yang adil. Yang paling dibenci Allah di antara manusia, dan yang paling jauh dari Dia, adalah kepala negara yang menyimpang.

Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menunaikan segala amanat kepada yang berhak, dan bila kamu memberi hukum di antara khalayak agar memberi hukum secara adil. Sungguh Allah mewejang kamu dengan yang paling baik; yang demikian itu lebih utama dan lebih bagus dampaknya. Allah maha mendengar maha melihat.

Wahai orang orang beriman,patuhilah Allah dan patuhilah Rasul serta para pemegang perkara di antaramu.(Q. 4: 59-60).

Sudah sejak masa paling awal, para ulama umumnya memahami ayat pertama di atas sebagai ditujukan kepada pemerintah.Ibn Jarir ath-Thabari (wafat 310 H.) membawakan mata rantai yang berpangkal pada sahabat Nabi s.a.w., Zaid ibn Aslam r.a.,yang berkata, ”Ayat ini turun mengenai para penguasa urusan umum (ulul amr).” Juga Ibn Zaid. Katanya, “Mereka itu para penguasa. Allah memerintahkan mereka menunaikan amanat kepada yang berhak.” Malahan Syahr mengkhususkan ayat ini hanya untuk mereka.

Ali ibn Abi Thalib r.a., dalam pada itu, menerangkan kedua ayat di atas dengan pendekatan sebab akibat: “… Bila ia (imam, kepala negara) berbuat begitu (melaksanakan amanat dan adil ), menjadi wajib bagi orang-orang  untuk mendengar, patuh, dan menyambut bila dipanggil.” Ini sejalan dengan cara Mak-hul yang memberikan penjelasan dari titik berangkat sebaliknya. Katanya, pemegang perkara di antaramu (ayat kedua) itu  “orang-orang yang di maksudkan ayat sebelumnya (Allah memerintahkan kamu agar menunaikan amanat…).” Adapun Ibn Abbas r.a. menyebut pemerintah atau imam itu sebagai sulthan. Juga seperti yang dituturkan Ibn Zaid r.a. tentang pendapat ayahnya: “Mereka itu para sultan.” (Thabari, Jami’ul Bayan Ta’wili Ayail Quran, IV:145).

Ada catatan mengenai sebab turun (sababun nuzul) ayat ini. Seperti diberitakan Ibn Juraij r.a., ayat pertama di atas turun berkenaan dengan Utsman ibn Thalhah ibn Abi Thalhah. Di hari pembebasan Mekah, Nabi s.a.w., mengambil kunci-kunci Ka’bah dari dia untuk masuk ke bait itu. Abbas ibn Abdil Muththalib r.a., paman Nabi, berupaya mengalihkan hak penguasaan kunci itu dari Utsman kepada dirinya.

Riwayat itu mengandung kontroversi, meskipun tidak mengenai upaya Abbas tersebut (lihat tulisan bagian 2). Dan berdasarkan yang disebut terakhir itu, Al-khazin memahami penunjukan ayat Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu… itu pertama kali kepada Nabi s.a.w. sendiri, yang di situ diperintahkan tetap mengembalikan kunci Ka’bah itu kepada Utsman ibn Thalhah. Tetapi, katanya, ayat itu juga bisa ditujukan  kepada para penguasa, hakim-hakim, dan lain-lainnya, seperti ditunjukkan konteksnya jika digabung dengan Dan bila kamu memberi hukum di antara khalayak…Yang dimaksudkan Allah di situ: “Dia memerintahkan kamu, wahai para penguasa perkara, untuk menunaikan yang diamanatkan  kepada kamu mengenai hal-ihwal rakyatmu, untuk memberikan kepada mereka hak-hak mereka,dan untuk berbuat adil di antara mereka.” (Alauddin Al-Khazin, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, 370-371).

Pada Thabari, penguat pemahaman seperti itu adalah kalimat dalam ayat kedua: patuhilah Allah dan patuhilah Rasul serta para pemegang urusan di antara mu. Jadi Allah memerintahkan para penguasa melaksanakan butir-butir ajaran tersebut, “kemudian menghadapi kita, lalu berfirman, Wahai orang-orang beriman, patuhilah…” dan seterusnya. Ini sejalan dengan yang diterangkan Saidina Ali. Dalam hal itu Ibn Abbas berkata, “Tidak ada keringanan (atau hak istimewa; pen). bagi orang yang dalam kesukaran maupun yang dalam kemudahan untuk menahan amanat.” Seperti juga, dalam kusus individual, ada sabda Rasul s.a.w. yang disampaikan Al-Hasan ibn Ali r.a.: ”Tunaikan amanat untuk orang yang memberikannya kepadamu, dan jangan berkhianat kepada orang yang mengkhianati kamu.” (Thabari, op.cit., 146; juga diriwayatkan Abu Dawud dan Turmudzi, dengan klasifikasi hadis hasan gharib).

Amanat sendiri luas pengertiaannya. Dalam pemikiran Khazin, selain amanat Allah berkenaan dengan ibadah formal maupun pengendalian diri, adalah amanat dalam hubungan dengan sesama hamba. Misalnya: wajib atas orang muslim menyampaikan titipan, mengembalikan pinjaman, atau menghindari kecurangan dalam takaran maupun timbangan. Masuk juga ke dalamnya soal keadilan para amir dan raja-raja kepada rakyat mereka. Dan, jangan lupa, soal ketulusan nasihat ulama kepada publik. (Khazin, op, cit.., 371).

Mengenai Sungguh Allah mewejang kamu dengan yang paling baik, inilah tafsiran Thabari: “Sebagus-bagus wejangan yang diberikan-Nya kepada kamu ….. ialah agar kamu menunaikan amanat kepada yang berhak dan agar kamu memberi hukum di antara khalayak dengan adil.” Sebab Allah selalu saja maha mendengar yang kamu ucapkan  — waktu kamu menjatuhkan putusan di antara khalayak — dan maha melihat dalam hal yang diamanatkan kepada kamu mengenai hak-hak rakyatmu dan harta benda mereka. Apa yang kalian tetapkan di antara mereka, dengan adil atau dengan menyimpang, tidak tersembunyi dari Dia sedikit juga.” (Thabari, op, cit., 146).

Sebab, khusus di bidang peradilan, tujuan hakim yang benar, dikalimatkan Al-Khazin, ialah  “menyampaikan hak kepada yang berhak, tanpa dicampuri maksud lain.” (Khazin, loc, cit.). Kemudian ia mencantumkan sabda Nabi s.a.w. riwayat Turmudzi, dari sumber Abu Sa’id r.a. : “Yang paling dicintai Allah di antara manusia, yang paling dekat majlisnya dengan Dia, adalah kepala negara yang adil. Yang paling dibenci Allah di antara manusia, dan yang paling jauh majlisnya dari Dia, adalah kepala negara yang menyeleweng.” Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 18 Maret 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda