Cakrawala

Natsir, Tokoh Teladan dan Pemandu Umat

Written by Arfendi Arif

Muhammad Natsir (17 Juli 1908-6 Februari 1993) dikenal sebagai figur teladan. Kehidupan mendiang baik secara  pribadi maupun  ketika diberi amanah jabatan selalu berpegang dengan kuat pada moral atau akhlak. Karena itu ia tidak pernah tergoda dengan iming-iming harta, tahta dan juga kekuasaan.


Tidak mudah memang melakoni kehidupan seperti tokoh Masyumi ini, kalaulah tidak timbul dari lubuk hati dan jiwa yang bersih. Sebuah peristiwa yang langka terjadi ketika Natsir muda lulus dari AMS Bandung (setingkat SMA) dan mendapat bea siswa untuk belajar ke negeri Belanda tahun l929 menempuh pendidikan hukum atau di bidang ekonomi, namun ditolaknya. Padahal, sejak awal.ia bercita-cita menjadi meester in de rechten atau sarjana hukum yang menjadi pilihan favourit di masanya.

Ketika belajar di Bandung Natsir berubah pikiran. Ia melihat sekolah yang sesungguhnya adalah di masyarakat, terjun langsung berbaur dan ikut melibatkan diri dalam masyarakat. Natsir  mendirikan sekolah dan menjadi guru untuk mereka, termasuk memberikan pendidikan agama Islam yang masih kurang di sekolah yang ada.

Bisa kita bayangkan, kalaulah bukan dari karakter dan jiwa yang memiliki kemuliaan yang tinggi, tidak mungkin orang seperti Natsir begitu gegabah menolak peluang yang sangat bagus untuk.mengembangkan karir yang cemerlang tersebut, tapi Natsir dengan visi semangat pengorbanannya untuk kemanusiaan, tanah air dan agama Islam mendahulukan kepentingan buat orang banyak ketimbang kepentingan buat dirinya sendiri.

Kemuliaan dan kemenonjolan Natsir dengan akhlakul.karimah dan mahmudah (terpuji) ini dipegang dengan konsisten, bukan saja ketika masih menjadi orang bebas dalam masyarakat, namun secara konsisten juga ditunjukkan ketika telah menjadi orang penting dan menjabat di pemerintahan.

Saat menjadi perdana menteri ketika akan dilantik, baju yang layak dipakai saja untuk pelantikan ia tidak punya. Bahkan, ketika menjabat perdana menteri ia selalu kekurangan uang, dan mengandalkan gaji di luar jabatan menteri untuk keperluannya. Kalaulah Natsir bukan seorang yang jujur dan sederhana, tentulah ia akan mensiasati untuk nendapatkan sejumlah uang dengan jabatannya yang strategis tersebut.

Natsir wafat dalam usia 85 tahun. Sepanjang hidupnya, ia tidak mengenal pensiun. Ia mengabdikan hidupnya sepanjang hayat dilaluinya. Tiap masa dari gelombang sosial dan politik yang terjadi di negaranya ia ikut berkiprah dan  berpartisipasi, baik pemikiran maupun amal.nyata. Bahkan, bukan saja di dalam negeri ia berperan nyata,tapi juga tingkat dunia sebagai anggota Rabitah ‘Alam Islami atau Liga Muslim Dunia.

Di dalam negeri ia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Sebuah lembaga yang berkiprah di bidang dakwah, mengirim dai-dai ke daerah, mengirim pelajar ke luar negeri, menjadi penceramah Jumat, penerbitan dan lainnya.
       Sedangkan secara pribadi Natsir tidak ikut berpolitik, dalam arti anggota partai, namun ia ikut mengawasi perjalanan pemerintahan dan memberikan kritik dan saran sarannya, walaupun itu ia terkadang harus menerima resiko di cekal atau tidak boleh bepergian ke luar negeri.

Namun, Natsir dengan jiwa lapangnya bukanlah seorang pendendam. Demi bangsa dan negaranya ia selalu berusaha membantu untuk hal yang bisa dilakukannya. Itulah, antara lain, ketika berada dalam.jeruji besi di awal Orde Baru  ia membantu pemerintah dalam.menormalisir hubungan baik dengan Malaysia, yang sempat berkorfrontasi dengan Indonesia.  Berkat katabelece surat yang dibuatnya utusan Indonesia bisa diterima PM Malaysia Tun Abdulrahman, Perdana Menteri dan Bapak.Malaysia, yang awalnya enggan menerima.

Figur Teladan
Bahwa Natsir seorang figur negarawan, politisi yang santun, muslim yang shaleh, taat, dan seorang intelektual yang berintegritas, tidak ada yang membantah, baik pengamat dalam negeri maupun asing mengakui reputasinya tersebut.

Menjadi pertanyaan apakah yang mempengaruhi Natsir menjadi figur teladan, dan   yang digelari Sang Pemandu Umat itu.

Bila ditilik perjalanan hidupnya ia memang hidup di lingkungan yang tersosialisasi dengan nilai-nilai ke-islaman. Masa anak-anak, belia dan remaja dilalui dalam miliu atau lingkungan Islam. Ia pelajari Islam dengan sungguh-sungguh baik secara formal maupun informal. Dan, ketika memasuki usia remaja–dimana pada masa penjajahan itu–anak-anak.muda bangsa cepat dewasa dan cepat matang pemikirannya. Meminjam istilah Alfian, pakar politik, terjadi proses perantauan mental, yaitu punya cita-cita tinggi dan membayangkan untuk berperan besar bagi banga yang sedang terjajah. Demikian juga Natsir yang besar di Bandung, tertarik dan bergaul dengan tokoh-tokoh Islam dan nasionalis dalam.proses pematangan jiwa ,mental dan pemikirannya. Namun, pemikiran ke-Islaman besar pengaruhnya terhadap Natsir, antara lain dari A.Hasan,pendiri Persis di Bandung, Syekh Achmad Syoerkati, Pendiri Al-Irsyad, dan H. Agus Salim.

Bagi Natsir, Islam adalah ajaran yang sempurna dan lengkap. Bukan hanya terkait dengan ibadah, tapi juga mencakup kebudayaan, kemasyarakatan dan peradaban. Islam sebuah sistem yang lengkap.
         Namun, bagi Natsir, inti dari ajaran Islam adalah Tauhid. “Tauhid yaitu memperhambakan  diri kepada Allah, menjadi hamba Allah. Itulah tujuan hidup kita di dunia ini”,kata Natsir.
         Memperhambakan diri kepada Allah, lanjut Natsir, bukan untuk kepentingan yang disembah (Allah), tetapi untuk kepentingan yang menyembah. Dan menjadi hamba Allah itu berarti, akan menuruti perintah Allah dan  berbuat baik kepada sesama makhluk ( Mochtar Naim, Media Dakwah,Jakarta,1995, hal.80). Selanjutnya,menjadi hamba Allah itu, kata Allah yarham M. Natsir, mengajak kebaikan, menjauhi dan melarang kejahatan, dimulai dari sendiri lalu keluarga dan masyarakat melalui dakwah dan pendidikan (Dr. AM.Saefuddin, Gema Insani Pers, Jakarta,1996, hal. 184).

Karena itu bagi Natsir, akhlak adalah yang paling penting dijaga dalam.kehidupan ini. Karena akhlak itu, yang menentukan adanya sebuah bangsa dan masyarakat. Tanpa akhlak tidak ada bangsa dan masyarakat. Dengan akhlak pula manusia membedakan yang halal dan yang haram, yang baik dan yang buruk, dan yang haknya dan bukan haknya (Lihat M. Natsir, Makrullah, Majalah Risalah, No.3 tahun l988).

Demikian juga bagi Natsir, Islam itu membawa kebahagiaan, ibadah baik itu yang sifatnya personal (syaksiyah)seperti shalat maupun sosial (ijtimaiyah) seperti shadaqah akan membawa kebahagiaan buat hati manusia.

Ajaran Islam itulah yang kuat meresap dalam jiwa dan pikiran Muhammad Natsir. Menjadi pedoman dan kiblat kehidupannya. Dan, ini hanya sekelumit kecil saja dari kehidupan tokoh  besar Muslim yang telah diangkat menjadi pahlawan nasional ini. Allahu ‘alam bissawab

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda