Tasawuf

Kemerdekaan Paku Syaikh Juha

Karena sangat membutuhkan uang untuk melunasi tumpukan hutangnya, dengan berat hati Syaikh Juha akhirnya sampai pada keputusan: menjual satu-satunya rumah miliknya. Tentu saja, ini bukan keputusan sukarela. Faktanya, rumah tersebut masih sangat dibutuhkannya.

Tapi bukan Syaikh Juha namanya kalau tidak bisa mencari cara untuk mengatasi dilema ini. Maka begitulah, pada setiap peminat dia mengajukan syarat: kapanpun, dia harus diijinkan menengok paku kesayangannya, yang konon tertancap di salah satu tiang utama rumah. Tentu ini bukan jenis syarat yang berat-berat amat.

Buktinya banyak orang tetap tertarik mengajukan penawaran, paling tidak karena melihat lokasi rumah Syaikh yang strategis. Dan begitulah, setelah menimbang semua penawaran yang masuk, akhirnya Syaikh Juha melepas rumahnya pada pasangan muda yang berani membayar mahal.

Tapi ini bukan akhir cerita hubungan Syaikh Juha dengan rumah kesayangannya. Seminggu setelah jual beli selesai, sang Syaikh mulai kembali tampak di rumah tersebut. Dia langsung memeluk dan menciumi paku kesayangannya, seolah berjumpa sahabat yang berpuluh tahun berpisah. Air matanya berlinangan seolah melampiaskan rindu yang lama dipendam.

Dan, karena sang Syaikh datang dekat-dekat waktu makan siang, dengan suka cita pasangan muda tersebut mengajaknya makan siang bersama. Sejenak mereka berbincang dan setelah itu, dengan kembali berlinang air mata sang Syaikh pamit pada paku kesayangannya.

Tapi, sekali lagi, ini belum akhir cerita, sejak itu sang Syaikh mulai sering tampak di rumah tersebut. Anehnya, kemunculannya selalu mendekati waktu makan. Entah pagi, siang maupun malam.

Dan, kalau awalnya ia muncul dua atau tiga hari sekali, sekarang ia muncul setiap hari. Dan kalau awalnya dia muncul sehari sekali, kini dia nongol tiga kali sehari. Melihat gelagat semacam ini, sudah pasti sang pasangan muda mulai merasa agak terganggu. Bukan saja karena harus menambah jatah belanja untuk makan Syaikh Juha, tapi juga karena mulai agak terganggu privasinya.

Tapi, lagi-lagi ini bukan akhir cerita. Suatu saat, sang Syaikh bukan cuma nongol di waktu makan, tapi malah ngendon di sisi paku kesayangannya. Pasangan muda tersebut tentu saja terheran-heran. Ketika mereka memberanikan diri untuk bertanya, jawaban Syaikh sungguh mengejutkan, “Kasihan paku saya, dia sedang demam, tak tega saya meninggalkannya!”

Sejak itu Syaikh Juha tak pernah beringsut lagi. Dia selalu ada di sisi paku kesayangannya. Sehari-dua hari, seminggu-dua minggu dan Syaikh tak menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Tentu saja, pasangan muda tersebut semakin risih, mereka mulai merasa kehilangan seluruh hak privasi di rumahnya sendiri.

Melihat gelagat ini, mereka terpaksa memberanikan diri untuk mengajukan protes. Tapi, jawaban Syaikh justru membuat mereka semakin tak berkutik. “Ah, bagaimana saya tega meninggalkan paku mungil ini? Tidakkah kalian sudah melihat bagaimana dia terserang demam karena sering saya tinggalkan? Bukankah ini tanda cintanya yang sangat dalam pada saya? Apakah pantas saya meninggalkan begitu saja sesuatu yang dengan sungguh-sungguh sudah membuktikan cintanya pada saya? Tolonglah! Berilah saya waktu untuk menemaninya! Ajal tak pernah terduga datangnya, jadi jangan sampai sisa hidup saya dipenuhi penyesalan karena lalai merawat dan menemaninya ketika hidup!”

Sekali lagi, ini masih bukan akhir cerita. Pasangan muda tersebut masih mencoba menahan diri. Sebulan-dua bulan pertama mereka masih kuat. Tapi ketika makin jelas bahwa Syaikh Juha tak punya minat meninggalkan paku kesayangannya, yang entah kapan matinya; mereka akhirnya tak tahan lagi. Rumah harus segera dijual, begitu keputusan mereka.

Celakanya, tak seorangpun yang mau mengajukan penawaran. Tingkah Syaikh Juha dan pakunya sudah tersebar kemana-mana, membuat orang takut membelinya. Melihat kenyataan tak ada yang mau membeli, pasangan muda tersebut akhirnya terpaksa menawarkannya kembali pada Syaikh Juha.

“Ah anak muda, kalian tahu, rumah ini dulu saya jual karena saya harus membayar hutang. Nah, sebagian besar uang yang kalian bayarkan sudah habis untuk itu. Kecuali kalian mau menerima sedikit sisanya, tentu saja saya tak mampu membeli kembali rumah ini!” begitu jawab Syaikh Juha.

Dan begitulah, cerita berakhir di sini. Syaikh Juha kembali memiliki rumah tersebut, sementara pasangan muda tersebut terpaksa terusir dengan uang pembayaran rumah sekedarnya saja.

***

Kemerdekaan adalah jembatan emas, kata Bung Karno. Jembatan emas yang mestinya bukan untuk dielus-elus atau dipuja-puja bak berhala. Jembatan -entah emas, perak, perunggu, kayu atau malah sekedar bambu sekalipun- pastilah dimaksudkan untuk mengantarkan orang dari satu sisi ke sisi lainnya. Sangatlah jelas bahwa jembatan adalah perantara, wasilah; bukan tujuan atau ghoyah.

Jelas juga, jembatan ini bukan sesuatu yang murah harganya. Berapa banyak yang harus mati, cacat atau tersiksa untuk menebusnya. Masalahnya: masihkah jembatan ini berfungsi sebagaimana dulu dimaksudkan oleh para pembangunnya? Mari kita pakai parameter sederhana saja: apakah setelah 75 tahun jembatan dibentangkan, kehidupan bangsa menjadi lebih mulia dan lebih bermartabat baik secara politik, ekonomi mau pun budaya?

Bagaimana kalau yang terjadi malah seperti kisah Syaikh Juha di atas? Masihkah kita bisa merasa memiliki jembatan tersebut bila seseorang atau sekelompok orang terus-menerus ngendon dan membajak rumah kita? Masihkah kita bisa menapaki jembatan tersebut kalau langkah-langkah kita selalu diawasi dan didikte orang demi kepentingan mereka sendiri?

Tampaknya ada tugas besar yang saat ini harus mulai dipikirkan. Yang pertama: secara internal, bagaimana kita melepaskan diri dari cengkeraman oligarki yang, jujur saja, tampaknya telah membajak jembatan yang dibangun para bapak bangsa demi kepentingan bangsa keseluruhannya, menjadi demi kepentingan mereka sendiri. Yang kedua: secara eskternal, bagaimana kita menerjemahkan dan mengartikulasikan makna kemerdekaan dalam konteks geo-politik global yang saat ini sedang coba ditulis ulang bersamaan dengan munculnya Covid-19; agar kita bisa memperoleh ruang yang lebih lega dan berdaulat dalam berhubungan dengan kepentingan-kepentingan negara lain.

Kalau tak ingin mengulang kisah Syaikh Juha, sebaiknya kita harus mulai mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan. Mungkin sebagian orang akan berpikir, bahwa resikonya akan terlalu mahal. Tapi bukankah para pendahulu kita sudah dengan gagah berani memberi teladan: resiko apapun tidak pernah menyurutkan langkah. Kemerdekaan tidak pernah dijual dengan murah. Dan, sebagai sebuah bangsa besar, kita tak pernah kehilangan nyali untuk menebusnya.

Dan, jangan lupa, kemerdekaan sejati bersemayam di jiwa. Jiwa yang diperbudak oleh materi, kedudukan dan segala remeh temeh dunia lainnya; jangan harap akan mampu memaknainya.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda