Cakrawala

Obituari Fahad bin Munif : Raja Oud dari Bogor

Musik Indonesia bahkan dunia hari ini kehilangan salah satu seniman besarnya, seniman gambus (oud) dari Bogor, Fahad bin Abdullah bin Said bin Munif. Saya telah mendengar namanya cukup lama dan sempat berkomunikasi tentang rencananya untuk menulis lagu dalam bahasa Arab. Dia sangat antusias untuk  mengumpulkan syair-syair Arab untuk bisa digubah menjadi sebuah lagu. Pertemuan terakhir kami dengannya terjadi pada sekitar pertengahan Januari 2020 pada acara bedah buku di Jakarta. Fahad kami undang dan mau hadir dari Bogor meski hujan lebat sekalipun. Dia  memainkan beberapa petikan Oudnya pada pembukaan acara itu, dengan sangat menawan dan menggetarkan hati. Sungguh luar biasa.

Setelah acara tersebut, kami kemudian berencana untuk mengadakan beberapa acara pementasan, termasuk penulisan buku tentang Tokoh Seniman Musik Gambus dan Melayu di Indonesia. Bahkan sempat mewawancarinya untuk mengenal lebih jauh sosok pribadinya. Ternyata Fahad bukan sekedar seniman biasa, melainkan  seniman yang memiliki “idealisme” dan kepedulian terhadap seni music itu sendiri, khususnya music tradisional di kalangan Hadhrami Indonesia. Melangkah di jalur musik berawal, ketika dia bergabung dengan grup Marching Band Al-Irsyad di kota Bogor. Antusias dan semangatnya dalam bermusik mengantarkan dia mengenal beberapa alat musik (piano, saxsophon, suling, biola dan perkusi). Bahkan  dia sempat mendirikan beberapa group band beraliran rock, latin hingga Melayu. Pada suatu kesempatan dalam sebuah pementasan ia melihat seseorang memainkan musik gambus. Dari sana dia mulai tertarik dengan petikan Oud atau gambus, dan berkata pada dirinya “jika saya mampu memainkan berbagai macam alat musik, semestinya saya juga harus mampu memainkan oud”.  Sejak itu, mulailah ia belajar alat musik tersebut.

Oud atau lebih dikenal sebagai gitar gambus, merupakan  alat music  yang dibawa oleh para pendatang Arab Hadhrami ke nusantara.  Sejarah tentang alat music Oud ini sangat panjang, bahkan juga melintasi benua. Dari Oud  itulah kemudian berkembang menjadi Orkes Gambus yang lebih variatif dan kompleks, sebab oud menjadi alat utama  dan keharusan dari setiap pagelaran music gambus. Music ini awalnya  dimainkan di wilayah Timur Tengah dan kemudian menyebar sampai ke Asia Tenggara,  serta Indonesia. Pada pementasan music Gambus, seorang mutrib atau pemain Oud biasanya duduk di tengah sebagai pusatnya, dikelilingi oleh para pemain pengiring lainnya, seperti pemain biola, suling, dumbuk dan beberapa alat lainnya.  

Istilah Mutrib sering diartikan sebagai “penyanyi”. Kata tersebut diambil dari akar kata tha-ra-ba dari bahasa Arab, yang merujuk pada makna “bergetar tubuhnya” atau menggetarkan perasaan suka cita yang dalam menuju pada emosi ektasi. Dengan kata lain, seorang mutrib tidak hanya bernyanyi dengan penuh perasaan, tetapi juga sanggup  memainkan dawai-dawai gambusnya sehingga menimbulkan perasaan suka cita yang sangat emosional bagi para pendengarnya. Pada awalnya permainan Oud ini banyak digunakan untuk mengiringi pembacaan syair-syair puisi berbahasa Arab yang yang dilagukan dan didendangkan dalam sebuah majlas samar (pertemuan) di malam hari.   

Seni bermain Oud sudah terserap menjadi bagian dari budaya lokal tradisional di Indonesia dan banyak dimainkan oleh seniman musik gambus hampir di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan Indonesia keturunan Arab, tetapi semua lapisan dan kelompok masyarakat non-Arab. Dalam perjalanan sejarah seni gambus di Indonesia dikenal  beberapa nama maestro mutrib, seperti almarhum Syekh Albar di era 1930an, ayah dari Ahmad Albar legenda Rock Indonesia, yang merupakan musisi Oud profesional pertama kelas dunia dari Surabaya. Rekaman piringan hitamnya pada saat itu beredar hingga sampai ke Timur Tengah.  Dilanjutkan oleh almarhum Seggaf As-Segaf, yang juga merupakan maestro oud pada era 1980an. Sebenarnya  masih banyak musisi Oud Indonesia yang tidak kalah luar biasanya. Tetapi sangat langka yang mampu mencapai taraf pengakuan internasional. Fahad Munif adalah satu-satunya.  

Pada bulan Januari 2020, Fahad Munif meraih prestasi sebagai 3 Besar King of Oud Dunia, dalam ajang Kompetisi Raja Oud Dunia di Riyadh Kerajaaan Saudi Arabia. Kompetisi ini merupakan kompetisi oud dunia yang diadakan pertama kali dalam sejarah dan diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari seluruh dunia. Acara itu  diadakan dari tanggal 4 – 6 Januari 2020 di Gedung Teater Abu Bakar Salem di Riyadh Boulevard, Saudi Arabia.

Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa dan sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia dan dunia seni musik Indonesia, bahwa ada seorang seniman musik dari Bogor yang mampu mengharumkan nama Indonesia dalam sebuah kompetisi internasional. Sayangnya perhatian dan apresiasi masyarakat pada umumnya dan pemerintah pada khususnya masih sangat minim dan kurang peduli terhadap keberadaan music gambus ini.

Setahun sebelumnya, pada bulan Januari 2019 Fahad bin Munif juga telah mengharumkan nama Indonesia dengan mengikuti Festival Internasional Janadriyah yang ke 33 di Kerajaan Saudi Arabia.  Pada acara itu, Indonesia menjadi tamu kehormatan, yang diwakili oleh Fahad bin Munif, yang tampil terakhir untuk menutup acara festival tersebut dan mendapatkan sambutan yang luar biasa.

Dubes RI untuk Kerajaan Saudi Arabia, Agus Maftuh Abugebriel menyebut dan menegaskan mengenai peran seni musik, khususnya musik gambus sebagai bagian dari media diplomasi budaya dan menjadi sebuah ikon kebersamaan, semangat keakraban dan kehangatan antara Arab Saudi dan Indonesia.

Fahad bin Munif

Nama lengkapnya adalah Fahad bin Abdullah bin Said bin Munif.  Dilahirkan pada tanggal 6 September 1981 di Madinah. Pada umur 12 tahun ia pindah ke Empang, Bogor.

Keluarga dan orang tua Fahad bukanlah musisi, tetapi ayahnya adalah orang yang gemar mendengarkan musik dan sering mengumpulkan musisi-musisi di rumahnya. Pengalaman ini sangat membekas di hati Fahad.

Pada awalnya orang tua Fahad tidak melarang anaknya bermain musik, asalkan bukan untuk dikomersilkan dan tidak melupakan kewajibannya untuk kuliah. Ia sempat kuliah di Universitas Gunadarma, Jurusan Informatika, tapi dengan seringnya panggilan pentas gambus mengharuskan ia keliling Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura, menyebabkan kuliahnya terbengkalai. Pada akhirnya orang tuanya, bisa menerima kenyataan tersebut, setelah melihat perkembangan kemampuan dan prestasi anaknya itu.  

Sebagai orang yang dilahirkan di Madinah, ia memiliki dasar bahasa Arab yang kuat yang sangat membantunya dalam bermain Oud, di mana sering kali ia harus melantunkan lagu dan syair-syair dalam bahasa Arab.

Fahad belajar bermain Oud dari beberapa pemain Oud pendahulunya. Satu gurunya yang masih diingat adalah allahyarhamuh Brik bin Imron, seorang seniman Oud senior dari Gorontalo.  Didukung oleh minat yang tinggi dan ketekunannya belajar secara otodidak, akhirnya ia berhasil mengembangkan kemampuannya dalam memetik dawai oud dengan ciri khasnya sendiri.

Fahad sempat mendirikan beberapa group band musik dengan sahabat-sahabatnya. Awalnya bersama Drum Band Al-Irsyad, yang saat itu sangat didukung oleh pengurus Al-Irsyad. Group band yang sempat dibentuknya bukan hanya beraliran gambus, tetapi juga classic, rock & roll.

Fahad sangat mengidolakan Ahmad Fathi, Abadi Johar dan pastinya sang legenda, Abu Bakar Salim Balfagih, sebagai pemusik gambus. Fahad merasa nyaman memainkan Oud yang dibuat oleh seniman Nizar Bawazier.  

Saat ini perkembangan musik gambus termasuk seni bermain Oud di Indonesia, sudah semakin jarang dan terancam eksistensinya. Hal ini bisa difahami terutama dengan maraknya permainan organ tunggal yang lebih digemari dan digunakan dalam setiap acara kekerabatan. Dari segi biaya  organ tungal lebih murah, dibanding dengan pertunjukan Gambus lengkap dengan pemain pengiringnya seperti dumbuk, biola, suling tam-tam dan sebagainya. Fahad membenarkan hal ini.

Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya kesempatan dan media untuk belajar dan mengembangkan seni bermain Oud sudah semakin mudah dan simple, yaitu dengan adanya fasilitas tehnologi, seperti internet dan khususnya youtube. Kapan saja orang bisa mendengar dan belajar tehnik bermain Oud secara online, yang dulunya adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.

Fahad juga menyampaikan salah satu kendala dan tantangan dalam mengembangkan seni permainan Oud (gambus) adalah kurangnya inovasi dalam permainan dan juga dalam penyajian atau pengemasannya, sehingga sering kali seni musik tersebut terdengar dan diterima masyarakat sebagai hal yang monoton, lagu yang sama dengan tehnik yang sama.

Fahad lebih lanjut menyebutkan bahwa kendala lain dalam pengembangan dan perkembangan seni musik gambus (Oud) di Indonesia adalah tidak adanya komunikasi atau sebuah persatuan dari seluruh seniman gambus di Indonesia, yang seharusnya bisa menjadi media komunikasi dan sharing informasi antara pemain gambus dan Oud di Indonesia. Hal ini juga dikarenakan keberadaan musik gambus selama ini dipandang sebelah mata dan kurang mendapatkan tempat dan perhatian dari pemerintah di bandingkan dengan seni musik daerah lainnya. Padahal selama ini pengaruh dan peran musik gambus sangat luar biasa dalam sejarah seni musik Indonesia.

Fahad sendiri telah banyak mengharumkan nama Indonesia dalam beberapa acara internasional di luar negeri mewakili Indonesia. Pada awal karirnya ia bermain di kawasan Asia, terutama Malaysia dan Singapore untuk menghibur masyarakat di sana, bahkan ia sempat diundang bermain di hadapan Raja Agung Malaysia, undangan kehormatan Kerajaan Saudi Arabia dan Qatar, hingga menjadi tamu undangan khusus dalam Pertemuan OPEC di Abu Dhabi, UEA, di mana ia datang atas undangan Dubes RI untuk United Arab Emirat, Husein Bageis.  Di samping tentunya masih banyak pementasan-pementasan lainnya.

Dapat dikatakan Fahad bin Munif adalah Duta Seni Musik Indonesia untuk dunia. Ia bermain bukan mewakili suatu kelompok dan golongan, tetapi ia bermain atas nama Indonesia dan seni-budaya Indonesia. Sudah sepatutnya kita berikan apresiasi dan penghormatan bagi prestasinya itu.

Fahad mampu memainkan alat musik Oud dengan tehnik dan kemampuan yang bisa disejajarkan dengan seniman dan musisi Oud dunia, tetapi tetap dengan gaya dan warna serta rasa yang otentik dan orisinal, dengan karakter seorang Fahad, dengan rasa Indonesia. Selain itu, selain wajahnya yang ganteng dan tenang, dia mempunyai etika yang baik dalam setiap pementasannya, yakni tidak merokok dan selalu merespon permintaan lagu dari khalayak dengan baik.

Salah satu impian Fahad yang sempat dikatakannya, adalah keinginan menciptakan generasi-generasi pemain Oud dari Indonesia dengan taste dan signature lokal Indonesia, tetapi dengan kemampuan kelas dunia. Ia berencana membuat sanggar pelatihan dan kursus tehnik bermain oud bagi generasi muda.  Akan tetapi Tuhan berkehendak lain, pada Sabtu 8 Agustus 2020, Fahad Munif  telah wafat meninggalkan kita lebih dulu, Adakah nanti yang dapat menggantikan posisinya itu?  Fahad seorang yang ramah, santun, dan bersikap tenang dalam permainannya telah meninggalkan kita dengan tiba-tiba. Dia telah meninggalkan kenangan bagi banyak penggemar music gambus, baik di Indonesia maupun di dunia. Selamat jalan Fahad Munif, semoga semangat, ketekunan, dan keberhasilan anda dapat menginspirasi generai muda pecinta musik gambus Indonesia.

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda