Aktualita

Mengenang Ajip Rosidi: Membaca dan Menulis Sampai Akhir (3)

Ajip Rosidi laksana sebuah teladan, bagaimana konsep iqra (baca!), sebagaimana ayat pertama yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w., diejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Berikut ini bagian ketiga dari tulisan Maman S. Mahayana di “Lembar-lembar Sastra dan Budaya” majalah Panjimas, yang kami muat kembali untuk mengenang sang pengarang yang berpulang pada 29 Juli 2020 lalu, dalam usia 82.

Di suatu tempat, entah di mana, di  dunia

seseorang menunggumu, berdo’a

seperti do’a yang biasa kauucapkan sehabis salat

(Ajip Rosidi, 1972, penggalan dari sajak “Pada Suatu Saat, di Dunia”)    

Di Luar Kegiatan Menulis

Meskipun kegiatan kesehariannya menulis – dan tentu juga membaca – Ajip tidak meninggalkan aktivitas lain, sejauh untuk memajukan sastra dan budaya. dan itu dilakukannya bergandengan dengan perjalanan kariernya sebagai sastrawan. Pada tahun 1954, dalam usia 16 tahun, ia dipercaya menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Dalam sejarah berdirinya lembaga itu (1950) sampai terakhir kali lembaga ini memberikan hadiah pada tahun 1960 – salah satu pemenangnya penulis antologi cerpen Sebuah Rumah buat Haritua – Ajip Rosidi satu-satunya anggota yang begitu muda. Ia juga tercatat sebagai anggota pengurus pleno yang terpilih dalam kongres tahun 1960.

Masih dalam usia muda, 18 tahun, tepatnya tahun 1956, Ajip Rosidi dipercaya pula menjadi anggota pengurus pleno Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), sebuah lembaga yang berusaha memajukan bahasa dan sastra Sunda, dididirikan tahun 1952. Sejak tahun 1957 sampai 1993, lembaga ini memberikan hadiah tahunan kepada karya sastra berbahasa Sunda. Dalam setiap lima tahun, LBSS menyelenggaakan kongresnya. Ajip sendiri belakangan terpilih untuk dewan pembina lembaga itu (1993) dan kemudian mengundurkan diri tahun 1996.

Pada dasawarsa 1960-an, Ajip bersama beberapa temannya mendirikan penerbitan sendiri, seperti Kiwari (1962), Duta Rakyat (1965), dan Kiblat Buku Utama (2000) di Bandung, Tjupumanik (1964) di Jatiwangi, Pustaka Jaya (1971), Girimukti Pasaka (1980) di Jakarta. Selain itu, ia juga tercatat pernah dua kali menjadi ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada 1973-1976 dan 1976-1979. Menjadi angota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak awal berdirinya tahun 1968 dan kemudian terpilih menjadi ketua DKJ periode 1072-1981. Beberapa organisasi lain yang pernah dibidaninya antara lain Paguyuban Pengarang Sinda (PPSS), tempat ia pernah menjadi ketuanya (1966-1975). Ia juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan PDS HB Jassin (1977). (Lembaga lain tempat Ajip berkiprah adalah Akademi Jakarta, yang keanggotaannya seumur hidup itu, red).

Sastra dan Budaya Daerah    

Perhatian Ajip Rosidi kepada kesusastraan dan kebudayaan, termasuk sastra dan budaya daerah, tidak hanya tercermin dalam sejumlah tulisannya sebagaimana yang dapat kita cermati dalam Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995), sebuah buku yang menghimpun berbagai artikel dan makalah yang ditulisnya antara 1964 dan 1987, tetapi juga tampak dari tindakannya yang konkret untuk memajukan bidang itu. Pada tahun 1970, misalnya, ia mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda. Hasil penelitiannya dipublikasikan secara luas. Kemudian, pada 1989, ia secara pribadi memberikan hadiah sastra tahunan untuk karya sastra berbahasa Sunda untuk buku yang terbit tahun sebelumnya. Setelah berlangsung selama lima tahun, dan pemberian hadiah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage (kini dipimpin Erry Riyana Hardjapamekas, red)  pemberian hadiah diperluas kepada karya sastra berbahasa Jawa (1994), sastra Bali (1998), [sastra Lampung (2008), sastra Batak (2015) dan sastra Banjar (2016), red].

Berkat perhatiannya yang begitu besar kepada sastra dan budaya, pada tahun 1993 Ajip Rosidi memperoleh penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia berupa Hadiah Seni. Pada tahun 1999, ia juga dianugerahi penghargaan Kun Santo Zui Ho Sho (The Orde of Sacred Treasure Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan persahabatan Indonesia-Jepang. Sebuah penghormatan yang diberikan pemerintah Jepang hanya kepada orang-orang tertentu yang dipandang benar-benar berjasa dan pantas memperoleh penghargaan itu.

Teladan Konsep Iqra

Ajip Rosidi, bagi kita, laksana sebuah teladan, bagaimana konsep iqra (baca!), sebagaimana ayat pertama yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w., diejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Membaca, bagi tokoh yang selalu bangun pukul empat pagi, dan punya kebiasaan puasa Senin-Kamis ini, adalah kebutuhan rohani, dan menulis merupakan bentuk implementasi dari yang telah dibaca. Menulis juga tidak lain kesaksian atas kehidupan manusia dan kemanusiaan. Maka, ketika ia merasa agak mandek membaca dan mulai gagap menulis, ia akan diterjang kegelisahan luar biasa.

Bahwa Ajip Rosidi berhasil mencapai karier dan penghargaan yang begitu prestisius dan membuat bangga, itu tidak lain merupakan buah dari pohon pengetahuan yang ditanamnya sejak sekolah dasar. Oleh karena itu, meski secara formal Ajip tidak tamat SMA, ia menggali dan melahap semuanya sendiri melalui bacaan yang berlimpah. Di perpustakaan dan lembaran-lembaran bukulah sesungguhnya pengetahuan dan wawasan tersimpan. Persoalannya tinggal sanggupkah kita menggali dan melahapnya, sebagaimana yang telah dilakukan seorang Ajip Rosidi.

“Selamat ulang tahun (ke-65, red), Mang Ajip. Tahniah. Selamat membaca dan menulis.” (Selamat jalan Pak Ajip, semoga husnul khatimah, red).     

Penulis: Dr. Maman S. Mahayana, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Februari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda