Aktualita

Mengenang Ajip Rosidi: Membaca dan Menulis Sampai Akhir (1)

Written by Panji Masyarakat

Sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi telah berpulang  pada 29 Juli 2020 di Magelang, Jawa Tengah. Dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya anggota Akademi Jakarta ini memang lebih banyak tinggal di Desa Pabelan, Mungkid, tak jauh dari Pondok Pesantren Pabelan. Dia memang punya hubungan kekerabatan dengan keluarga Pabelan  karena salah satu putrinya menikah dengan KH Ahmad Mustofa, pengasuh pesantren yang kini berusia 55 tahun itu. Dan Ajip wafat dalam proses penulisan dua karyanya, sebuah roman dan sajak tentang Rasulullah. “Membaca dan Menulis Sampai Akhir” adalah judul tulisan Dr. Maman S. Mahayana yang dimuat di Majalah Panjimas pada  tahun 2003, untuk menyambut ulang tahun Ajip yang ke-65.       

Mungkinkah seorang yang tak lulus SMA dapat menjadi guru besar? Di Indonesia, yang segala sesuatunya harus berurusan dengan aturan birokrasi, pemberian gelar kehormatan, seperti doktor honoris causa, misalnya, barangkali akan menimbulkan masalah. Itulah yang terjadi pada diri Ajip Rosidi. Ia konon tak dapat memperoleh gelar itu lantaran pendidikannya tak sampai sarjana.  (Pada 2011 Ajip akhirnya memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Dr. HC dari Universitas Padjadjaran, Bandung, atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan. Ia menyampaikan pidato ilmiahnya dalam bahasa Sunda, dengan topik yang mengejutkan kalangan akademisi dan orang-orang Sunda bahwa Prabu  Siliwangi hanya sebuah mitos alias karangan belaka, red).

Ajip Rosidi memang tak tamat SMA. Tetapi berkat hasil bacaan yang sangat luas dan karya-karyanya yang berlimpah, pada tahun 1967 sampai 1970 ia dipandang pantas untuk menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, Bandung. Kemudian pada tahun 1981, berkat peranannya dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan, Ajip Rosidi diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka  Gaikokogu Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Sejak itu ia juga ditugasi mengajar di Tenri Daigaku (1982-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996).

Bagi komunitas dan pemerhati sastra dan kebudayaan Indonesia, nama Ajip Rosidi niscaya tidak terlalu asing. Meskipun demikian, dalam perjalanan kesusastraan Indonesia, namanya barangkali tidak terlalu fenomenal dibandingkan nama-nama Abdul Muis, Amir Hamzah, Chairil Anwar, atau Sutardji Calzoum Bachri. Tentu saja hal itu tidak berarti kiprahnya dalam kesusastraan Indonesia tidak penting. Justru lantaran wilayah keusasatraan yang dimasuki Ajip Rosidi meliputi semua ragam sastra, di dalamnya termasuk sastra daerah, peranannya dalam dunia sastra, di dalamnya termasuk sastra daerah, peranannya dalam dunia sastra dan kebudayaan secara umum — berada dalam berbagai tempat. Bagi sastrawan seangkatannya, ia dikenal sebagai tokoh yang sebagian besar hidupnya diabadikan untuk kepentingan sastra dan budaya.

Dalam hal itu ketokohan Ajip Rosidi telah menempati kedudukan yang khas. Di situ pula kontribusinya punya makna penting. Oleh karena itu, menempatkan nama Ajip Rosidi dalam peta konstelasi kesusastraan Indonesia mesti dalam perspektif yang lebih komprehensif. Bagaimanapun juga, Ajip telah meretas jalannya sendiri. Perannya dalam membangun kesusastraan Indonesia sungguh tak dapat diabadikan begitu saja. Apalagi jika kita menghubungkaitkannya dengan latar pendidikannya yang lebih banyak dijalani dengan otodidak. Lewat cara itulah ia telah menanamkan sebuah teladan, betapa hidup secara total dalam dunia kesenian (kesusastraan) dapat pula mengantarkan seseorang ke puncak karir yang membuat bangga. Totalitas dan semangat belajar sampai akhir hayat, barangkali itu juga kunci keberhasilannya.

Ajip Rosidi lahir di Jatiwangi, Majalengka, 31 Januari 1938. Sebagai anak guru Sekolah Rakyat, sejak kelas satu SR Ajip sudah pandai membaca. Buku koleksi ayahnya tentang cerita-cerita rakyat, baik yang berbahasa Sunda maupun Indonesia, sudah menjadi bagian dari kegiatan kesehariannya. Tidak puas dengan buku-buku koleksi Ayah atau buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahnya, Ajip memburu buku ke tempat lain. Mendengar bahwa di rumah almarhum Dalem Obaso yang tinggal di Kadipaten, sekitar 15 kilometer  dari Jatiwangi, tersedia sejumlah buku dan majalah milik mantan menak Sunda itu, Ajip bersama teman-temannya datang ke sana dan berasyik-masyuk melahap buku-buku lama yang kebanyakan berbahasa Sunda itu. kadangkala, Ajip mampir ke toko buku satu-satunya yang ada di kota kecamatan itu untuk membeli buku atau sekadar melihat-lihat. Itulah awal persahabatan dan kecintaanya pada dunia buku. Tanpa disadarinya, dari sanalah sesungguhnya perjalanan karir Ajip Rosidi dimulai.

Itulah sebabnya dibandingkan dengan sastrawan seangkatan—yang disebutnya Angkatan Sastrawan Terbaru — yang memulai karirnya pada 1950-an, Ajip Rosidi tergolong yang paling muda. Bahkan terlalu muda jika dilihat dimulainya usia kepengarangannya. Dalam usia 12 tahun, saat Ajip duduk di kelas 6 Sekolah Dasar di Jatiwangi, tahun 1950, beberapa kali tulisannya dimuat dalam rubrik anak-anak surat kabar Indonesia Raya, sebuah media cetak nasional yang berwibawa waktu itu, dengan salah seorang redakturnya Mochtar Lubis. Bersambung     

Penulis: Dr. Maman S. Mahayana, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Februari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda